Mesin Tik Kuno di Zaman Digital
(men)Tabayyun realitas Mahasiswa
![]() |
| aktivis mahasiswa |
Apa Universitas itu? Yaitu Kertas-kertas tulisan yang tersusun dari simulasi-simulasi pemikran komprehensif, yang setia mengemban idealisme intelektualnya, yang senantiasa hampir berhasil mengatasi godaan untuk menyembunyikan 'kebenaran' dan manipulasi kenyataan.
Apa Universitas itu? Yaitu Mata Suci si bayi, yang bening nan jujur menatap sebuah kebenaran dari kenyataan. Ia lah mata pemuda yang berpandangan jauh kedepan meramal peradaban. Ia lah mata orang dewasa yang tegar, yang selalu Terbuka agar menjadi sahabat setia dari nilai kebenaran, betapapun menyakitkan. Ialah Mata orang tua bijak, yang telah mengalami pasang surut kehidupan dan melewati ranjau sepanjang perjalanan menjumpai bahwa kebenaran saja yang patut dipertahankan.
Siapa Universitas itu? Yaitu Komunitas unggul yang tidak pernah sedikit saja terpisah dari habitatnya. Ialah para mahasiswa yang tidak punya waktu untuk berhenti mengamati gerak kehidupan, yang tak punya alasan untuk tidak (ber)tabayyun. Ialah mahasiswa-mahasiswi yang melahap segala macam informasi, menemukan jati diri dan ilmu kehidupan yang mengaturnya lewat corong informasi yang melimpah Persediaanya. Ialah sang aktivis anak bangsa yang meng’insyafi dirinya sebagai pemegang amanat pengabdian pendidikan masyarakat, agar hari esok menjadi lebih baik dan kesejahteraan tak mampu beraling dari genggaman. Ialah Pemegang Estafet Toga Yang agung, Tingkah laku cerdas, Prestise, Mempunyai Rasa dan Rasio terpadu, juga menjadi mitos sang surya di tengah gelapnya bumi pertiwi.
Ia Mengusap busa di bibirnya dan melanjutkan. “ Tetapi Sekarang yang terjadi Agak Berbeda. Kutu-kutu Lebih rajin membaca buku daripada mahasiswa itu sendiri. Perpustakaan bekerja amat sangat santai, bahkan ada hari ketika pegawai perpustakaan meminta kepada Kepala Suku Universitas untuk memaksa Agar mereka tak mengganggur sama sekali. Mahasiswa hanya sang pemuja hedonisme, dan konsumen komoditas eceran di pasar ilmu. Waktu Ke pasar mereka cukup membawa kantung telinga, dan otaknya hanya disimpan dalam brangkas besi.
Mereka Menjadi Korban, begitu banyak yang tidak mencintai Universitasnya kecuali 'nama' dan 'Ijazah' yang diberikanya. Pengetahuan yang dimilikinya hanya 'selebar' daun kelor, Naluri kreatifnya telah mati di makan sebuah ideologi hedon juga b*nci. Begitu banyak yang mengubah Kodratnya sebagi super komputer yang maha canggih menjadi mesin tik kuno nan usang yang sudah tak layak di gunakan pada zamanya.
Di sudut forum diskusi, seorang Mahasiswa tak lagi bisa menahan kemarahanya. “Cukup! Harap saudara hentikan permainan kata-kata yang hanya mengandalkan 'retorika' itu. Yang saudara kemukakan itu tidak mempunyai kredibilitas ilmiah. Sebagai refrensi amat lah lemah, karena tidak ada literatur yang jelas yang menjadi sumber kutipan. Kesimpulan tidak disadari data yang Konkret. Tak bisa di pertangung jawab kan.
Setelah itu saya pun 'terbangun' dengan muka cemberut dan perasaan tidak terima, karena baru saja memimpikan realita "saya sendiri" sebagai mahasiswa...!!?. [ ]
_______________________________________________
di adaptasi dari buku Slilit sang Kiai - Emha Ainun Najib
Iklan ada di sini


Komentar