Bom Waktu : Krisis ‘Sangkan Paran’
Mata Kuliah : sinau awak'e dewe
Beberapa waktu yang lalu, saya selalu di hantui oleh ‘diri’ saya sendiri, Untuk bertanya tentang sangkan paran dumadi –jawa—? Untuk apa kita menekuni dan mempelajari para orang tua bijak, bahkan beragam manuskrip atau teks sulit yang ditulis oleh orang-orang yang sudah mati? Saya tidak tahu dengan anda. Namun, saya punya tujuan yang saya pegang erat, yaitu : saya ingin mencapai ufuk cakrawala pengetahuan manusia yang masih mungkin di gapai oleh manusia.
Mungkin, ini terdengar naif. Akan tetapi, jika kita mendalami dan slalu bertanya kepada batin kita secara jujur, tujuan ini cukup umum ditemukan. Ajaran jawa mengenal Manunggaling Kawulo-Gusti, agama dikenal dengan nama seorang ‘budha’ yaitu orang yang telah tercerahkan karena telah di anggap mengekang hawa nafsunya. Islam sendiri menyebut al Insan Kamil sebagai muara pencapaian tertinggi dari manusia. Ia adalah manusia yang tak lagi terpengaruh oleh naik turunnya kehidupan. Di tengah beragam tantangan dan persoalan yang menerpa, ia tetap teguh berpegang pada kekuatan batin dan iman yang bercokol di dalam jiwanya, dan menemukan ketenangan yang sejati karena dibersamai oleh TuhanNya.
Cara berfikir Mainstream
Setiap manusia yang diberi jatah untuk memainkan peran berkehidupan, pasti mempunyai satu tugas selama rentan lahir-mati yaitu ‘menjawab zaman. Terlepas dari Personalitas , identitas, dan dirinya, ia berkewajiban untuk melakukan apapun dalam ia berkegiatan, jikalau ingin hidupnya sesuai dengan Kehendak Tuhan yang Menciptakan. Disnilah, titik dimana saya melakukan research atau tabayyunsecara terus menerus tetang ‘sejatinya’ kehidupan.Di dalam buku itu, Robert.K. Coopermenegaskan, bahwa adalah keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang ia ciptakan sendiri. Dalam arti ini, ketidakdewasaan ditandai dengan tidak adanya kehendak untuk berpikir sendiri. Ketidakdewasaan ini terjadi, bukan karena orang tidak mampu berpikir sendiri, tetapi karena rasa segan atau rasa takut untuk berpikir sendiri. Maka dari itu, Cooper menyarankan, supaya kita berani berpikir sendiri dan menjadi pembeda.
Bertahun-tahun, pandangan ini mempengaruhi hidup saya. Saya mulai berani berpikir dan mempertanyakan segala sesuatu yang sebelumnya saya percaya begitu saja. Namun, setelah menelaah lebih dalam, saya merasa, pandangan dan konsepsi dari Cooper dan kakeknya ini tidak cukup.
Keberanian untuk berpikir atau menggunakan akal fikiran secara mandiri. telah dipersempit semata menjadi akal budi instrumental, yakni ‘akal’ yang semata digunakan sebagai alat untuk menguasai alam dan menguasai manusia lain. Akal telah kehilangan fungsi kritisnya. Ia hanya semata digunakan untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang seringkali irasional, yakni penindasan dan penguasaan. Dan saya pun faham sekarang, ternyata dari epistomolgi bahasa pun kata ‘akal’ ini sudah terdegradasi maknanya.
Permah saya mendengar bahwa di dalam Al-qur’an, kata afala ta’qilun di tafsirkan dalam khasanah bahasa indonesia sebagai ‘apakah kamu tidak berfikir’. Sejauh yang saya ketahui (mohon di benarkan jika salah) harusnya tafsir dari ayat ini adalah ‘apakah kamu tidak mengakali?’. Ada pergesaran dimana harusnya maksud dari kata itu adalah dalam tindakan dan Subtansif telah terdegredasi menjadi himbauan yang bersifat normatif saja.
Dari titik ini akan nampak, bahwasanya mengapa –misalnya—di negara kita indonesia ini banyak kesesatan dalam pola berfikir, karena terkadang kurang mentabayyuni konsep dari luar tanpa mempertanyakan kembali (semoga saya salah). Tapi baru kemarin saya mendapat konfirmasi, bahwsanya itu juga bukan seratus persen salah penfsiran, hanya saja kata ‘mengakali’ sudah kadung di ‘kudeta’ menjadi pemahaman yang ain. Kata ‘mengakali’ di Indonesia lazimnya si artikan sebagai perbuatan buruk seseorang kepada orang selainya demi pemenuhan hasrat dirinya. Jadi, tidak perlu dipermasalahkan lagi karena sudah jelas, mustahil jika ini bisa di benahi secara sporadis.
Jalan Sunyi Tabayyun
Sampai detik ini, saya terus mencari metodolgi atau ‘jalan’ mana, yang termasuk jalan Sirathal mustaqim –jalan bebas hambatan—manusia menuju sang sejati. Faham jawa, Saintis Barat, para ahli filsuf, dan masih banyak yang lain, belum satu pun yang ‘cukup’ unutk memenuhi hasrat saya menemukan kepastian jawaan.Namun, kesan tak cukup tetap muncul. Apalagi Filsafat eksistensialisme, yang menekankan kebebasan dan eksplorasi daya-daya hasrati manusia, justru membawa saya pada kecemasan, kesepian serta kehampaan hidup yang mendalam. Buahnya adalah depresi dan penderitaan batin yang besar di dalam hidup saya.
Saya pun mulai menoleh ke arah lain. Mungkin, tidak lagi memadai untuk hidup saya. Mungkin, saya harus menoleh ke jalan yang sama sekali berbeda. Entah karena kebetulan atau takdir, saya masuk ke lingkaran Maiyah –sebuah forum yang digagas oleh Cak Nun—. Disinilah saya sedikit memperoleh angin segar atas pertanyaa eksistensialsime diri saya. Dan bonusnya memperoleh jawaban-jawaban yang selama ini saya pertanyakan.
Lebih jauh, dengan saya mengikuti cara berifkir maiyah, saya justru menemukan Esensi dari Islam sesungguhnya. Dimana islam sangat menekankan bagaimana harus memahami jati diri kita yang sesungguhnya. Kita bukanlah identitas sosial kita. Identitas sosial bisa diubah dalam sekejap mata, jika kita menghendakinya. Jati diri kita yang sejati tidak memiliki nama. Namun, ia selalu menyertai kita di dalam setiap tindakan maupun pikiran yang muncul.
Ketika orang menyadari diri sejatinya, ia akan mendapatkan kejernihan dan kebebasan batin yang sejati. Pikiran datang dan pergi. Emosi datang dan pergi. Namun, kejernihan dan ketenangan tetap terjaga, sehingga orang bisa bersikap tepat dalam setiap saat dalam hidupnya.
Di dalam Islam, pencerahan dipahami sebagai hancurnya segala bentuk konsepsi tentang pikiran dan tubuh wadag nya. Ketika segalanya yang berbau konseptual hancur, yang tersisa adalah kesadaran halus awareness. Ini adalah keadaan sebelum pikiran. Di titik ini, orang juga memperoleh kejernihan dan ketenangan yang mendalam, sehingga bisa bersikap tepat di dalam menanggapi berbagai hal yang datang dan pergi di dalam kehidupan.
Siapa Aku?
Saat ini, saya sedang melakukan simulasi-simulasi cara berfikir maiyah dalam realita hidup yang saya jalani. Setiap saat dalam hidup saya, saya mencoba untuk menyadari, siapa saya sebenarnya. Hadi hanyalah nama yang segera bisa diubah, jika saya menginginkannya. Begitu pula dengan bangsa, agama dan warna kulit, semuanya bisa dengan mudah diubah, jika kehendak sudah tumbuh di dalam batin. Saya mulai melepas pemikiran abstrak khas mainstreamsaat ini, dan memasuki ranah kenyataan sebagaimana adanya. Di ranah ini, tidak ada konsep. Tidak ada pikiran. Yang ada hanya ruang hampa luas, tempat segala sesuatu datang dan pergi. Dan inilah yang saya namai Jalan Sunyi Tabayyun.
Di saat menekuni jalan ini, saya justru paham maksud terdalam dari fakultas keilmuan yang pernah saya pelajari. Saya juga paham inti dari beberapa tradisi mistik yang tersebar di berbagai agama-agama dunia. Namun, pemahaman ini tidak dapat sepenuhnya digambarkan dengan kata dan konsep. Jika diminta menjelaskan, saya hanya bilang, “jikalau manusia bisa menjelaskan rasa asin, tanpa permisalan, maka tanpa di mintapun saya akan menjelaskan semuanya.”
Bukanya apa, segudang pertanyaan yang ‘absurd’ telah menunggu dan menagih-nagih untuk saya jawab. Salah satu contoh dimana seorang Imam besar Islam yaitu Imam Al-Ghazali ra, memberikan kiptogram dalam katalog fikiran saya, yang sampai ini belum terpecahkan. Inilah penggalan teka-teki hidup yang beliau tinggalkan pada malam sehari sebelum beliau berpisah dengan alam yang kita jalani ini :
Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal.Rumah kalian bukanlah tempat ku lagi.Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan.
Iklan ada di sini

Komentar