Menjadi Pawang Agent of Rahmatan lil Alamin
Merangkai kata, mennyemai Makna
Setiap ORGANISASI di dunia ini mempunyai dream yang sama, yaitu pertama tetap ada. Dan yang kedua adalah ‘berkembang’, baik segi kualitas maupun kuantitas. Untuk membuat dua mimpi tersebut menjadi nyata, banyak usaha harus dilakukan juga keringat yang dikeluarkan. Namun seringkali meskipun hal ini mulia, dalam penerapanya tidak fokus terhadap apa yang perlu dilakukan. Banyak organisasi lupa untuk menghayati satu hal yang amat penting, yang ada di dalam organisasi. Ya.. tujuan.
Tujuan, biasanya terwakili olehvisi suatuorganisasi. Tujuan juga merupakan pedoman nilai untuk melaksanakan rutinitas organisasi yang pragmatis (taktis-strategis). Tujuan organisasi pula yang harusnya menjadi dasar dari kultur organisasi . ‘Kultur organisasi’ yang baik, akan lahir dari organisasi yang memiliki tujuan jelas, karena tujuan adalah sesuatu yang juga akan membentuk kepercayaan individual dan norma-norma setiap anggota organisasi.
Dengan tujuan yang jelas, dan dihayati, organisasi bisa melakukan hal-hal besar yang mengubah lingkungan terlebih dunia menjadi tempat yang lebih baik. Dengannya juga, organisasi akan menemukan eksitensinya, bisa mencapai kesuksesan yang diharapkan, walaupun zaman berubah dan terus bergerak, ke arah yang semakin tak karuan sekalipun.
Terkait dengan para pelaku organisasi sekarang ini, sikap patuh buta atau taat perintah, saya rasa sudah tidak menjadi hal yang perlu dipertahankan lagi. Setiap organisasi membutuhkan anggota yang merasa ‘terlibat’ dengan tujuan maupun visi organisasi tersebut. Mereka datang ke forum diskusi juga kegiatan dengan semangat, dan memiliki tujuan yang jelas. Ini semua terjadi karena mereka merasa dihargai sebagai manusia yang memiliki peran penting dalam mewujudkan organisasi yang di impakan seluruh pelaku organisasi yang ada di dalamnya.
Dalam kehidupan, kita mengenal yang namanya ‘ketidakpastian’. Resep kesuksesan dari organisasi-organisasi yang ada di duni dewasa ini adalah salah satunya dengan menjadikan ‘ketidakpastian’sebagai teman, bahkan sahabatnya. Dengan memeluknya, kita bisa melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terlihat sebelumnya, asal kita mau sabar dan teliti pada prosesnya. Adanya tujuan organisasi yang jelas dan dihayati bersama juga membantu kita memeluk ketidakpastian, dan menangkap kemungkinan-kemungkinan yang muncul kemudian, yang pada akhirnya akan sangat berpotebsi dalam mengembangkan organisasi.
Di sisi yang lain, sekarang ini banyak organisasi yang mengalami krisis kepemimpinan. Pimpinan hebat di masa lalu gagal melakukan regenerasi, sehingga ketika beliau pergi, organisasi mengalami kesulitan. Padahal untuk bisa bertahan di lintasan ruang-waktu dan perubahan jaman, organisasi membutuhkan kepemimpinan yang tangguh, yang berbasis pada nilai-nilai yang jelas.
Maka dari itu investasi perlu dilakukan, salah satu yang paling dekat dengan visi itu yaiut dengan pengembangan sumber daya manusia untuk menemukan calon-calon pemimpin di masa depan adalah sebuah keniscayaan. Bahkan orang-orang muda di dalam organisasi perlu diajak bekerja sama secara langsung dengan para pengurus yang ada, supaya terjalin hubungan yang lebih dalam, sehingga proses transfer nilai dan refleksi atasnya, bisa terjadi secara baik dan nyata.
Pawang - Dalang
Sebelum saya urun beberapa ‘point’ dan wacana terkait tahapan bagaimana menjadi seoarang pawang organisasi, ada baiknya saya melambari dengan penjelasan atau definisi terkait ‘pawang’ ini sendiri. Meminjam idiom pawang-dalang dari mas Noe(letto), saya ingin bertanya kepada panjenengan, apa definisi pawang dan dalang? Apa persamaan dari kedua ‘profesi’ itu tadi? Selain persamaan, ia punya perbedaan yang mendasar dalam bentuk atau metode yang digunakan, apakah itu? Mungkin ini bisa menjadi rumusan masalah dari makalah kita tentang pawang kali ini.Pawang sepengetahuan saya adalah seorang pengendali dari sesuatu ‘hal’ ataupun entitas yang dengan kemampuanya bisa merubah, meng’organisir, memanejemen, dst.. untuk suatu tujuan dan maksud tertentu. Misalnya, ada pawang hujan, pawang (pengembala) bebek, pawang ular, dst.. Sedangkan Dalang lebih identik dengan dunia perwayangan dimana, dimana ia menjadi tokoh sentral sebagai pengendali penuh dari pertunjukan wayang, penentu skenario dan alur kemana pagelaran wayang kulit akan dibawa.
Lalu, apa persamaan dari keduannya? Sejauh yang saya tahu, keduanya memiliki kesamaan dalam hal ‘otoritas’ atau kekuasaan. Mengulang ilmu tabayyun kita terdahulu, yaitu surat an-nas, baik pawang maupun dalang mempunyai hak yang sama dalam hal kepemimpinan. Pada tataran malikin nas dengan otoritas yang dimilikinya, keduanya adalah penentu dari apa-apa yang akan terjadi terhadap yang dipimpinya.
Meski keduanya sama-sama pemimpin, cara atau metodologiyang digunakan adalah berbeda. Sekaligus menjawab pertanyaan yang ketiga, pawang adalah orang yang memimpin namun tak sedikitpun yang ‘dipimpinya’ tahu bahwa mereka sedang dipimpin. Lain halnya dengan dalang, ia menjalankan kepemimpinnya dengan mengandalkan otoritasnya dan sering kali diketahui olah yang di pimpinya. Lebih jauh, presisidari permisalan ini tadi adalah jika pawang memimpin dibalik layar yang seringkali yang dipimpinya ‘tidak sadar’ sedang dipimpin, sedang dalang lazimnya seoarang pemimpin yang ada saat ini yaitu yang dipimpin ‘sadar’ bahwa sedang dipimpin.
Pada titik ini kita semuanya akan sadar, bahwa pawanglah yang lebih kita butuhkan dalam konteks organisasi yang kita cintai ini. Dalang memang harus ada dalam organisasi, sebagai penata alur, irama, maupun kultur yang menjadi impian kita tadi. Namun tanpa pawang-pawangorganisasi, rasanya juga akan sulit untuk mengajak para generasi penerus kita, untuk duduk bersama memahami dan menghayati tentang tujuan juga visi organisasi itu tadi. Saya cukupkan penjabaran dari pawang, semoga sudah bisa mengantarkan penjenengan kepada pemahaman positioning baru, dari UKMI (padahal cuman ke’isengan saya he he).
Kembali ke cara agar organisasi tadi bergerak secara masif dan berkesinambungan tadi, langkah pertama seorang pawang adalah memahami dan menghayati tujuan dari organisasi dimana ia ada. Tujuan itu harus dibadankan, sehingga menjadi satu dengan ‘cara berpikir’ dan gerak gerik dirinya. Dengan berpijak pada tujuan yang jelas, seorang pawang bisa mengajak yang ‘dipawanginya’ untuk terlibat, merasa berarti, dan bekerja sama untuk mencapai mimpi yang diharapkan. Dengan bekal semacam itu juga, ketidakpastian dan relativitas bukanlah ancaman, melainkan justru kesempatan untuk berkembang. Dalam al-quran sudah di jelaskan –min kaitsu la yah tasib—yaitu suatu yang tidak disangka-sangka, yang denganya pula rahmat dan berkah Allah akan datang banyak dan dari arah mana saja.
Jikalau boleh bersaran agar setiap saya dan panjenengan sebagai pawang organisasi tidak hanya berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata, tetapi juga dengan perilaku atau tindakan. Perilaku yang terlibat membawa sejuta makna yang jauh lebih dalam daripada sekedar kata-kata. Inilah kepemimpinan yang sejati, dan bukan sekedar bos, apalagi birokrat. Kita sama-sama mencoba untuk melibatkan diri di dalam semua dimensi kerja organisasi. Dengan itu cintakita terhadap apa yang kita kerjakan memancar keluar, dan menular ke teman yang lain dan komunitas sekitarnya.
Menebar benih Inspiratif
Kembali ke awal tulisan ini, mengapa tujuan harus dihayati sampai ke akar-akarnya, dan bukan hanya sekedar tertulis dalam visi , atau kata-kata indah dalam mars organisasi. Tujuan organisasi bisa menjadi roh yang mendorong lahirnya kreatifitas, keterlibatan, dan strategi yang efektif untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan. Di dalam semua proses tersebut, ada satu komponen yang kerap terlupakan, yakni kemampuan kita sebagai pemimpin, untuk menginspirasi seluruh komunitas organisasinya. Lebih jauh, sudah seharusnya kita mulai untuk mulia belajar menebar benih-benih inspiratif dengan cara seanggun dan arif mungkin.
Inspirasi adalah suatu yang sangat penting bahkan fundamental dalam sebuah komunitas ataupun organisasi. Ketika mendapatkan inspirasi orang seperti merasa ‘kerasukan’, yakni melihat dunia dengan cara lain, dan merasa mendapatkan visi besar yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan. Semua ini hanya dapat terjadi, jika ada motivasi yang cukup kuat dari individu untuk menciptakan, dan membuat mimpi terpendam menjadi kenyataan. Motivasi yang amat kuat akan melahirkan inspirasi yang tak terduga.
Orang-orang yang inspiratif seringkali memiliki motivasi diri yang amat kuat untuk mengembangkan diri. Mereka tidak terlalu peduli pada dorongan eksternal. Dampaknya amat besar. Mereka melakukan sesuatu bukan untuk alasan-alasan di luar tanggung jawab itu sendiri, tetapi demi dan karena tugas itu sendiri cocok dengan jiwa mereka. Orang-orang inspiratif adalah orang-orang yang berhasil mentransendensi egoisme dirinya sendiri.
Secara psikologis juga dapat dikatakan, bahwa orang-orang yang inspiratif memiliki karakter psikologis yang baik, seperti kepercayaan pada kemampuan diri mereka, serta optimisme yang tinggi dalam melihat realitas dan dunia. Orang-orang inspiratif memiliki gudang inspirasi mereka sendiri. Dengan inspirasi yang ada, mereka mampu menguasai dengan baik apa yang menjadi pekerjaan mereka, kreatif dalam menemukan hal-hal baru yang berguna, mampu menyerap hal-hal baru yang belum mereka ketahui, amat percaya diri, dan optimis di dalam hidupnya.
Dengan inspirasi yang ada, orang bisa menjadi kreatif, yakni mencipta hal-hal baru. Dengan inspirasi yang ada, orang bisa melihat melampaui halangan-halangan yang ada, dan menemukan solusi yang pas untuk tantangan di depan mata., karena ia sendiri yang menemukan banyak inspirasi di sekitarnya, Konsekuensi logisnya adalah ia akan lebih mudah melakasanakan tanggung jawabnya. Ia akan merasa bahwa aktivitas yang dijalaninya bermakna, lepas dari berbagai tantangan yang ada.
Lepas dari semua teori yang ada tentang inspirasi, ada satu hal yang tetap harus dipegang teguh dan di fahami, bahwa inspirasi datang tak terduga. Inspirasi tak bisa dipaksakan. Kita hanya bisa membantu menyemai benih inspiratifnya. Namun semua itu belum pasti mendatangkan inspirasi bagi mereka. Kita harus menggunakan ilmu tawakal dari Allah, sebagaimana ketika kita menanam pohon yang bisa kita lakukan adalah memastikan kita sudah benar dalam menanam pohon itu, urusan yang menumbuhkan dan pohon itu hidup adalah seratus persen hak pereogratif Allah.
Pawang Agent of Rahmatan lil Alamin
Sebagai langkah pragmatis yang bisa kita lakukan sekarang adalah menciptakan situasi-situasi yang mendukung setiap orang, apapun posisinya di dalam organisasi –dalam hal ini UKMI-- , agar supaya mampu mendapatkan inspirasi sesering mungkin, untuk kemudian menerapkannya menjadi kenyataan. Maka dari itu, menjadi pawang adalah cara paling efektif untuk bergerak melakukan hal itu.
Sederhana saja, dengan menjadi pawang siapapun akan lebih mudah untuk di ‘pawang’i, dan menebar benih inspiratif itu tadi. Mereka bahkan akan sangat antusias dan sukarela untuk melakukan hal yang menjadi tanggung jawabnya, meskipun berat sekalipun. Dengan menjadi pawang, mimpi kita menjadi lebih nampak semakin dekat dengan ‘kenyataan’, bahwasanya akan lahirnya pemimpin-pemimpin yang ideal, kultur UKMI yang semakin bisa ridho bi ridho satu sama lain, lebih jauh regenarasi yang menjadi idaman kita, dimana sebuah generasi larva yang akan merubah dunia juga menjadi Mercusuar Peradaban.
Sudah sudah.. rasanya sudah mulai protes ini perut saya. Udah melantunkan ‘musik’ yang mengalun indah ihwal ‘kekosongan’ (kalau tidak boleh di katakan kelaparan he he). Dari tadi panjang lebar nglindurngomongin peradaban saja. Sudah siap jadi Pawang Agent of Rahmatan lil Alaminkan Njenengan?. J [ ]
Dari sahabat sekaligus
Sparing partner penghutang jasa,
MNH.jkc
Malang | 07 Jan. 2016
17.10 WIB
Iklan ada di sini



Komentar