Motivator apa motif(maaf)kotor ?
Menyublim embun nestapa menjadi padatan makna
Sulit dibayangkan akan terjadi, seoarang yang ‘miskin’ melakoni profesi sebagai motivator. Tampil di televisi, seminar-seminar, memproduksi buku-buku nasehat, dengan gaya seadanya. Para penjaja petuah adalah bos mereka yang di anggap zaman sebagai para peraih keunggulan. Kaya, berprestasi mumpuni, dengan definisi-definisi ter-update masa kini. Orang miskin, dianggap tidak kompatibel untuk masuk ruangan itu.
Hampir mustahil menemukan relitasnya, seorang tak berpunya, dalam perspektif pengukuran kuantitas kepemilikan materi zaman modern, berdiri dihadapan sekian orang, lantas bercerita bagaimana lika-liku kehidupan. Membicarakan tentang keadaan yang dicibir sebagaian manusia lain sebagai dampak karena tidak ‘mau’ bekerja keras. Golongan papa yang dicuriagai tak punya gudang inspiratif, bagi kaum yang lain. Hidup dalam kemiskinan menurut hitungan-hitungan statistik ketentraman hidup, masuk pada katagori kemalangan. Kemudian bahasa membungkusnya dengan istilah ‘ketidakberuntungan’. Tak ada pelajaran yang mengejutkan disana. Hampir-hampir, kemiskinan tampil sebagi ‘wajah’ buruk, bukan serupa cermin yang sama baiknya untuk berkaca.
Saya takjub dengan orang-orang yang meluangkan kesempatan untuk mengikuti seminar-seminar motivasi. Duduk menyimak seseorang yang dianggap ‘inspirator’, bicara melambung perihal pencapaian-pencapaian kebijaksanaan konseptualnya. Seakan dia ‘makhluk ajaib’ yang jadi sosok penjawab segala tanya mengenai problematika kehidupan. Betapa kesibukan agenda, padatnya jadwal aktifitas perburuan dan saling sapa pada perhelatan sosial, membuat sekian orang tidak sempat untuk menyerap hikmah-hikmah, sehingga memerlukan seoarang ahli bernama ‘motivator’ guna mengingatkannya.
Gayung-bersambut Kapitalisme
Industri kapitalisme sebagai jangkar serangan. Dengan membidik kekeroposan bagian dalam tubuh peradaban modern, untuk dijadikan sasaran tembak penjualan. Menyediakan jalan bagi sejumlah pihak yang pandai bermain ‘kata-kata’ ditambah mempunyai pengalaman hidup ‘unik’, dibungkuslah mereka sebagai aset untuk perniagaan kesuksesan. Kata-kata mutaiara bertaburan, menjadi pernik-pernik yang menyertai lapak motivasi. Apa yang ditawarkan adalah cita-cita yang umum diketahui. Konsep-konsep ideal menjadi manusia unggul dalam kacamata modern. Berharta melimpah, tersohor, berkedudukan sosial istimewa dan pelukar masalah handal.
Motivator adalah sejenis manusia khusus yang diberi perangkat-perangkat pikir, perilaku serta pencapaian yang gemilang. Tempat bergantung bagi mareka yang bingung terhadap kehidupan. Nyaris sempurna.
Maka sangat tidak mungkin, seorang fakir harta memegang pekerjaan itu. Jauh dari syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemegang palu aturan industri motivasi. Justru kemiskinan merupakan keadaan yang menjadi bahasan. Motivator adalah juru selamat bagi tiap orang yang sedang berkubang dengan keadaan krisis. Sehingga tak pantas, orang ‘miskin’ menasehati yang lain tentang kesuksesan.
Ini zaman ketika nasehat menjadi komoditi. Aset yang bisa diperjualbelikan. Peradaban sedang di bangun pada kaidah-kaidah yang serba material. Bahkan spritualitaspun perlu dibendakan. Nasehat yang bersifat ‘ruhiyah’, dipertukarkan menjadi materi yang bersifat ‘wadag’. Dipertukarkan dengan lembaran dan keping uang, dijadikan bekal profesi, ikut dalam percaturan ekonomi yang berhukum laba-rugi. Tugas-tugas sebagai manusia untuk berbagi ilmu seripati hidup, disulap menjadi transaksi perniagaan. Kemanusiaan sudah pensiun, berganti arena barter keuntungan.
