Menjemput Cita-Ci(n)ta Mulia #2
Sebenarnya, matahari hari ini adalah matahari yang masih sama seperti lusa dan sebelumnya.
Semburat cahaya yang mengalir hangat masih menyapa diawal hari ini.
Semburat cahaya yang mengalir hangat masih menyapa diawal hari ini.
Embun pagipun masih embun yang sama,
Yang menemani lembaran daun dari kesendiriannya meratap ujung malam,
Yang menemani lembaran daun dari kesendiriannya meratap ujung malam,
Seperti itu jua,
Kalam-kalam do'a yang mengalir diujung peraduanku masih sama seperti lusa dan sebelumnya.
Kalam-kalam do'a yang mengalir diujung peraduanku masih sama seperti lusa dan sebelumnya.
Hanya saja, kali ini sedikit kutambah,
Agar supaya dirimu yang benar-benar menjadi jalanku menempuh separuh agama.
Agar supaya dirimu yang benar-benar menjadi jalanku menempuh separuh agama.
Bila bisa bersama di atap kemuliaan adalah sebuah harapan,
Maka, saling mendoakan agar segera diijabah adalah sebuah keniscayaan,
Maka, saling mendoakan agar segera diijabah adalah sebuah keniscayaan,
Bukankah kita sama-sama mengerti,
Bahwa do'a adalah puncak tertinggi dari ibadah,
Untuk itu, kutempuh cita-ci(n)ta mulia ini dengan mencipta romantika rindu yang mewujud Do'a.
Bahwa do'a adalah puncak tertinggi dari ibadah,
Untuk itu, kutempuh cita-ci(n)ta mulia ini dengan mencipta romantika rindu yang mewujud Do'a.
Kiranya kita belum saling memahami dan mengerti, juga belum saling mengenal.
Maka cukuplah kita jauh dimata saja,
karena nyatanya kita amat dekat di Do'a.
karena nyatanya kita amat dekat di Do'a.
Untukmu,Berusahalah selalu mendekat pada-Nya,
Seraya selalu berdoa dipenghujung malam.
maka akupun akan terus berupaya mempersiapkan diri untuk menjemput dirimu.
Berusaha meyakinkan-Nya untuk bersegara mempertemukan dan membersamai kita.
__________________
Malang | 20 Januari 2016
*)Menjemput cita-ci(n)ta mulia.
**)MccM
*)Menjemput cita-ci(n)ta mulia.
**)MccM
Iklan ada di sini
Komentar