Definisi Kebahagiaan
oleh mnhjkc
Suasana malam syahdu berselimut langit teduh PonPes Syafa'atul Qur'an Tajianan kala itu, mengajarkan saya sesuatu hal yang paling mendasar dalam hidup. Saya percaya bahwa Ilmu itu berasal dari Allah. Bukan berarti Dia langsung "turun tangan" sendiri, melainkan memberdayakan para Malaikat beserta ajudanya untuk hadir kemudian menyampaikan Pengajaran lewat Anak-anak PonPes.
Bagus namanya. Bocah periang yang sangat aktif, cerdas, polos, menggemaskan, dan punya rasa Keingin tahuan atas semua hal yang tinggi ( jadi ingat waktu saya kecil dulu he he). dia lah yang diperjalankan oleh Allah untuk secara eksplisit menyampaikan ihwal apa "Definisi Kebahagiaan".
Dengan Permen di mulut dan bebeberapa wafer coklat pemberian Ikhwan wa Akhwat UKMI Al-huda ditanganya, dia bersama teman-temanya sangat asyik bercengkrama, bersendau gurau, bermesraan satu sama lain. Seolah-olah dunia hanya milik mereka saja (setidaknya batin saya berkata seperti itu).
Sesederhana itu kah "kebahagiaan" itu? Semudah itu kah cara meraih salah satu nikmat dari Allah itu? jika benar demikian, lantas bagaimana dengan para Koruptor, para Kontraktor, juga Mafia pajak yang tak pernah puas (semoga saya salah) dengan uangnya yang berjuta-juta itu? betapa berlipat-lipat kah bila dibandingkan dengan yang dimiliki oleh Bagus dan teman-temanya tadi? bayangan saya kalau dengan uang sebanyak itu, cukup untuk beli permen dan wafer sebanyak isi masjid Al-Huda.
Di hadapkan dengan realitas seperti itu, saya menjadi tergerak untuk mencari, apa sih yang membuat hal ini bisa berbeda. Apakah memang Kebahagiaan mereka berbeda? apakah kalau Bagus tadi hanya cukup dengan Permen dan Wafer-nya, kalau para "penyayang uang" (kalau tidak boleh disebut Perampok) tadi berbeda? tapi ya ndak mungkin misalanya ada satu kata yaitu "kebahagiaan" punya definisi yang berbeda.
Setelah merenung beberapa waktu, bertanya, dan mencari ihwal masalah ini akhirnya saya lega karena mendapat jawaban. Semuanya tadi hanyalah masalah "Konsep Berfikir". Si Bagus dkk. dengan sifat Qana'ah nya (terlepas dari ketidak mengertian selainya) mampu me-reduksi segala kemungkinan sifat (maaf) "ketamakan" nafsu dalam dirinya. banding kan dengan para "penyayang Uang" tadi, mereka ndak mau mengambil sifat itu untuk membentengi dirinya dari jebakan syeitan yang Bernama "Hubbud dunya".
Makanya sangat logis jikalau dikatakan "Bersyukur" adalah cara Allah mengajari manusia (dengan perantara Rasulullah), supaya terhindar dari sifat "ketamakan" . Saya membayangkan jika semua manusia atau setidaknya Orang di Indonesia seperti itu, bukan hal yang mustahil Indonesia menjadi Negara yang Damai, Adil, Juga sejahtera. Gemah Ripah Loh Jinawi. Puncaknya "Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghafur".
@Pondok Pesanteren Syafa'atul Qur'an Sumbersuko Tajinan Malang.
Thanks Very Much pak Ketupel Baksos AkhinaMuhammad Isrofi dkk. yang paling repot, juga bersimbah peluh dan air mata Ukhti Veralis Vea &Daumars Almuazki . dan rekan-rekan di Unmer Ukmi Alhuda juga Keputrian UkmiAlhuda yang berkenan ikut menebar cinta kesana. dan tak lupa, senggol yang kemarin belum bisa ikut Rahmawati L, semoga lain kali di perkenankan Allah untuk ikut dalam kesempatan yang tak kan di temui di seluruh alam Raya.
smile emotikondari sahabat Penghutang jasa :
M. NurHadi (Abdi UKMI"13)
Iklan ada di sini

Komentar