Irama mencipta rasa
data research multi intelegent
Anak-anak tercenung rapi. Ada yang bersila, ada yang duduk tahiyat, bahkan ada yang duduk khas warung, entah bagiamana mereka bisa khidmat mendengar kakak-kakak ‘barunya’, yang mulai mengalirkan gelaran ceria untuk mereka. Hall masjid yang tadinya gaduh, berangsur hening. Dengan nada halus nan menggoda, salah seorang dari kakak nya memegang selembar pranata acara, berisi kumpulan acara penggembira, mengantarakan nalar bocah kesayangan Tuhan ini, kepada gelaran agung yang indah merona. Nyala semangat anak-anak itu meletup-letup, saat diperdengarkan kata-kata penggembira. Rupanya sajian itu menglahkan keinginan mereka bermain dengan hal-hal lain. Bahkan sayup-sayup terdengar, mereka sudah menunggu selama dua jam lamanya, sebelum gelaran cinta ini di gulirkan.
Rentet adegan tadi, menggugah imaji saya. Untuk sebuah misi seorang multi intelegent, hari itu saya di perjalankan untuk mengunjungi saudara se’iman yang menjadi KinasihNya ‘Bos’ tertinggi di semua tataran divisi. Selama melakukan identifikasi, saya melihat menggebunya semangat anak-anak itu, hingga rela berbaur rapi menghadap sang penjuru. Sekedar meringkas jarak, agar suasana tak ‘sekonyong-konyong’ di dekap deru angin yang membias ke telinga. Saya berulang kali berhenti beberapa jenak, untuk mengikuti setiap gerak-gerik para bocah itu.
Barangkali, minat anak-anak kecil tadi, tumbuh karena telah mengakrabi, bahwa kakak yang ada di depannya adalah seorang yang menyerupai pemandu acara wisata yang pandai mencuri nuansa. Motivasi itu lantas membuat antusiasme mereka beranjak naik. Mungkin, akan lain ceritanya bila mereka diminta di suruh membuat gelaran acara sendiri. Tapi anak-anak itu, saya kira belum faham-faham sekali tentang agenda yang sesungguhnya milik orang dewasa ini. Sehingga besar kemungkinan mereka belum betah dan masih enggan untuk berpusing-pusing menyusun acara yang sedikit formalis khas anak kampusan.
Sesekali suara sang kakak mengeja cerita yang di kutipnya, Suaranya pun melantun. Memperdengarkan adengan-adengan cerita sebagaimana yang diskenariokannya. Anak-anak hanyut bersama khayalan yang mereka bangun di lorong batinya masing-masing.irama tutur yang mengalir dari mulut kakak, layaknya desiran angin yang menerbangkan pikiran kanak-kanak itu ke dunia fantasi mereka inginkan. Kekuatan irama tutur yang menjelmakan teks ke dalam bentuk yang lentur dan cair.
Setiap kepala, bebas sebebas-bebasnya melarikan angan, untuk menggambarkan apa yang didengar. Batin anak-anak itu akan segera memungut bayangan tertentu, berupa simbol-simbol, begitu kalimat-kalimat cerita tadi dipahaminya. Jika di dalam tutur sang kakak sudah akrab di dengar –misalnya : Padang pasir, Rasulullah, mekkah-madinah, dst.—pikiran mereka akan segera memunculkan gambar yang selaras dengan kata-kata yang dimaksud. Namun, bila tertangkap istilah yang belum dikenal, pikiran akan cenderung mencetak gambaran yang disinyalir dekat dengan maksud istilah itu. Refrensi viusal dalam batin tersebut, tentu bergantung pada pengalaman masing-masing. Tapi, hal yang terpenting adalah, irama merupakan pemantik yang manjur serta cepat, untuk mengemudikan imajinasi.
Lazimnya, manusia adalah makhluk yang erat dengan irama-irama. Bila diamati dengan rinci, semua jenis gerak sera tindakanya, tak bisa lepas dari unsur tersebut. Mulai bicara hingga berlari. Bahkan tidurpun—situasi dimana keinsafan pokok manusia diistirahatkan—merupakan aktifitas yang di atur oleh irama. Cara berfungsinya komponen-komponen tubuh itu tidak bisa lepas dari tempo yang sudah menyatu dalam sistem kesadaran. Kondisi yang alamiah ini menyebabkan orang mudah terpikat dengan apapun yang memiliki kesamaan persepsi tentang irama denganya. Misalnya, dengan gampang dan nyaman, orang akan memetik kenangan dalam ruang pikiranya, ketika mendengar alunan musik atau lagu tertentu dimana orang pernah terlibat dengan karakter nadanya.
Secara sederhana, irama diartikan sebagi simpul-simpul masa diam yang terdapat dalam rangkian gerak. Atau sebaliknya. Rangkaian gerakan yangdiselingi oleh jeda-jeda atau masa diam. Keindahan dibangun dari penyelarasan atas keduanya. Gerak dan jeda adalah seperangkat unsur yang membentuk pola, sehingga sebuah aksi diapresiasi positif atau negatif. Irama brlaku sebagai pelecut respon. Penilaian bahwa sesuatu itu indah atau buruk, didasarkan atas reaksi terhadap irama. Anggapan bahwa seseorang dikatakan marah, ketus atau hangat dalam bersapa, juga dilandaskan olehnya. Peristiwa anima anak-anak yang besar terhadap gelaran ceria, adalah bentuk dari respon positif mereka terhadap irama wicara kakaknya. Terbit kenyamanan dalam diri mereka, saat mendengar pembacaan dengan irama yang karakternya sudah dikenal. Mereka merasa tentra ketika mengikutinya, bila dibungkus dengan tutur seperti yang kakaknya alirkan.
Tak ubahnya sebuah kemasan. Irama adalah lambaran cara komunikasi, yang membalut nuansa tekstual menjadi lebih ramah. Membungkus informasi-informasi agar mudah diterima pada kalangan-kalangan tertentu, sesuai arah tergetnya. Bagaimanapun, teks pada dasarnya bersifat padat dan memaksa. Saat membaca, orang ditantang untuk patuh atau berontak. Demikian juga kala menulis. Pikiran didesak agar taat pada gagasan. Tapi, teks adalah alat transformasi yang susah tergantikan. Bagaimana menyalurkan padatan-padatan informasi dari zaman ke zaman, secara rapi. Cara yang kemudian banyak dipilih untuk melenturkan perangai teks yang kaku dan terkadang galak itu, adalah dengan menyusupkan irama besertanya. Menyenandungkan teks atau mengkonversinya pada bentuk tutur yang ramah dengar. Disinyalir, cara ini lebih menyiratkan keluwesan dalam menerima informasi. Disinilah titik awal kelahiran puisi, lagu, juga kisah-kisah maupun dongeng.
Manusia makan, demi 'rasa' kenyang. Manusia melihat panorama keindahan, untuk 'rasa' kesejukan. Mendengar senandung syahdu yang mengalun, demi 'rasa' kedamaian. mungkin memang ufuk pencapaian manusia adalah tentang 'perasaan'.
Suasana batin yang dialami anak-anak itu, barangkali adalah keteduhan. Sama seperti bayi yang menangis, kemudian dihibur ibunya dengan senandung yang spontan. Bisa jadi, tanpa konten jelaspun, irama sudah sanggup menghanyutkan pikiran. Layaknya laki-laki yang terdiam, ketika diajak berbicara dengan seorang gadis yang menjadi tautan hatinya. Keterpukauan dan kenyamanan, menyebabkan orang cenderung mengabaikan konten. Fenomena ini juga bisa ditemui di tembang-tembang anak-anak. Permainan irama dan suasana keceriaan yang disertakanya, lebih membawa anak-anak pada pengenalan nuansa daripada bujukan untuk mengerti maksud konten. Mungkin, inilah uniknya irama. Pada fase tertentu, saat sudah berhasil menyelimuti teks, dia akan menawarkan hal-hal yang lenih abstrak dengan tafsir yang lebih individualistik, yaitu nuansa. Sebab teks, menyuguhkan ajakan untuk menafsir sesuatu secara kolektif. Huruf-huruf yang berjajar dan mebentuk kalimat itu, akan mengikat siapapun yang membaca, kedalam imaji yang diinginkan oleh teks. Namun bila teks tersebut ‘dibacakan’, disenandungkan atau dituturkan, ada perubahan signifikan yang terjadi. Ikatan-ikatan menjadi longgar. Puncaknya, daya interperetasi pendengar bisa terbang leluasa dan mencipta rasa -- sebuah entitas yang di cari sepanjang masa oleh umat manusia--. Sebagimana debu yang sering bertaburan di angkasa raya. [ ]
Iklan ada di sini
Komentar