Sebuah perusahaan, komunitas atau kelompok orang yang sedang bimbang dengan sengkarut dinamikanya, meminta seoarang motivator untuk datang. Berceramah panjang lebar dalam durasi yang telah disepakati. Tentu ada tarif yang berlaku. Saya sendiri tidak tahu, bagaimana cara para motivator itu menentukan harga ‘dirinya’ sekali tampil. Sedang apa yang dipertukarkan sendiri sangat tidak jelas. Kondisi yang berbeda, apabila menilik sistem katagori argumentasi kenapa seseorang dibayar, pada profesi lain.
Contoh sederhana dan paling jelas adalah penarik becak –misalnya—. Dia dibayar sebab kendaraan yang dipakainya melayani orang lain memungkinkan mengalami penyusutan nilai guna. Maka perlu ada pembiayaan perawatan. Membeli ban roda anyar, karena gundul saking banyaknya jarak tempuh. Belanja cat untuk memperbaharui warna moda tersebut, yang kemungkinan telah pudar akibat terik matahari dan guyuran hujan. Ada lagi, seoarang dokter. Dia dibayar karena obat-obatan yang di belinya, jarum suntik dan peralatan selainya, yang membutuhkan modal tertentu, lalu dijual kepada pasien. Untuk perihal diagnosanya terhadap si sakit, tentang apa yang dikeluhkanya, itu wilayah tugas ‘kemanusiaan’ yang tidak layak di niagakan. Hal yang sama dengan tukang becak tadi juga. Keramahan yang diberikanya, perlindungan untuk penumpang apabila ada bahaya muncul mengancam, itu bukan merupakan variabel yang dijadikan syaratnya mendapat imbalan uang.
Ada persoalan tolok ukur yang makin buyar. Antara tugas mencari dan mengelola nafkah bagi bahan bakar pergerakan material dan tugas-tugs kemanusiaan yang berguna untuk melancarkan kayuhan ‘spiritualitas’. Keduanya merupakan sisi-sisi sekeping koin kehidupan. Tak bisa dipisahkan, bergerak seiring. Tapi bukan berarti tanpa penanda. Tugas kemanusiaan yang berlandaskan ‘tanpa pamrih’ bersanding dengan kegiatan mengais laba kebendaan, memang seringkali tidak empan-papan atau salah tempat. Tertukar wadah karena kebingungan meletakkan, yang mana urusan nilai yang tidak layak diniagakan, mana urusan jasa yang patut diuangkan.
Hari-hari ini wejangan ditarifkan, petuah dijadikan barang dagangan. Kegiatan manusia untuk berinteraksi dalam bingkai saling menasehati dalam kebaikan, tidak lagi dibayar dengan keutuhan tekad untuk mengubah karakter-karakter yang bertentangan dengan batas-batas akhlak. Orang kerap menyebutnya ‘hati nurani’. Ini gejala yang membuat decak keheranan. Sangat mungkin disuatu saat nanti, doa-doa akan di labeli dengan harga, ditempel stiker barcode. Hanya untuk menasehati diri sendiri, seseorang perlu menggunakan jasa motivator, dengan mengeluarkan sejumlah uang. Lebih miris lagi, hanya demi melakukan hal-hal baik, seseorang membutuhkan motivasi bertubi-tubi dari para ahli, atau mengumpulkan pesan-pesan dalam bungkus kata mutiara yang dikeluarkan dari ‘mulut’ yang dipercaya punya kompetensi.
Membiasnya Niat
Menyaksikan beberapa acara seminar motivasi, atau tayangan televisi, tak ubahnya saya sedang menonton akrobat cara bijak dan cepat menjadi sukses. Dan dalam parameter modernitas, sukses adalah kekayaan harta, kepengenguasaan sistem yang lebih luas dari kondisi sebelumnya. Program-program yang digelar terebut lebih nampak seperti pemberian jurus-jurus jalan pintas meninggalkan kemiskinan harta, bukan kemiskinan jiwa.
Barangkali niat awalnya bagus. Acara-acara tersebut diselenggarakan sebagai alarm kewaspadaan sekaligus huma tempat isitirahat pada hidup yang lelah. Orang-orang yang lelah perlu disuntik analogi-analogi peristiwa yang mengupas tema sama, pada sisi yang berbeda. Sebut saja, kenduri perspektif. Perkumpulan untuk melakukan pertukaran cara pandang terhadap masalah. Supaya hidup lebih luas, dan keputusaasaan ditendang jauh-jauh. Logika yang berjalan, bahwa kemiskinanan harta adalah akar dari segala hal yang bersifat buruk, menyebabkan miskin jiwa pula dan mengganggu stabilitas sosial, merupakan dorongan untuk ramai-ramai menjadikan situasi itu menjadi musuh bersama. Wajar. Maka gelaran motivasi menjadi semacam pemantik untuk lebih progresif dan cerdas dalam lilitan perkara hidup.
Namun dalam perjalanannya berubah. Panggung-panggung yang berisi khotbah motivasi dijadikan telaga angan-angan, berharap setelah datang dan mengikuti tuturan strategi dari motivator, hidup seseorang bakal sukses. Tentu saja dengan definisi sukses terkini. Mampu menyelesaikan masalah-masalah tanpa harus berpening-pening ria, seiring solusi yang diberikan motivator ulung yang dijadikan panutan itu. Kecenderungan untuk ketaghan pun menjangkit. Kegiatan mengambil pelajaran-pelajaran dari luar, lebih besar ketimbang menggali dan memahami apa yang di alami bergejolak di dalam diri sendiri. Ujian dan masalah yang sedianya dijadikan tonggak kenaikan kelas bobot kemanusiaan, akhirnya dikarduskan sebagai momok. Dan motivator adalah seseorang yang bisa menjauhkan dari aral-lintangan itu.
Padahal, apa jadinya jika masalah tidak ada atau dianggap tiada? Hidup jadi datar, dan orang tak lagi punya penggaris untuk mengukur kualitas hidupnya.
Motivator : must be back to the street
Saya sama sekali tidak ‘sinis’ dengan perhelatan-perhelatan motivasi, inspiring Talkshow, dst. Yang sedang digandrungi mahasiswajuga kalangan profesional. Yang kini gaduh di universitas-universitas dan kota-kota. Namun hanya ingin urun rembugmenitip usulan letak agar empan-papan(tepat koordinat). Bahwa motivasi berikut pentas-pentas yang menyangganya itu baik, apabila diletakkan sebagai kursus ‘cara berfikir’. Melatih kepiawaian dalam mengurai tiap persoalan agar sesuai ruang dan waktu, lewat percontohan-percontohan kejadian yang dialami orang lain. Untuk selanjutnya pulang ke diri sendiri, mencetak formula-formula baru dari adonan penyerapan pengalaman selainya tadi. Tetap saja, pulangnya adalah ke dalam diri pembutuh motivasi. Sebab persis kemampuan tiap individu berbeda. Keberhasilan itu masing-masing, juga bertahap, tidak bisa disepadankan dan direngkuhi sekali dayung, apalagi dibuat buku panduan.
Kemiskinan memang berat –pengalaman ini rasanya—, tapi jika tolok ukurnya adalah miskin harta, itu masih belum tentu. Yang sangat memprihatinkan adalah miskin jiwa, tipis mental, kéré spiritualitas. Hanya untuk membantu sahabatnya yang membutuhkan, seseorang perlu menghitung neraca pamrih. Ketika hendak melaksanakan tugas kemanusiaan dan perbuatan dalam ranah kebaikan, dia perlu mendengar ceramah dulu, tentang betapa itu semua sebagai tugas utama manusia. Untuk patuh pada syariat agama saja, harus di-petuah(i). Sampai yang lebih mencengangkan, pengabdian kepada Tuhanpun ditimbang dulu dengan berapa banyak laba pahala yang didapat. Kemiskinan ‘spiritualitas’ lebih berbahaya dari kefakiran harta benda, dia mengobrak-abrik nilai, dan menyeret segala sesuatu kepada transaksi-transaksi yang dimaterialkan, diorientasikan kepada laba-rugi kebendaan.
Saya hanya sekedar beropini. Saya bukan Ilmuwan, ulama, Psikolog, apalagi dosen –mahasiswa aja perlu dipertanyakan—. Tidak memilki kapasitas ataupun kapabilitas untuk menilai apa yang diyakini seseorang. Ini pun hanya iseng, pengisi masa perkampusan menunggu mancing ‘nilai’ di bahtera remidi. Anggaplah saya hanya seorang yang kali ini berdecak heran, kenapa orang sekarang mudah sekali Nggumunan. Padahal kakek buyut saya –ngaku-ngaku— Sunan Kalijaga sudah memperingatkan jauh-jauh hari Ojo nggumunan, jebul kapusan.
Mbulet ya? Tak apalah. Selalu tersedia sisi-sisi alternatif, agar hidup dipandang sebagai kelengkapan. Bukan sekedar sibuk menggugat Tuhan dengan parameter keadilan dan ketidak adilan. Atau mengeluh panjang, kemudian mengunjungi sebuah perhelatan motivasi, hanya untuk mendengar nasehat “Bersabarlah, hidup memang sulit. Jangan menyerah, ikuti langkahku, perhatikan kata-kataku. Selepas ini hidupmu akan lebih baik. Salam sukses. Wuih, Quote motivator apa motifkotor ? [ ]
Iklan ada di sini

Komentar