Bismillah dan Pemilu Raya
Kalau hidup adalah menyesali, mencurigai, tidak mau rendah hati satu sama lain, mau menang sendiri, bersombong-sombong diri, rumongso biso bukan biso rumongso, pongah dst.. (kalau di lanjutkan khawatir kalau-kalau Server blogger jebol, karena kelebihan kapasitas postingan he he).... kenapa begitu banyak hal-hal didunia, negara, masyarakat, bahkan dirumah sendiri, yang tidak sesuai dengan yang kita maui ? — maka kita menjadi Neraka bagi siapapun.
The win-win solution is.... mengambil Ilmu Allah yang mengajarkan bahwasanya segala sesuatu harus di mulai dengan bismillah. Kelihatan udah biasa ya? bentar dulu.. Jika kita mau meningkatkan dimensi fikiran manusia satu tingkat di atasnya yang bernama ke'arifan, maka kalo boleh saya menafsirkan seperti ini.
Para Ahli Tasawuf menafsirkan bahwasanya Allah ber-dialektika dengan Makhluknya (dalam konteks ini Manusia), Maka Dia memperkenalkan Diri-Nya dengan Sifat-sifat Nya (asma'ul Husna) yang berjumlah 99. Shortcut atau Icon pertama yang di Tampak-kan pertama kali ialah Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang persis termuat dalam bacaan bismallah. Adapun Sifat-sifat-Nya yang lain, 'hanya akan di tampak-kan-Nya ketika Manusia sudah mendapat level kesadaran satu tingkat di atasnya yaitu ketika hambaNya menjalani teater agung Kehidupan Semesta raya.
Singkatnya, Jikalau saya diperkenankan berkesimpulan, memberi asumsi, tanggapan, pangentho-entho, mengira-ngira, dst..(ini di anggap sebagai curhatan batin saya juga bisa, yang mengharuskan Panjenengan semua pura-pura tidak pernah membaca tulisan ini) adalah bahwa kita Manusia harus mau, memulai semua dialektika hubungan sosial dengan manusia lain, berpijak pada Cinta yang Meluas (Ar-Rahman) dan Cinta yang Mendalam (Ar-Rahim) dengan dosis, resonansi, tingkat presisi, ketepatan Koordinat, Empan-papan, melihat situasi dan kondisi. Juga dengan Takaran yang se-Sholeh mungkin. Artinya memperhitungkan tingkat efeksamping yang bernama mudharat se-minimal mungkin.
Sebenarnya saya mau-mau saja menjelaskan lebih detil yang sedikit saya fahami dari bacaan bismillah ini tadi. Cuman ya gmana lagi saya sudah di tunggu sama panitia Pemilihan Rektor untuk memberikan hak suara demi Kebangkitan Kampus UNMER tercinta. namun sayang, yah...Kalau saya boleh memilih untuk tidak hadir dan di ijinkan oleh Gusti Allah --misalnya--, saya langsung sujud syukur di tempat itu juga pada waktu itu. Tapi ya gimana lagi.., dalam Ajaran yang dibawa Rosulllah yang bernama Al-Qur'an termaktub di QS. Hujurat (maaf agak niru "kiai" dikit..), sistem demokrasi yang ada sekarang ini sudah sangat jauh dari kemurnianaya. karena sudah terkontanimasi dengan najis-najis nafsu para pelaku demokrasi itu sendiri. saling menjegal satu sama lain, money politic, kecurangan-kecurangan saat dilakukan pesta demokrasi menambah tingkat ke-mudharatan yang sudah tak terkira lagi beban dosa nya.
Namun apesnya, ocehan yang 'tidak' berdasar saya ini untuk realitas sekarang sudah tidak relevan lagi. Orang indonesia kan Pro-Demokrasi. jadi ruwet kan? Apalagi saya yang "tulul" ini masih sangat sedikit ilmu-nya unutk bisa memberikan sumbangsih terhadap penyimpangan-penyimpangan ini.
Ya sudahlah.. lebih baik saya tetap ke gelaran acara Pemilu Raya kampus saya tercinta ini. Minimal, memenuhi Kewajiban sebagai warga Civitas akadimika yang baik untuk sekedar urun kemaslahatan bagi kemajuan kampus (semoga dikabulkan amin). Tapi satu yang pasti, minimal saya nantinya juga tidak akan sampai menyakiti hati si mas penjual bakso yang sedari tadi menunggu peserta pemilu raya untuk memberikan sedekah nya berupa tiga buah pentol bagi sesiapa yang ikut pesta demokrasi Kampus Merdeka. [ ]
Iklan ada di sini


Komentar