Syarat seoarang 'Mufasir' ( ahli tafsir )
--Salam ta'dzim bagi para mufasir asli . maafkan 'kebrutalan' peringai kami ini....
ADA BANYAK ISTILAH dalam islam yang umum kita perdengarkan, dalam percakapan sehari-hari. Sejatinya, ia lah yang sering dipakai dalam Aquran. Dalam khasanah bahasa arab, terdapat banyak sekali ubahan ‘kata dasar’, menjadi kata yang terus-menerus berganti, ber’anak-pinak makna dan konteks nya. Nyinyir, ketika saya ber-tabayyun ihwal metodologi tafsir yang benar-baik-indah, mendapati kesulitan yang setengah mati ,demi memenuhi persyaratan-persyaratannya.
Ambil contoh, kita ambil dari kitab tentang metedologi tafsir Alquran, terpopuler dewasa ini. Para Ulama menyepakati bahwasanya, aturan baku untuk seorang itu boleh menafsir dengan syarat cukup panjang. mustahil bagi semisal orang seperti saya ini, ‘kadung’ di’ribet’i urusan kampus-kampusan, yang meskipun ‘remeh’, ia memakan banyak waktu luang. Seorang mufasir – orang yang ingin menafsir ayat-ayat — haruslah faham, bahasa Arab lengkap dengan nahwu, sharaf, dan balahgah, paham dengan istilah bahasa jaman terdahulu (shirah Nabi lengkap dengan asbabunuzul-nya, juga dialek percakapan sehari-hari, dst. ) di tambah, harus juga faham hadist lengkap dengan metodologi takhrijul hadist dan seluruh klasifikasi hadist dengan ilmu mustholahul hadist.Jangan dikira, cukup sampai disini, belumlah. Terakhir sekali ( ndak yakin saya, pasti masih banyak temen-temenya ), seorang ‘mufasir’ juga harus mengerti fiqih, ushlul fiqh, nashikh mansukh dan ulumuddin lainya. dari rentetan, jalan menuju seorang 'mufasir' tadi, Konklusi-nya adalah; ‘hanya’ untuk sekedar menyentuh isi Alquran maka, seorang ‘mufasir’ harus masuk **Pesantren** bertahun-tahun, untuk mempelajari itu semua. –modyar koé,.. hayoo – hayoo piye saikimu, pecah ndas mu ora..? hé..? ( umpat seorang mbah yai saya. yang berasal dari Jombang )
Bukankah dalam Alquran sendiri menganjurkan untuk; iqra maa tayassaru minal qur’an; bacalah apa yang kamu (fahami) dari Qur’an secara mudah.Atau Allah sendiri mengatakan : la yamassuhu illal mutohharun. Alquran tidak boleh disentuh, kecuali bagi orang yang ‘bersih’. Bersih dalm konteks kesepaktan ulama kebanyakan adalah bahwa orang harus berwudhu terlebih dahulu sebelum memegang Alquran. Apakah kemudian salah, jika kita mengartikan - misalnya - bahwa, sejatinya value (nilai-nilai) Alquran tidak akan turun kecuali, kepada orang yang ‘bersih’ hatinya ? –saya juga tidak tahu
KALAU dirunut dari awal mulanya awal, secara epistomologis akan di dapati bahwasanya, tafsir bukanlah Alquran itu sendiri. Ia bisa sangat multi intepertatif. Persis ‘sama’ dengan ilmu tabayyunterdahulu, yaitu kebenaran ‘foto gajah’ oleh mas Noe letto. Dimana, dengan ‘teori’ foto itu tadi, ada sangat banyak variable ( ada cara pandang, sudut pandang, resolusi juga jarak pandang, dari si pem’foto gajah ). Maka, jika ditarik kesimpulan bahwa; ‘tafsir’ hanyalah produk manusia atas ‘intepretasi manusia terhadap Alquran. Jadi ‘kebenaran tafsir adalah, kebenaran relatif. yaitu, kebenaran foto gajah masing-masing individu. Penafsiran, tentu sangat erat kaitanya dengan ngelmu atau pemahaman si Ahli tafisr. Bukan lantas, berbeda ‘tafsir’ itu PASTI salah. Selama yang ia tafsirkan adalah Alquran, harusnya kita mesti mafhum, bahwa ketika seseorang ber-ijtihadmempelajari Alquran dengan metodologi yang ia temukan sendiri pada dasarnya orang tersebut sedang dalam ‘proses’ belajar, menemukan kebenaran. –setidaknya itu, yang tercecap, dalam file fikiran saya. sewaktu masih 'sempet' ngaji, di dusun-dusun dulu.
Simulasi { S.O.P } tafsir
JAMAK, istilah dalam Alquran yang bisa kita comot, untuk ber-simulasi. Misal, saya mencomot kata Ikhlas.Berbekal ‘kamera’ yang saya punya (Pengalaman hidup, secuil ilmu, dan sedikit common sense dari akal sehat), akan saya pertunjuk-kan ‘gambar’ foto gajah saya. Hasilnya, seperti ini: kalau sampéan menerima syariat - entah apa saja -, bisa hukum, kewajiban, dan segala peraturan yang di- Kun -kan (baca : perintah) Allah, maka sampéan pantas di gelar i ridho.Ada lagi, jika ada seorang yang ingin melakukan sesuatu, tapi masih ingin ‘dilihat’ oleh selainya, lazim-nya di sebut ‘pujian’. Maka ia boleh di sebut riya.Terakhir sekali, jika sampéan melakukan usaha dengan ‘benar’, lantas haqul yakinpenentu dari segala sesuatunya adalah Rabbil alam'in, maka sampéan, saya ‘anggap’ sedang ber-tawakal.
Sedangkan, orang ikhlassendiri ialah, sesiapa saja yang melakukan ‘sesuatu’ dengan memenuhi, prasyarat-prasyarat berikut : *Pertama. Pekarjaan apapun yang ia lakukan harus di landasi oleh ngelmu yang cukup. ‘Persis’ faham, secara garis besar esensi, syarat-rukun kewajiban, juga hukum ‘boleh-tidaknya’ suatu pekerjaan. *Kedua. Ia harus benar, { S.O.P } (standar oprasional prosedur) untuk sebuah ‘kesempurnaan’ hasil, saat berkarya. Maka, finish-nya suatu pekerjaan, dengan memenuhi ‘kriteria’ tersebut di atas, dan sudah tak lagi membekas ‘celah’. Sedikitpun, jangankan syeithan bahkan ‘manusia’, sudah tak bisa menhujat, menggoda,dst. – gampangnya sudah ‘tegak’ bagai alief-nya Illahun-nya Tuhan – lantaran cukupnya ngelmu, lurus niatnya, teguh hatinya, istiqamah pekerjaanya.
Sejatinya, ada istilah lain, sebelum seorang ‘bisa’ di anggap sudah mukhlisin– seorang ikhlas tadi. Seorang, yang terus-menerus melakukan tabayyun atas, perbaikan-perbaikan apa saja, demi menutup kekurangan dari suatu proses bekerja. Ia slalu check, rechek, crosschek, dan finalcheck, menghitung-hitung kekuranganya untuk suatu entitas yang slalu lebih baik. Seorang yang, punya awareness dalam fikiranya untuk cepat kembali, kalau-kalau di rasa keluar dari track hidup dari ‘manusia’ yang haqiqi yaitu shirathal mustaqim, maka ia sudah layak, untuk di’semat’i identitas seoarang muhsin – seoarang ihsan (insan kamil, jika dalam khasanah‘Tasawuf).
Maka, sesungguhnya ikhlas merupakan; akhir dari spritual Journey hamba, meniti jalan yang digaris lurus – sirathal mustaqim – oleh Tuhannya. berbentuk ‘rentetan’ proses panjang, dalam thariqah-nya. Kemudian, bertemu dengan ke-hakekat-an dan ke-Arif-an, dalam ia berkehidupan. Sebagai (syarat-rukun) , memperoleh ‘kunci’. lalu singgah dan bertamu, ke- rumah Semesta raya.
Namun, jika seorang tadi, masih belum tuntas dari syarat-rukun nya, atau malah bertolak belakang dengan kebenaran. Maka ia boleh, disebut bathil – seoarang yang gugur dalam pemenuhan kelengkapan S.O.P – nya. Ada satu lagi ini. Jikalau ada seorang yang dengan ‘sengaja’ men-diam-kan, kekurangan-kekurangan pekerjaan, maka di sebut seorang fasik. Inilah mungkin, ke- 2 manusia yang di ‘gadang-gadang’ dan di ramal oleh Al Imam Al-Ghazali, dengan Idiom halka. - hulk – dalam bahasa ingris. Halka à { Kehancuran manusia } , hulk { manusia Penghancur }. Wallahu A’lam
hasil tafsir : kebenaran individu
BUKAN MAKSUD, menakut-nakuti. Itu ‘hanya’, hasil dari foto gajah saya. PASTI berbeda, dengan - mungkin - ‘foto gajah’ kepunyaan sampean. Saya hanya bermohon ke- sampean, tabayyun i lagi, kebanaran saya ini. Agar kita, bisa menemukan ‘kebenaran kolektif’ (kebenran orang banyak). Syukur-syukur, Allah terharu, lantas menyuruh para ‘ajudan’ langit, membuka hujjah as samawat, dan meng-anugrahi Kebenaran yang sejati. Amiii.....n ya Rabb. Allahu akbar..!!. Iklan ada di sini
Komentar