Negara baik-baikan

Demonstrasi penuntutan hak, yang belakangan marak dilancarkan oleh beberapa golongan, menandakan betapa kebanyakan rakyat Indonesia sudah tidak memerlukan lagi diajari bagaimana cara berpikir positif. Para motivator sebaiknya mulai mengurangi konten-konten yang berkaitan dengan itu. Buku-buku motivasi yang membahas ajakan berpikir positif, telah kadaluarsa, jika dibandingkan dengan kepiawaian rakyat mengolah asumsi positifnya.
Bayangkan, di tengah suasana politik yang penuh kecurangan ini saja, masih banyak yang berharap negara masih mmau mengabulkan keinginan mereka. Entah itu soal kenaikan upah, perbaikan fasilitas publik dan semacamnya. Saat para penyelenggara negara sedang sibuk dengan urusan diri sendiri, masih berlimpah orang yang menaruh harapan, agar rakyat juga jangan dilupakan. Lebih Istimewa, ketika negara ini makin keblinger dengan perkara moral dan etika hidup bersama, tetap banyak saja yang mempercayakan kepengurusan bidang-bidang agama padanya.
Begitu hebatnya cara orang Indonesia mengatur pikiran-pikiran positif pada otak dan hatinya. Kebobrokan penguasa seperti tidak mampu mempengaruhi anggapan mereka tentang posisi negara. Meskipun, pemilu adalah simulasi yang nyaris sia-sia, mereka tetap berbondong-bondong menghadirinya. Walaupun tahu partai politik itu tak pernah benar-benar berjuang, tapi lebih banyak berdagang, mereka tetap memilihnya.
Maka, jangan ajari lagi bangsa ini tentang bagaimana berpikiran positif terhadap diri dan lingkungannya. Bangsa indonesia telah lulus dari mata kuliah itu. Sampai-sampai, tidak pernah jera berharap adanya perubahan di tengah kerusakan. Layaknya menonton tayangan berita di media massa. Mengudap informasi itu terus menerus, meski tahu, bahwa kebenaran berita media adalah kebenaran dapur para pembuatnya. Kebenaran misi dagang yang sarat kepentingan politik ekonomi perusahaannya.
Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim