Jadzab
Seorang teman, yang intens di sebuah pondok thoriqah di seberang kota, pernah bertingkah sangat aneh. pertama kalinya saya berkenalan dengan lema yang bernama Jadzab..
Amir Mahmud Hamzah namanya. Sahabat dari dusun, yang denganya saya amatlah lekat. bukan mengada-ngada. teman yang dipertemukan sejak umur balita dan TK, sampai terakhir berpisah adalah setamat SMK. Beliau seorang yang sederhana nan bersahaja. ndak neko-neko. pandai bergaul, bisa empan-papan dalam berkawan. makanya, tak heran kalau beliau mempunyai rekanan yang luas dan tercecer dimana-mana, karena sifat pribadinya tadi. jauh berbeda dengan saya ini, yang sukanya menyendiri, ndak suka bergaul, paling pol hanya berkutat di petak kamar rumah bapak ibu di kampung.
Beliau juga, yang mengajari saya menjadi seorang musafir kere. pengembara ulung yang tak risau akan perbekalan dan tempat bernaung dalam perjalananya. menjadi bocah yang tak pernah puas dengan apa yang ada di tanganya. selalu mencari, meneliti dan ingin menemukan sesuatu yang sungguh baru. dalam setiap rentan waktu berkehidupanya, jarang saya temui sesuatu yang tak 'unik' ia lakukan. ada saja tingkah polahnya, yang saya terkadang iri dan nyiyir ingin sepeti yang beliau lakukan. slalu memantik tanya, bagaimana semua hal unik itu hampir slalu berkenan menyambangi jengkal hidupnya.
Tak akan cukup jejeran aksara menguak semua masa silamnya. saya pun ndak punya cukup waktu senggang, menarasi dan mendeskripsi kisah hidupnya. namun, ada satu yang menarik dan ingin saya kutib beberapa jenak darinya. tentang persinggungan terakhir kami di dusun. Yaitu majlis dzikir ala thoriqat yang beliau tekuni akhir-akhir ini. ia, Thariqah. sebuah metodologi dari islam dalam mengejawantah keberedaan sang khaliq. sang Hyang Wenang. Pemilik jagad semesta, alam aya-raya.
Entah kenapa saya masih terngiang-ngiang ihwal persinggungan agung dengan beliau. sebuah prosesi langka -- setidaknya saya belum pernah melakukanya sedari kecil --. tatkala saya di undang ke rumahnya, untuk kerso rawuh dalam majlis mulia bertajuk majlis dzikir. ada hal yang menyentak batin saya. bukan apa-apa, dzikir yang di lakukan pada malam ini jelas berbeda. lazimnya ia hanya disuarakan lirih, setidaknya tradisi di dusun kami seperti itu. dan yang membuat saya bingung ialah reaksi dari pendzikirnya. terutama sahabat saya tadi. ia 'persis' sama dengan orang 'kesurupan'. sembari mengucap lafadz Allah, kepalanya muter dan gela-gelo, tubuhnya gemeteran. mata yang di pejamkan tak memungkinkannya faham dengan lingkup sekitarnya. sampai-sampai jajan di sekitarnya luluh lantak. berantakan, ke tikar tempat acara di gelar.
Jadzab namanya. sebuah lema yang tercipta dari dunia thariqah. dimana sudah menunggalnya, Kehendak hamba dengan Tuhannya. antara amr dan Irodahnya. itu setidaknya yang saya tangkap dari penjelesan beliau. tentunya setelah usai acara. tepatnya pas acara inti, yaitu makan-makan (he he ).
Identifikasi ilmiah
Berangkat dari rasa ingin tahu, penasaran bercampur takut, saya coba me-reseacrh kecil-kecilan ihwal ini. dalam dzikir, ada bacaan tertentu yang harus di perhatikan. Misalnya, kalimat La Ilaha illallah, bacaan Allah, Allah, kalimat yang mengandung Asma al-Husna, atau wirid yang mengandung ayat Al-Qur'an. Semua itu harus diperhatikan, karena mengandung asrar atau rahasia karena di dalamnya mengandung magnet yang tinggi, tergantung besar-kecilnya, sesuai pemberian Allah (Swt).
Hal itu tidak diketahui oleh semua ulama. Yang mengerti hanya sebagalan besar kalangan para wali. Saya ambilkan contoh yang mudah dipahami, misalnya obat-obatan. Dari tablet sampal kapsul, yang mengerti dosis-dosisnya adalah dokter. Bila si peminum obat mengalami overdosis, pasti akibatnya kurang baik. Kekuatan zikir lebih dari itu. Bila tubuh dan batinnya kurang kuat menerima asrar-nya, maka akan timbul perbuatan ganjil atau tidak pada tempatnya. Terkadang yang mengamalkan tidak merasa. Untuk itu perlu batasan dalam dosisnya.
Terkedang ia akan 'terkesan' gila.karena tidak lain, penyebababya adalah cinta yang luar biasa. Sebab, bila zikir dibaca dengan baik, ia mampu menumbuhkan cinta yang amat kuat kepada Allah, juga tumbuh rasa khawf (takut) bila imannya meluntur atau tipis, yang berakibat dirinya jauh dari Allah dan Rasul-Nya. Maka gandengan kalimat khawf adalah raja' (peng-harapan) yang penuh. Tiada yang bisa diharapkan terkecuali Allah, baik untuk bersandar, berteduh, berlindung maupun memohon. Yang ditakutkan adalah matl dalam keadaan su'ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek), dan yang diharapkan yaitu mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik). Selain dan khawf, raja', ada juga haya', yang artinya malu kepada Allah. Dia malu bila berbuat maksiat, malu bila akhlaknya dan budi pekertinya tidak terpuji kepada Allah, Rasul-Nya, para sahabat, para wali, dan para ulama.itulah esensinya. bukan gila dalam pengertian penyakit dan bukan pula gila dalam pengertian meninggalkan syariat atau sunnah, akhlak dan adab Nabi (saw).
Orang yang 'gandrung' atau gila (tergila-gila) kepada Allah jauh berbeda dibanding gila karena maksiat. Biasanya orang yang gandrung dengan pacarnya, akan berpakaian rapi, menggunakan parfum, berbuat apa saja untuk mendapat simpati dan cintanya. Padahal bila sudah tercapai, orang yang dicintai dan dinikaihnya itu, tidak bisa menjamin akan selamat dari api neraka, atau menjadi jaminan masuk surga-Tetapi, kalau kita gandrung dengan Yang Menciptakan surga, Pastilah kita akan didekatkan dengannya, masuk surga. konon sih, begitu.. [ ]
Iklan ada di sini

Komentar