Hulu Cinta Semesta Raya

Mata Kuliah : 'Pangroso'

        CINTA. Membicarakan persoalan yang satu ini memang tak akan pernah ada akhirnya.Jiakalau seluruh profesor bidang ‘percintaan’ di bumi ini berkumpul untuk kemudian melakukan research dan pembukuan tentang cinta, Alam jagad raya  saya ‘ragukan’ untuk bisa menampung skiripsi Cinta yang akan di temukan. –Coba saja di bayangkan sendiri.

   Dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, manusia semuanya tak luput dari cinta. Entah persambungannya, interaksi, efeksamping, hubunganya melulu tentang ‘ia’. Orang tua bekerja siang-malam, dari hari minggu ke minggu lagi, melawan lelah, menahan letih, hanya demi cinta-nya kepada keluarga juga anaknya. Seoarang laki-laki melakukan hal yang terkadang ‘gila’, Gunung kan kudaki, lautan kan ku sebrangi –kata pepatah—hanya demi sang ‘tautan’ hatinya. Bahkan akhir-akhir ini, yang sedikit menggelitik juga ‘prihatin’, dimana cinta bisa mengakibatkan seseorang untuk, berbunuhan satu sama lain, saling mencaci dan benci, bahkan tidak sedikit remaja-remaja melakukan bunuh diri, dan lagi  soal cinta yang tertambat di hati.

       Kekuatan dahsyat apa yang ‘merasuki’ salah satu entitas rasa ini? Apa yang menyebabkan ia mampu melampui akal manusia, ketika candunya sudah mencengkram kuat padanya? Dan masih banyak pertanyaan lagi, yang selalu ‘menghantui’ batin saya menagih-nagih untuk menemukan jawabanya.

Evolusi pemahaman

       Sepengetahuan saya, kecintaan manusia terhadap sesuatu hal, lazimnya sejalan dengan apa yang ia 'fahami'.Dengan kata lain obyek yang dicintainya dinamis, tak berhenti dan terbatas melintas waktu. Namun ada satu yang pasti, bahwa alasan apapun yang di fahami dan dikethui nya itu tadi, muaranya adalah cinta kepada dirinya sendiri. Bagaimana rasiolanisasinya?


    Ambil contoh, ketika kita masih anak-anak –umur balita— lingkup cinta yang ia punya baru sebatas dirinya sendiri. Belum terbayang, ada ibu dan bapaknya, teman sejawatnya atau yang lain. Setalah ia bertambah umurnya, dimana ia sudah mengenal orang tua dan keluarganya, ia mengenal lawan bermain, dia sudah mengenal kebersamaan dengan sahabat-sahabatnya, cinta yang tadi saat balita mulai sedikit luas kepada lingkungan , keuluarga, dan sahabatnya. Namun hakikinya, ia menemukan ‘diri’nya –yang dicintainya— di teman, sahabat dan lingkunganya tadi.

   Pada saat remaja, ketika ia mulai mengenal ‘lawan jenis’ pemahaman cintanya pun kembali mengalami perluasan. Ketika ia memutuskan untuk ‘menyukai’ salah satu dari ‘lawan jenis’ nya itu tadi, bukan berarti pemahaman cintanya ‘benar-benar’ bergeser untuk kemudian mencintai kekasihnya itu. Melainkan, ia lagi-lagi menemukan ‘diri’nya di dalam diri kekasihnya, yang menyebabkan ‘hasrat’ kecintaan kepada dirinya sendiri terpenuhi. 

    Menjelang rentan usia 20 an, cintanya pun berkembang lagi lebih luas. Tak terbatas pada keluarga, sahabat, atau pun kekasih dan lungkunganya, ia mulai cinta kepada komunitas-komunitas yang ada. Bergabung pada komunitas klub sepakbola, Motor gede, Fashion tertentu, salah satu upaya ataupun cara nya menemukan ‘diri’nya dan lebih jauh untuk menemukan kecintaan pada ‘diri’nya sendiri. Contoh lagi yang paling kongkrit adalah bertumbuhnya banyak sekali ‘forum’ yang tercipta di kalangan kita sendiri mahasiswa, sampai-sampai kalkulator error apabila digunakan untuk menghitung jumlahnya. Dari pemahaman evolusi cinta ini, kita sekarang tahu bahwa letak kedahsyatan cinta itu adalah cinta kepada dirinya sendiri.
Manusia cinta kepada keabadian. Suka tidak suka, memang faktanya seperti itu. Jikalau hidup abadi tadi dicintai maka hidup yang sesempurna dan se komplit  mungkin adalah keniscayaan. Manusia memandang kekurangan dalam hidup ini sebagai musiabah dan bahkan ‘kematian’. Ia sangat senang memiliki segala sesuatu yang dapat menyempurnakan dirinya yang dapat mengabadikan kehidupan esnsielnya. Hal ini merupakan instink manusia dengan Sunnah Allah. (Ihya – Al Ghazali)

Lalu mari coba kita simulasi kan, jikalau setiap manusia mempunyai instink dan perilaku yang sama, apakah mungkin ini akan terjadi ‘tanpa’ ada gesekan satu dengan yang lain? Apakah iya, semua kerusakan-kerusakan yang terjadi di bumi ini juga ada kaitanya dengan miss manajemanterkait cinta manusia itu tadi ?.

Melihat realitas yang ada di depan kita saat ini, pertanyaan pertama memilikikans atau peluang yang kecil dan hampir tidak mungkin terjadi. Berkaca pada kelengkapan hidup manusia, dengan piranti nafsu yang di milikinya, juga semakin memberatkan ia untuk tidak bergesakan dan bersinggungan antara kepentingan satu dengan lainya. Dan kerusakan-kerusakan yang timbul adalah konsekuensi logis dari miss manjemen atau dis orientasi  terkait cinta itu tadi.

Hulu Cinta Semesta

     Di mata kuliah sistem Irigasi dan Bangunan Air --yang menjadi mata kuliah wajib di jurusan teknik sipil semester lima ini--, saya mengenal istilah Hulu-Hilir dari sungai. Konsep hulu-hilir ini sangat penting, ketika kita merencankan dan merancang bendung. Akan berakibat fatal jikalau kita salah-salah saat memahami, yang mana hulu dan yang mana hilirnya. Singkatnya, bangunan kita tak akan menjadi seperti apa yang kita harapkan sebagimana tingkat fungsionalitasnya ia di bangun.

       Menurut hemat saya, Sunnah  Allah yang berupa ilmu ‘Hulu-Hilir’ tadi bisa di aplikasikan untuk memanajemen cinta itu tadi. Hulu menjadi perhatian utama dalam kita membangun bendung. Ia harus di teliti debit airnya, sifat-sifatnya, dan parameter-parameter yang lainya untuk dasar merancang seberapa besar, tinggi, jenis bendung yang digunakan sampai kepada tipe bendung yang cocok untuk sungai itu.

            Cinta Manusia ‘hanyalah’ hilir dari cinta-cinta yang ada pada jagad semesta ini. Artinya, cinta yang dimilkinya bukanlah yang primer dari tugas nya menjadi manusia. Dalam Islam, Sejauh yang saya fahami Hulu Cinta manusia adalah Allah dan Rasulullah. Dia dan Utusanya menjadi sumber utama dari pemaknaan cinta bagi manusia yang hakiki. Si manusia harus meneliti sifat-sifat Nya, pemahaman, pengalaman, pengetahuan dan kebajikan akan bisa merubah ‘pemahaman’ cinta yang dimilikinya tadi.

     Dengan menjadikan Dia sebagai subyek utama dalam hidup, dapat pula menekan pula ‘kebrutalan’ dari kencintaan nya kepada dirinya sendiri. Bukan berarti si manusia akan kehilangan cinta diri nya itu, melainkan ia akan sangat faham dan presisidalam menentukan cinta nya bagi sesamanaya. Ia akan punya belief system yang men-drivedirinya menuju pada jiwa yang tenang ­al nafs muthma’innah. Di dalam diri yang seperti ini kenikmatan, kebahagiaan, dan kecintaanya akan di fahimnya secara utuh dan menyeluruh, yang berarti kerakusan-kerakusannya, menghalalkan segala cara, atau apapun yang bisa menjadikan ‘kerusakan’ di dunia ini akan terminimalisir.

Merubah Hilir ke Hulu

           Untuk merubah love Oriented yang kita miliki dari yang mulanya ‘hilir’ menjadi hulu memang tidak mudah. Sergapan dari globalisasi –yang mana berdampak pada ‘penghiliran’ bahkan sampai ke muara (laut)— dari berbagai dimensi, juga sulitnya kita memilah-milah refrensi yang jelas untuk menemukan hulu tadi yang kita ‘setengah mati’ kesulitan untuk menemukannya dalam islam sendiri. Banyakya mazhab, aliran-aliran, organisasi atau komunitas yang mestinya memberi banyak Point ilmu dalam pencarian hulu cinta itu tadi, justru sering kali malah menjauhkan kita dan mendistorsihingga jauh dari yang kita harapakan.

   Namun, jangan menyerah dan patah arang. Sifat kita yang slalu ingin tahu atas segala hal boleh dijadikan keberangkatan kita menjernihkan semua itu tadi. Dengan dasar bahwa Al-Qur’an adalah sumber utama rujukan Ilmu dari Allah, coba belajar darinya adalah hal yang paling mungkin dilakukan jika kita ingin mencapai sampai pada hulu cinta. Memang beberapa orang tua, saudara dan beberapa orang mengingatkan bahwasanya ‘belajar qur’an’ itu berbahaya jika tanpa guru, apalagi kita tak faham betul arti dan bahasanya. Pesan itu tadi memang tidak salah, tapi apakah dengan tidak belajar akan selesai masalahnya? Bukankah justru itu akan ‘menjerumuskan’ kita ke dalam lembah pembodohan selama-lamanya?


    Sejauh pengalaman yang saya ketahui, ‘lebih baik’ mencoba dan ‘salah’, daripada tidak pernah sama sekali. Sebagimana saat anak kecil yang coba berjalan, pasti dia akan salah-salah dan gagal saat mencoba melangkahkan kakinya. Namun pada akhirnya, dari kesekian kali dari kesalahdan kegagalanya tadi, Allah memberikan momentum kemenangan di ujung lelahnya. Allah memberi Kemuliaan yang pastinya kita tidak tahu kapan, namun terus saja kusnudzon kepadaNya. Hingga suatu waktu Dia akan tidak ‘punya’ alasan lagi untuk tidak memberikan ‘kemuliaan’ atas usahamu itu.  Sebagaimana saat kita sholat, kita slalu di suruh mengucapkan ihdinas shirathal mustaqim, yang artinya kita tak ‘pernah’ berada di jalan yang lurus.

    Lalu yang menjadi pertanyaan, kapan kita memulai perjalanan panjang mencari Hulu cinta Semesta raya untuk kedamaian yang sejati ? *) dijawab sendiri nggeh. [ ]
Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim