Menghikmah-i menjadi "Abdi Dalem" UKMI


oleh mnhjkc



Persis di hari kamis (18/06/2015) bertepatan dengan awal Ramadhan 1436 H* kemarin, UKMI “gadah damel” (baca : ada acara). Agenda tahunan UKMI yang wajib di gelar untuk mencari “abdi dalem” (kalo ndak boleh disebut Ketua Umum) sebagai mandataris penerus estafet perjuangan ngopeni (memelihara) “Sentono Arum”-nya. Dalam artian, yang bertugas meng-koordinir rekan-rekanya, menemani ngaji, juga membuat regulasi-regulasi yang mungkin di butuhkan, agar sentono arum UKMI semakin Ramai di datang-i para santri, membuat gelombang anak muda yang istiqomah pencari Ridho Ilahi, terlebih akan bisa menjadi “Mercusuar Peradaban” minimal bagi kampusnya yaitu Unmer Malang.

Jujur, saya tersentak ketika setelah kemudian mengetahui bahwa diantara calon-calon yang ada (semua angkatan 2013), saya termasuk salah satu dari tiga calon yang terpilih. Akhina Subhan, Akhina Isrofi, dan yang terakhir saya sendiri, di dapuk menjadi kandidat calon abdi dalem UKMI periode 2015/2016. Jika saya tidak berlebihan dan boleh jujur, ini adalah hal yang sangat paradoks (bertentangan) dengan batin saya. Satu setengah tahun yang lalu saya masih ingat betul, alasan utama saya datang ke UKMI adalah misi pencarian “Jati diri” (itu yang kurang jujur, padahal aslinya nyari tempat untuk numpang mandi he he). Saya yang gelisah dengan hampir hilang nya gelar santri saya, semakin jauhnya realitas hidup dengan keinginan hati, puncaknya ketika saya sadar telah gagal menjadi manusia, berkeyakinan bahwa UKMI adalah “Kawah Candra Dimuka” (baca : tempat menempa para kestria) nya Gatutkaca. Yang kemudian bisa mengembalikan saya sebagaimana lazim nya manusia.

Belum sempat terjawab ke-galau-an saya oleh hal yang paradoks tadi, Allah membuat sebuah anomali (keanehan). Tanpa disangka-sangka --min khaitsu la yahtsib-- dimana forum Muktamar UKMI ke-26 melalui mekanisme yang ada pada akhirnya menetapkan saya yang di dapuk menjadi “abdi dalem” UKMI satu periode kedepan. Bagai di sambar petir di siang bolong yang terik (lebay beud he he), rasanya sangat sulit menerima semua itu. Apalagi waktu saya ingat kira-kira beberapa malam kemarin terakhir saya belajar ngaji pada Akhi Subhan, lidah saya masih kelu dan susah untuk melantunkan ayat Allah yang mulia itu secara baik, benar, juga indah. Lalu, bagaimana dengan Sentono Arum UKMI yang harus saya “openi”? Bagaimana saya bisa menemani ngaji, jikalau saya sendiri belum begitu fasih dengan bacaan kalam Ilahi itu sendiri? Dan masih banyak pertanyaan yang setidaknya menawan saya pada waktu itu. Belum lagi jika dikaitkan dengan “ganjalan” yang kemungkinan ada dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa.

Namun beruntung pada saat yang sama saya sedang belajar juga menjadi orang yang Pragmatis. Seorang yang Taktis-Strategis menyikapi luasnya resonansi kemungkinan hidup dari yang Maha Luas. Karena itu, pada saat mekanisme pemilihan abdi dalem itu, saya mengambil dua keputusan, pertama tak akan mencampuri, tidak egois (ikut saja dengan forum). Kedua, saya meng-G R-kan diri saya sendiri bahwasanya semua yang akan terjadi adalah mutlak Hak preogatif Allah atas saya sebagai Hamba dan ber-Hushudzon kepada-Nya semua yang terbaik bagi semua. Jika Dia benar menyuruh saya untuk menjadi ini tadi, pasti nya Dia juga akan sangat bertanggung jawab untuk memberi Ilmu, Ghirah, juga Kemampuan untuk mengemban Amanah ini. Saya akan menjadikan ini bukan sebagai tugas mandiri, melainkan Tugas “Kolektif” dengan sesama rekan Abdi UKMI yang lain. Layaknya dalam kita shalat berjamaah, harus ada yang mengalah untuk menjadi Imam. Sebagai syarat wajib untuk kita berjamaah, maka mau tidak mau yang “dipilih” melalui mekanisme yang di sepakati harus maju menjalaninya meskipun dengan keberatan hati yang menyertainya.

Meskipun begitu dalam realitasnya fikiran saya masih menyimpan “rembesan-rembesan” kecil, menyuarakan beberapa ketidak setujuanya. Timbul pertanyaan, Kog yang menjadi pilihan Allah bukan Akhina Subhan –misalnya--, Yang sudah jelas Kapasitas Keislaman-nya. Seorang Hafidz Qur’an yang setahu saya Fasih juga sangat merdu suaranya saat membacakan Ayat-Ayat Allah . Seoarang yang rendah hati, tawadu’, bisa “ngemong” (mendidik) orang dengan sangat baik. Karena alasan itu lah saya meminta “sodaqah” dari beliau untuk berbagi salah satu dari banyak hal yang dimilikinya yaitu belajar “Alfitahah” Versi untuk Imam dengan kelengkapan artibutnya ( Makhroj, Tajwid, penekanan Huruf, dst..). Karena kalau boleh jujur, semenjak saya pertama kali mendengar alunan bacaan “alfatihah” beliau, Bersamaan dengan itu pula saya menyadari bertambahnya rasa cinta saya kepada Allah melalui Keindahan Kalam-Nya melalui akhina Subhan.

Lebih jauh, Ada akhina Isrofi yang menurut saya paling ideal dalam hal kapasitas dan kemampuanya mengemban amanah dari langit itu. Beliau ini seorang Pendakwah sejati dibuktikan dengan kiprahnya sejak di SMA dulu yang aktif di Himpunan Pemuda Muslim Dewata. Dari sekian banyak pengalaman yang dimilikinya sangatlah memungkinkan untuk memimpin rekan-rekanya mencapai titik tertinggi pencapian visi dari UKMI itu sendiri. Apalagi saya sedikit banyak mengetahui ihwal sumbangsihnya di OMEK (beliau ikut HMI), yang sangat signifikan dalam hal pelurusan kembali akidah para rekan-rekanya yang berhimpun disana akibat salah mengartikan (semoga saya salah) Visi Organisasinya yang bermuatan “Akademis” yang kebablasan aspek kognitif dan Intelektual, kemudian lupa dan sedikit “ngeyel” kepada Esensi Agama. Selebihnya Beliau seorang yang baik --dengan bersedia “bohong” kepada rekanya yang lain bahwa saya yang lebih pantas memimpin-- , seorang periang dan murah senyum, dermawan (sering di bawakan Bakso nuklirnya he he), juga seorang yang akan sangat besar kemungkinannya untuk jadi Orang hebat karena Impian-impian besar serta totalitasnya dalam melakukan apa yang menjadi keinginanya.

Dalam batin saya, kog Allah ya seneng banget menggoda-goda saya dengan hal yang sifatnya Paradoksal seperti itu. Saya yang hampir dikatakan belum jelas apa kelebihanya ini, justru di paksa untuk memimpin orang yang kemampuanya jauh melibihi dengan saya yang memimpin. Bukan lantas saya merendahkan diri saya dengan mengatakan hal-hal semacam ini, benar bahwasanya setiap manusia mempunyai kelebihan masing-masing begitupun juga dengan saya. Namun menyangkut konteks menjadi Ketua Umum ini bukan lah sesuatu yang “empan Papan” –jawa-- (tepat pada koordinatnya).

Ini bisa menjadi ratusan buku (masa bodo he he) bila menuruti semua yang menjadi pertanyaan-pertanyaan di benak saya. Saya tidak mau meneruskan ke-ngeyel-an atas apa yang disebut takdir Allah ini. Lebih baik saya menerimanya lantas mampu menghikmah-inya untuk dijadikan kemaslahatan bagi semuanya. Akhi subhan mungkin akan lebih baik jikalau belum dulu menjadi yang terpilih. Mengingat Beliau masih harus memikirkan bagaimana keadaan Umi-nya di rumah yang sendirian agar tidak merasa kesepian, disamping urusan kuliah yang semakin sulit seiring bertambahnya semester ke semester. Jikalau mungkin di paksakan akan sangat mengganggu apa yang menjadi Fokus-nya. Sama halnya dengan akhina Isrofi, Semoga Allah mentransformasikan waktu , enerji, pikiran dan seluruh potensialitas hidup beliau-beliau ini — tidak melalui jalan di mana di dapuk sebagai “abdi dalem” UKMI, melainkan diperjalankan untuk mendaya gunakan segala kelebihan-kelebihannya tadi, berbarengan dengan “amanah” yang di titipi rekan-rekan kita kemarin, sebagai sarana membangun UKMI ini secara hakiki.
Inni Kuntu minadz dzolimin.
Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim