Berpuasa dagang ci(n)ta
Mencenungi menjemput cita-ci(n)ta mulia
MEMULAI dari awal mulanya awal. Bagaimana Proses terjadinya alam aya-raya yang berselaksa-laksa luasanya? Tuhan mengawali segalanya, dengan mencipta nur Muhammad sebagai ciptaan Tuhan yang pertama. Konon, Ia tercipta sekitar 16 miliyar tahun lalu. Dikarenakan saking cintanya Dia dengan ciptaannya ini, baru kemudian ‘berkarya’ mbikin jagad semesta. Kalau di ijinkan nglantur, kira-kira apa tujuan Dia mencipta sesuatu? Apakah mungkin, Dia membutuhkan kuli atau pekerja? Apakah Dia butuh teman sepermainan –misalnya— ? Apa justru Dia butuh ‘sesuatu’ untuk permainan saja ? Tentu jawabnya tiada yang tahu. Meskipun, menurut manusia paling tahu sejagad, kanjeng Nabi Muhammad bin Abdullah, dalam manual guide yang dititip padanya, Tuhan berkata. bahwa : tidak aku ciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk menyembahku. Namun lantas jangan dikira, Tuhan ‘butuh’ kita. Sama sekali Tidak benar. Keinginan sejati Dia, hanya Dia yang tahu. Kita hanya wajib ber-tauhid, bahwa, segala ciptaanNya, tidak ada yang sia-sia.
Berpegang ‘rumus’ diatas, kita explore lagi. Apa sebenarnya yang kita butuh, saat melakoni peran berkehidupan? Bagaiamana metodologi untuk pemenuhanya? Menurut teman saya di fak. Ekonomi juga di verifikasioleh Prof. Al-Ghazali –dari mengutip hasil research-nya beliau—, yang kita butuh adalah sandang, pangan dan papan. Tentu baik yang berifat wadag juga ruhiyah. Lalu, di tambah kebutuhan interaktif sesama manusia. Ini bukan hal ‘remeh’ yang sedikit jumlahnya. Ada banyak kebutuhan yang sudah selayaknya kita penuhi. Selanjutnya, bagaimana lagi? Bekerja. Petani, pedagang, guru/dosen, dst. Melakukan perniagaan-perniagaan silang-sengkarut tak berhingga, demi kebutuhan masing-masing.
Saya runut dari awal. Manusia hidup berinteraksi, bertumbuh jadi komunikasi, lantas bercabang trust atau kedekatan emosi, dst. Sampai menghasilkan buah yang bernama ‘berdagang’. –Bagi yang masih sulit memahami (entah karena gagapnya penjelasan saya), saya sarankan membaca buku ‘Manusia menurut Al-ghazali.
Sejatinya, Tuhan juga telah Berdagang juga dengan kita. Dia mencipta Dunia, bumi beserta isinya, untuk kita khalifahi sebaik-baiknya. Persis, imbalan yang di minta dari kita adalah ‘bertuhan’. Jelasnya, kita melakukan segala ritual ibadah, sebagai balasan kepada Dia. Jika diperjelas lagi, dalam Islam, Tuhan menyuruh hambanya untuk shalat, puasa, atau kegiatan muamalah kepada sesamannya, dst. Dikarenakan Dia telah memberi berlaksa-laksa kebaikan dan nikmat. Ini adalah ufuk interaksi emosianal lebih-lebih spiritual, yang terjadi antara Tuhan dan hamba.
Namun, coba kita merenung sejenak. Apa Dia pernah meminta lebih lagi dari kita, manusia, atas dasar berbalas budi ? rasanya, Tidak pernah. Justru Dia yang slalu saja, mengalah dengan hambanya. Mustahil, hamba bisa membalas laksa nikmatnya. Terlalu muluk itu. Jangankan membalas, jikalau saja sempat, kita coba benar-benar menderet hitung semua tebaran nikmatnya, niscaya pasti tak mampu. Sungguh begitu baiknya Dia dengan hamba terkasihnya.
Simulasi Berdagang
Bisakah ilmu itu tadi, kita simulasi kan untuk kita berkehidupan? Mungkin tidak mudah. Tetapi, bukan tidak mungkin. Kalau saja, bisa slalu bisa ‘menakar’ kepentingan-kepentingan masing-masing individu. Bukan malah berprinsip : mendapatkan sebanyak-banyaknya, dengan modal sekecil-kecilnya. Persis, dawuh Prof. Adam smith. bapak Ekonomi dunia –katanya—. Sampai-sampai kita rela obral, berhabis-habis waktu, tenaga, dan selainya. hingga slod out. Iya slod out. Terkadang masih ditambahi, kita masih memungut-mungut bauruan terbaru, yang seringkali ‘murni’ bukan milik kita. lazimnya dinamakan subhat.
Ada alternatif ‘cara berfikir’ dari tabayyun seorang teman. Selama 27 tahun, ia berkesimpulan : sebenarnya dagang itu sangat sederhana. Dagang adalah proses terkecil dari interaksi kebutuhan individu satu dengan yang lain. Begitu, bunyi hasil research beliau.Disambung dengan pengalaman, semasa dulu saya bekerja, bisa dijadikan lambaran diskusi.
Sekilas sharing pengalaman. Selepas tamat sekolah kejuruan, sebagai pemuda nanggung, bertekad dan berniat, mencari kegiatan. Syukur-syukur, buah keahlian saya sebagai drafter di bidang per kontraktoran –boleh di sebut seorang Arsitek gadungan—, dapat turut melengkapi kebutuhan perusahaan. Saya diterima bekerja, belajar ‘hanya’ melakukan pengabdian dan bekerja secara baik, benar, iklas juga sesekali kerja cerdas. menjelang akhir bulan, saya di upah. hanya 1 dari 30 hari, proses interaksi saya dengan perusahaan yang berdagang.
Contoh lain, perusahan penjual komputer. Perusahaan melakukan proses produksi, penjualan sampai pembayaran. Mungkin proses produksi, penjualan memakan waktu berbulan-bulan. Namun hanya butuh waktu tidak lebih, proses transfer uang-barang. Hanya proses sak nil atau sejumput itu saja dalam dagang. Selebihnya, yang spesifik ingin saya urun point ilmunya ialah tentang fokus. Saat kita bekerja, ya kalau bisa, fokusnya berkarya untuk ‘membantu’ orang lain. Pokoknya ‘jalan’ saja dengan benar. Sirathal mustaqim.Hampir bisa dipastikan, dagangan kita pasti laku ‘keras’.
Memang, hasil research dari sahabat saya tadi perlu di kaji terus-menerus. slalu Tabayyun. Sejalan dengan itu, yang ada sekarang juga banyak kerancuan pemahaman. terletak pada ‘pemahaman’, bahwa : uang itu penting. Setidaknya itu pendapat, salah satu teman yang lain. Akhirnya, selama ini kita selah kejar. Hanya mau berkerja, setelah di iming-iming uang. Yang ujung-ujungnya, tidak dapat kedua-duanya. Seringkali melakukan hal-hal yang berkebalikan. Lebih tepatnya paradoks.
Berpuasa cita-ci(n)ta
Terakhir sekali, jangan lupa. Pernahkah terbesit di batin kita, Sejatinya, sebarapa banyak Tuhan berkirim nikmat pada hambanya? Berapa banyak nikmat yang Dia kasih ‘cuma-cuma’ kepada kita, mahasiswa–konon disebut : tulang punggung peradaban dunia— untuk sekedar berdagang? Kalau saya sih, buuunyak. Apesnya, ranah dagang yang termasyhur di kebanyakan pemuda ini, hanya seringkali berkutat pada sektor ‘pernikahan’ saja. misalnya, sering mendengar akan nasehat seoarang teman lagi, atas bahaya eksploitasi (maaf) lawan jenisnya. Kalau saya terbalik. Justru, yang berbahaya adalah seorang ‘pemuda’ pemain dagangan Tuhan. yang jamak berlaku rakus memporak-poranda, yang sejatinya, kelak menjadi sang penghebatnya. Lantas, jika di sentil, malah berdalih dengan berkata : demi memantik semangat diri. Syukur-syukur bisa ber-sparing partner dengan sang Maha, menjaga hamba terkasihnya. Nyaris sempurna. namun diam-diam batin saya 'ngedumel' : woalah dapuranmu le.. le.. Nggedabrus, tukang apus-apus. Mung bulsyit, alias nol besar. Paling pol, urusan’é cuman nggayuh seng ora - ora iku.
Namun saya tetap yakin bahwa, Dia PASTI pandai mem-proteksi. Sebagaiamana Dalang tak akan pernah kehabisan lakon, dalam setiap pertunjukannya. Kepada sang terget eksploitasi, Dia taburkan, dandelion-dandelion ‘fatwa hati’, bagi sesiapa yang jeli dan ‘mau’ menurut sang Rabbi. Tentang meng-hijabi diri. Jelas definisinya, bukan seperti yang sekarang terjadi. Disini, berhijab yang sejati ialah ‘menutup’ rapat-rapat aurat. Baik yang bersifat badaniah ‘wadag’, juga ruhiyah jiwanya. Maka, sangat kecil kemungkinannya dapat di ‘terobos’ dengan mudah, oleh sang exploitir. Kalau pun digoda, ia tak tergoda. Akan selalu menjadi, bidadari tak bersayap. Sang (peng)anggun semesta raya –menurut sya’ir dari Ukmi-Mazada—.
Justru mereka pengeksploitir lah yang akan hancur. Karena musuh dalam dirinya –yang rakus atas segala sesuatu—, sekarang balik bersekutu untuk menagih-nagih merasa kekurangan. Tak berkesudahan dan tak berhingga.
Justru mereka pengeksploitir lah yang akan hancur. Karena musuh dalam dirinya –yang rakus atas segala sesuatu—, sekarang balik bersekutu untuk menagih-nagih merasa kekurangan. Tak berkesudahan dan tak berhingga.
Bahkan secara bahasa awur-awuran saya berani berkata, Tuhan slalu enggan melakukan penghancuran. Terus-menerus, hanya nikmat, nikmat dan nikmat beserta berkah saja. urusan kita yang tidak ‘mampu’ dan merdekameng-khalifahi, mengolah, memanfaatkan dan mensyukurinya, disitulah titik penghancurannya. Bukan Dia yang menghancurkan, tetapi kita lah yang menabung kehancuran diri sendiri, dengan berakus-rakus akan nikmatNya.

Hah.. Beginilah, dasar tukang pengangguran. Hobinya, menalar tak sepantasnya dinalar. Saya sarankan, untuk tidak men’seriusi’ semua yang barusan. Apalagi, lantas menelan mentah-mentah, yang berakibat mengendap dan memantik gemuruh ‘gelisah’ di jiwa. Atau yang termudah, anggap saja panjenengan berbaik hati, sedang tak sengaja mendengar ‘rintihan’ seoarang pemuda yang ; berpuasa dagang ci(n)ta. Yang berbesit tanya, kapan niki buko ne, Gusti ?@##%$. [ ]
_________________
_________________
Iklan ada di sini

Komentar