DIMENSI2 - Mencipta Batas Cita - Ci(n)ta Mulia

Oleh : Team Dimensi

Bayar hutang ke Ketum UKMI Al-Huda terkait mukadimah Dimensi 2 (18 desember 2015) kemarin, berhubung itu Dimensi sudah berabad-abad yang lalu selesai dilaksanakan, maka sepertinya tidak layak lagi disebut sebagai Mukadimah, pun ini bukan sebuah laporan hasil kegiatan Dimensi-nya (karena maaf, kemampuan otak saya ini dalam mengingat sangatlah terbatas ) –So.. anggap saja ini sebuah opini dari sudut pandang saya.

Berbicara tentang mencipta batas cita-ci(n)ta mulia, berarti berbicara tentang dua hal: pertama tentang Cita-cita mulia, kedua tentang Cinta mulia.

CITA-CITA, ditelisik dari pengertiannya berarti keinginan, harapan ataupun tujuan yang ingin diraih. Yang jika dihubungkan dengan kemuliaan  bisa berarti keinginan, harapan atau tujuan yang luhur atau baik.

Dimana mungkin contohnya: bercita-cita membahagiakan kedua orang tua, bercita-cita merubah tatanan peradaban manusia yang semakin hari semakin amburadul, bercita-cita menjadi pengusaha hebat lagi dermawan atau mungkin bercita-cita memiliki 'jodoh' yang solih atau solihah. Yang pasti bercita-citalah yang besar dan mulia, karena Allah Maha Besar lagi Maha Baik seperti yang sering di dengungkan Sekjen UKMI itu.

Kemudian langsung saja ketopik yang paling menarik sepanjang masa “CINTA”, dimana kalau sudah berbicara tentang cinta biasanya yang 'ngantuk' jadi melek, yang lemes jadi semangat, yang galau makin galau. hehe..

Dewasa ini cinta sudah begitu dikerdilkan maknanya. Cinta diagung-agungkan hanyalah rasa yang dimiliki sepasang lelaki dan perempuan saja. Tenang, cinta jenis ini bukanlah suatu aib atau dosa, ini adalah hal yang sangat manusiawi dan normal. Tapi yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana cara kita menyikapinya, apakah dengan ikut larut terbuai kesemuan dengan berdalih ini fitrah manusia? atau memilih menjaga layaknya saidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah?.

“Para pecinta sejati taat pada apa yang dicintainya”.

Seorang kekasih akan mendengarkan apa yang kekasihnya nasihatkan, akan menuruti apa yang kekasihnya minta dan dihadapan kekasihnya ia akan berusaha menampakkan laku terbaiknya. Mungkin seperti itulah fitrah cinta sesungguhnya, cinta adalah sebuah kebaikan (kesucian). Maka pertanyaannya: siapakah sebenarnya yang paling kita cintai?

Allah dan Rasul?
Orang tua?
Pacar?

Dan jika sepakat yang paling kita citai adalah Allah dan Rasul-Nya, maka seharusnya kita juga sepakat untuk berdiri tegak mencipta batas cinta mulia yang telah dibuat oleh-Nya:

“Dan janganlah kamu mendekati zina: sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(Al-Isra’:32)

“Wahai sekalian para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yaang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya”.(HR. Bukhari dan Muslim)

Haduhh.. sok nge-dalil lagi, padahal diri sendiri saja masih belajar menata hati. Apapun itu, semoga tidak melihat dari sisi siapa yang menulis, tapi ambil saja pelajaran (kalau ada) dari apa yang dia tulis. 

Di ujung tulisan mari senandungkan sebuah nasyid dari Raihan sembari menghayati bait per baitnya:

Carilah cinta yang sejati
Yang ada hanyalah pada-Nya
Carilah cinta yang hakiki
Yang hanya pada-Nya Yang Esa
Carilah cinta yang abadi
Yang ada hanyalah pada-Nya
Carilah kasih yang kekal selamanya
Yang ada hanyalah pada Tuhanmu
Didalam mencari cinta yang sejati
Banyaknya ranjau kan ditempuhi
Didalam mendapat cinta yang hakiki
Banyaknya onak yang diredahi
Namun janji-Nya
Kepada hamba-Nya
Tidak pernah dimungkiri
Dan tidak pernah melupakanmu
Yakinlah kepada Tuhamu
Kerna Dialah cinta hakiki

....
Sebagaimana ketika waktu menjelang berbuka puasa kemudian dihadapkan dengan minuman segar pelepas dahaga. Mau kah kamu berbuka sebelum waktunya? -rizazizah-


Pahamilah... [ ]


Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim