Mengasuh Propaganda
Afwan, jikalau mengecewakan. Pernikahanya, masih setengah hati...
MANUSIA HIDUP, dalam dialektika dengan sains-teknologi, agama, dan filsafat. Dialektika berarti manusia menciptakan ketiganya, sekaligus dicipta oleh ketiganya. Di sisi lain sains-teknologi lahir dari filsafat, sekaligus mendefinisikan filsafat itu sendiri. Filsafat membantu mencerahkan iman dalam agama, sekaligus diperluas kedalamannya oleh agama itu sendiri. Dan sains memperoleh nilai-nilai kehidupan yang transenden dari agama, sekaligus membuat agama menjadi lebih beradab.
Persilangan antar ketiganya,tidak bisa dihindarkan. Dalam situasi ideal kehadiran semuanya saling memperkaya satu sama lain. Namun, realitas ketiganya yang sekarang terjadi adalah saling bersaing dan meniadakan satu sama lain. Mungkin, inilah sebab, nusantara belum juga ‘sukses’, menjadi negeri sempalan surga. (konon begitu, kata pujangga).
Kebenaran (Sains-Manusia)
SAINS lahir dari tangan manusia, bisa juga berkebalikan.mendefinisi siapa itu manusia. Dengan rasionalitasnya, mlahirlah sains. Kini, rasionalitas pun, di designoleh aktivitas saintifik. Inilah dialektika manusia-sains yang tak bisa ter-elak-kan.
Yang terpenting dari sains adalah ‘cara berfikir saintifik’. Pola ini, mengacu pada fakta, walaupun, faktanya menentang satu sama lain. di pandangan kita. Ia juga, berwajahkesabaran dalam menguji anggapan, yang berselimut prasangka. Dinding pemisah, kebenaran. cara pengajarannya, bermuara pada kesabaran, ketika berhadap-hadapan, tak sama, dengan realitas.
Ironi. negeri, pencetak mbah-mbah sakti 'dulu', masih juga belum mampu, mendidik ilmuwan-ilmuwan, pengampu pola berpikir saintifik. malah, berkebalikan. mereka menjadi (maaf) g*rmo, bagi gadis-gadis cantik ekonomi-bisnis, politik ideologis, ataupun fundamentalis-religius. yang krisis moral, kering mental, dan kere spiritualitas. sudah begitu, seringkali lupa panggilan luhur 'nurani',sebagai abdi ummat. Ia mengobral murah anak-anak asuhanya tadi, demi di puji guru, atau untuk rupiah, bahkan 'kekuasaan semu'. yang PASTI hilang, seiring berlarinya waktu.
Kebaikan (Filsafat-Manusia)
Filsafat atau filosofi juga lahir dari tangan manusia. walaupun, siapa itu manusia juga didefinisikan oleh filsafat. Inilah dialektika antara filsafat dan manusia. Filsafat lahir dari nalar manusia. Namun kini tindakan bernalar identik dengan kegiatan berfilsafat.
Yang berharga dari filsafat adalah cara berpikirnya yang rasional, kritis, dan sistematis di dalam memandang segala sesuatu yang ada di dunia. Filsafat menjauhkan orang dari irasionalmainstremdan mengajak mengembara dalam dirinya sendiri, demi Kearifan dan kebijaksanaan berkehidupan. Filsafat memberikan kedalaman bagi hidup orang modern, yang ‘kering-kerontan’, terbelenggu rantaituntutan jaman ‘cara berfikir mekanis. Nyaris ‘sama’ dengan Robot-robotan. Filsafat memberi value, juga intelektual journey, bagi sesiapa yang setia memeluk-kannya pada sang Maha.
Di negeri ini, filsafat masih di anggap momok dan – seringkali -disalahpahami. Ada yang berkata ilmu duwur lah, ilmu jeru lah. Cuman berbicara sedulur papat-lima pancer, di anggap, klenik , bid’ah, sampai dituduh berselingkuh dari agama. dengan dalihmerusak iman. Akibatnya,filsafat di rantai besi oleh ‘prasangka’. Jarang, yang mau istiqomah mendalami filsafat dalam arti sebenarnya.
Kemuliaan (agama-hamba)
Agama adalah dari Tuhan. Agama lahir dari kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan kepada Rasul kekasihNya. Demi melepas, peringai hamba, dari : silang-sengkarut perpecahan, perang, dan (ke)dzalim(an). Lantas menuntunnya kepada ci(n)ta, perdamaian, dan kesejahteraan. Kebenaran agama, PASTI akan membuat hidup manusia lebih mulia.
Yang berharga dari agama adalah kemampuannya untuk memberikan value dan ‘rasa’ - yang manusia setengah mati hidup untuknya -. Agama menjelaskan ilmu sangkan-paran dari mana kita berasal, apa yang mesti kita lakukan dalam hidup, dan kemana kita akan pergi, setelah kita mati. Agama menjelaskan mengapa kita menderita, dan mengapa kita bahagia. Agama memberi ngelmu, tentang apa yang harus kita perlu (di)serius(i) dalam peran kebermanfaatan bagi sesama. dan karena sah akad nikah-nya antara - Kebenaran-Kebaikan-Keindahan -. Pada akhirnya, inilah letak puncak Kemuliaan interaksi, Tuhan-hamba. Yang konon, bisa membuat Tuhan terharu atas pencapaian hamba ciptaannya ini. –kata nya sih
Pada titik ini, Agama ‘persis’ darinya, memancar wajah teduh mempesona. Kalau di badan ‘wadag’ kan, bisa 'mirip-mirip' dengan bidadari tak bersayap , UKMI Al-Huda. –begitu, saat ibunya masing-masing dari Akhwat, { mencanda }
Afwan : masih setengah hati...
Apesnya, orang lupa, mencecap arti cinta, perdamaian, dan kesejahteraan, dari agama. justru ia hanyasebagai, alat propaganda penindasan. Mencipta agama, sebagai alat pendepak yang berbeda. sasaranya, kaum minoritas.
PERINGAI, setengah hati para ilmuwan, filsuf, dan agamawan, sebagai Agent of Rahmatan lil Alamin tambah hanya memper’miskin’ , bukan memperkaya, Ketentaraman manusia dan peradabanya. Bahkan, saling kelahi prasangka. Sains-Teknologi ‘menyikut’ filsafat, lantas filsafat ‘memukul’ wajah Scince. Filsafat ‘menusuk-nusuk’ dada agama, tak terima. agama ‘mencidrai tungku’ filsafat. Sains menjegal kaki agama. Akhir episode, agama ‘menendang’ kuda-kudasains, semua lantas benar-benar mati. Akibat tak becus, memfatwai ‘hati’ setiap mereka. Tempat Tuhan bersedia huma, Perdamaian Sejati alam aya-raya. (untuk mempermudah visualisasi, - anggap – persis, saat menonton, anggota dewan gulat di televisi)
Mbog ya wes. Duduk melingkar, tabayyun. Dengan meng-uninstallsoftware ‘bobrok’, yang mereka masing-masing punya.berupa, ilmu benar-salah, yang sudah terbukti ‘konyol’ dan bersifat perusak Komputer canggih Tuhan. Bernama jagad semesta itu. Lantas, di ganti, aplikasi canggih, yang diberi nama, belum salah-lupa salah. Dengan sistem, yang sudah ter-legitimed langsung oleh sang empunya – shirathal mustaqim lisience system -. Satunya, yang belum salah, terus-menerus mencari jalan tembus Kebenaran. Yang lupa salah, menguntit di belakangnya, membawa perbekalan sebanyak-banyak nya. Adil kan? Saling bahu-membahu memburu kebenara. Syukur-syukur, bisa menconto Pernikahan ‘samawa’, yang dalam takaran Realeble-validitasilmu eksak saintis, terbukti andal, mencipta cita-ci(n)ta mulia. Gitu aja, kog repot?!! –Anggap Gus Dur yang dawuh
Atau, kalau dirasa masih sulit, pandangi aja sang musafir - foto di sebalah kanan - , perindu cita-ci(n)ta mulia. Yang baik hati, - nyaris - kécé, lebih-lebih, (kata rekan akhwatnya) sregep lan pinter ngampus, *bonus penak ngajiné.. !!?@#@$ (pengen *ksis binti narsis)
Iklan ada di sini


Komentar