Punakawan Bertutur #1

Gareng dapat wangsit

       Gareng (salah satu dari Empat Punakwan), seharian ini tenger-tenger mikir tentang suasana pergaulan sosial kerajaannya. Bukannya malah adem ayem, namun suasananya makin lama makin gerah.
       Belum usai tentang penipuan-penipuan anggota dewan UKM-I (Unit Kegiatan Masyarakat Irasional). Sekarang tambah ada masalah bentrokan antara HMW (Himpunan Mahasiswa Wayang) dengan aparat POWRI (Poenggawa Kerajaan Astina). Puncaknya di negeri yang Gemah ripah loh jinawi juga Baldatun Thoyibatun Warobbun ghofur namun agak sedikit linglung wa bingung, la kog sekarang malah di tinggal minggat oleh Rajanya. Lengkaplah sudah Kerajaan ini berposisi di ujung titik nadir ke-limbung-annya.

         Daripada mikir sendirian, mendingan nyamperin Petruk dan Bagong yang lagi Rembug di Sekert milik SIPIL (Serikat Ikatan Pemuda Irasional dan Linglung)”, pikirnya lagi. Dan segeralah Gareng pergi kesana. Tiba di sana, ia melihat Petruk dan Bagong lagi gayeng bicara sambil ditemani kopi kothok dan singkong goreng. Maklum sekarang Sekertariat tersebut berubah fungsi menjadi warkop (warung kopi), yang menyediakan tidak saja kopi, juga goreng-gorengan, macam tempe goreng, tahu goreng, pisang goreng, ketela goreng, dan tentu saja singkong goreng.

        Mbakyu penjual kopi yang wajahnya aduhai itu mengerling genit pada Gareng, sambil bertanya, “Mau beli apa Kang Gareng?”. Gareng yang dasarnya tidak tahan melihat Perempuan cantik, bilang sambil cengengesan, “Yu aku pesan SDM aja? “Ih Kang Gareng, kok nakal sih? Aku nih cuma jualan kopi plus …” belum selesai mbakyu itu bicara, keburu dipotong Gareng, “Aku mau yang plus-plus itu lho!” “Waduh Kang Gareng kok jadi genit. Plus itu maksudnya goreng-gorengan kaya’ gini”, mbakyu itu sambil mencubit lengan Gareng. Gareng pastinya kesenangan bukannya malah kesakitan. Dan bahkan merespon, “Mau dong lagi, please!” Sambil pasang tampang mupeng.

      Bagong yang melihat aksi kakang pertama ini, menepuk pundak Gareng dan berkata, “Nggak usah ngrayu segala, ingat yang di rumah lho!” Gareng yang ditepuk dari belakang itu pun kaget. Di sela kekagetannya itu, ia berkilah, “Eh, kamu tho Bagong, ganggu aja kesenangan orang. Aku nggak ngrayu kok, dia aja yang duluan”. “Gitu ya? Lantas SDM itu apa? Sumber Daya Manusia?” tanya Bagong. “Hampir mendekati, tapi bukan itu. Kamu masih awam ya soal itu. Kalo nggak ngerti tanya Petruk sana, dia itu pakarnya”, ungkap Gareng. “Kang Petruk, SDM yang dimaksud Kang Gareng tadi apa?”, selidik Bagong. “Nanti aja kalo sudah di rumah Bopo kita, Ki Semar, jangan di sini. Bisa-bisa kalo diwedar di sini bisa dianggap tidak waras dan meresahkan masyarakat”, jelas Petruk. Bagong dengan terpaksa manggut-manggut melihat penjelasan dari kakak keduanya itu.

        Melihat Bagong manggut-manggut, Gareng pun jadi tersenyum riang. Dan ia berfikir ini waktu yang tepat untuk mengobrolkan problem yang lagi dihadapi kerajaan ini. ”Hei Petruk dan Bagong, apa kalian berdua nggak pada mikir tentang udara pergaulan sosial kita yang sedang sumuk kaya’ gini?, tanya Gareng. Petruk pun menanggapi, ”Dungaren Kang Gareng mikirin kondisi kerajaan ini. Biasanya cuma mikir githok nya sendiri”. ”Lha iya itu, nggak biasanya mikir kaya’ gitu. Apalagi ngomong udara pergaulan, kaya’ sudah pinter politik aja. Inget Kang, kita SD saja drop-out?”, timpal Bagong.

      Mendengar reaksi dari kedua adiknya itu, Gareng sedikit agak mangkel. Lha wong diajak ngomong baik-baik, kok tanggapannya jadi kurang enak di hati. Kemudian berkata, ”Kalian gimana tho, meskipun kita ini sama-sama abdi atau kawula alit, kita juga berhak mikir kerajaan ini. Bukan diserahkan pada Bendara kita saja, yang duduk di birokrasi maupun legislatif sana”. ”Lalu apa kalo kita sudah ikutan mikir, persoalan jadi tertangani, gitu? Nggak kan? Lebih baik kita mikir nasib kita sendiri, para Bendara itu hanya butuh kita saat Pemilu thok” sergah Petruk. ”Memang belum tentu masalahnya dapat selesai. Tapi paling tidak, kita sebagai abdi juga harus tahu diri. Mosok tiap hari mikir kebutuhan sendiri. Itu namanya egois binti narsis”, balas Gareng. ”O egois itu cewek, ya Kang?”, celetuk Bagong sambil cekikikan.

Ternyata akhirnya dialog antara Gareng dengan Petruk dan Bagong, tak dapat kesampaian untuk diselesaikan, sebab keburu terdengar Adzan Shubuh. Dan menurut pesan Mbah Kyai, kalo dengar kumandang Adzan, cepat hentikan pekerjaan dan cepat-cepat untuk berwudlu. 
Apalagi ini perdebatan yang nggak jelas juntrungannya dan juga masalah yang dibahas tiada jelas kapan berakhirnya. Karena kelihatannya dibiarkan berlarut-larut saja! 

Bersamabung nggeh...
Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim