Mukadimah DIMENSI3 " TAHUN {pemba} HARU "
oleh Team DIMENSI
Perjalanan sang waktu merupakan perjalanan yang terus bergulir. Ia hanya berganti dari satu titik menuju titik yang lain. Detik detik berlalu begitu cepat padahal hitungan detik tetaplah sama. Siang berganti malam, malam berganti siang juga dengan hitungan yang sama. Begitu seterusnya, dan waktu terus berjalan tanpa ada yang mampu menghentikannya selain Allah yang Maha Kuasa Sang Pencipta Semesta Raya.
Perputaran bumi mengelilingi matahari semakin mendekati hitungan 365 hari, itu artinya hitungan waktu dalam satu tahun akan tercukupi. Dengan demikian tahun baru akan segera menghampiri, sementara apa yang telah terjadi tidak akan pernah dapat terulang kembali, karena hakikinya waktu yang telah dan akan dilalui hanya terjadi satu kali sepanjang hayat dalam hidup dan kehidupan ini.
Yang ada adalah membuka babak baru dengan pijakan waktu yang telah lewat, untuk menata dan menggapai harapan di masa mendatang. Menyusuri kehidupan yang kita alami ada yang dilalui dengan manis, menyenangkan, membahagiakan, sesuai dengan keinginan, dan ada pula hidup ini terasa pahit, menyedihkan, penuh nestapa seakan banyak onak dan duri yang tidak pernah diinginkan selalu dialami.. Keadaan dalam hidup yang dirasa tidak menyenangkan dan terasa semakin sulit bukan untuk diratapi, musibah yang menimpa bukan untuk ditangisi, bukan untuk disesali dan bukan pula untuk digunakan menyalahkan takdir Ilahi. Dalam kondisi semacam ini keberadaan kita sebagai seorang muslim dipertaruhkan. Keimanan, kesabaran, ketabahan, kegigihan dalam berjuang dan mempertahankan hidup, kesungguhan dalam berusaha menjadi ujian tersendiri.
Hanya dengan bekal ilmu, iman dan amal shaleh-lah manusia akan dapat keluar dari kesulitan yang dihadapi. Merayakan datangnya tahun baru “Masehi” yang tidak lama lagi akan segera datang sebenarnya bukanlah berasal dari ajaran Islam. Melainkan bagian dari kelanjutan ajaran saudara-saudara kita yang sedang merayakan hari Natal (begitu kata sebagian pendapat). Namun tanpa disadari, ternyata tidak sedikit diantara kita umat islam yang ikut merayakan datangnya tahun baru tersebut, meskipun ia tidak merayakan Natal. Fenomena yang terjadi dalam menghadapi pergantian tahun hampir di seluruh pelosok, dari yang ada di desa-desa, kota-kota kecil, kota-kota besar bahkan di segenap penjuru negeri, tak terkecuali hampir di seluruh penjuru dunia turut merayakan tahun baru dengan penuh hura-hura, harta dihambur-hamburkan dan dikorbankan hanya untuk menyongsong detik-detik pergantian tahun. Pada pertengahan malam, yang biasanya hening, ketenangan malam yang biasanya dirasa penuh kesunyian, tiba-tiba saat jelang pergantian tahun suasana menjadi berubah; tiupan terompet, bunyi sirine meraung-raung, suara knalpot kendaraan bermotor sengaja menderu-deru, dentuman petasan, nyala kembang api, alunan musik dari bermacam-macam aliran musik mengubah suasana hening sekejap menjadi riang gembira dan penuh keriuhan. Tua muda, besar kecil, pria maupun wanita, orang biasa maupun orang yang berpunya tampak ikut bersuka ria menunggu pergantian tahun. Tampak pula muda mudi berpasang-pasangan entah muhrim atau bukan muhrim, dengan beragam cara berpakaian, mereka hingga larut malam berada di luar rumah. Bahkan bisa jadi mereka sampai di ujung pagi.
Tempat-tempat hiburan penuh sesak dikunjungi oleh manusia. Lalu berdasarkan pengalaman tahun-tahun yang lalu, di siang harinya sering kita mendengar berita dampak buruk dari perayaan datangnya tahun baru, yang ironis dengan harapan dan keinginan dari datangnya tahun baru tersebut. Tahun baru menelan korban; kecelakaan bermotor akibat kebut-kebutan terjadi, peluang untuk berbuat jahat semakin menjadi, harga diri semakin tak berarti, bahkan keamanan dan keselamatan muda-mudi yang pulang pagi pun belum pasti. Kebanyakan mereka itu adalah anak-anak muda yang masih butuh perhatian dan bimbingan dari orang tuanya. Bagaimana dengan kita sebagai saudara – saudara mereka melihat itu semua?!?
Sudah sepantasnya merayakan tahun baru itu dengan sesuatu yang lebih bermakna dan lebih mendatangkan manfaat untuk kehidupan kita sekarang dan yang akan datang, dengan memperbaiki kesalahan dan kekurangan pada tahun-tahun yang telah kita lewati. Lalu bagaimana sebaiknya kita bersikap.? Sikap yang bijak adalah kita tidak ikut larut dalam hingar bingarnya pergantian tahun, namun kita tetap sadar bahwa tahun itu pasti berganti dan mari kita isi dengan ber-muhasabah diri.
Terkait dengan waktu sebaiknya kita renungkan kalimat berikut ini: “Waktu adalah kehidupan, jika digunakan untuk membaca (iqra’) ia akan menjadi sumber kebijaksanaan. Jika digunakan untuk bekerja ia akan membawa keberhasilan. Jika digunakan untuk beramal maka ia akan mengantarkannya ke syurga. Gunakanlah waktu yang tersedia untuk kehidupan yang sebenarnya”. | (KH. Ali Masyhuri, Sidoarjo, Jatim).
Untuk memaknai dengan hal yang lebih dan sungguh baru, maka UKMI dengan DIMENSI-nya akan mengambil judul “ TAHUN (pemba) HARU “ sebagai Mukadimah gelaran ke-3 ini. Seperti biasanya, di Al-Huda Corner mulai pukul 15.00 (ba’da Ashar) hari Kamis tanggal 31 Des. 2015.
Di adaptasi dari “Euforia Tahun baru” | Drs. Musta’in, M.Ag
Oleh team Dimensi UKMI Al-Huda unmer Malang
Iklan ada di sini

Komentar