Surat Pengantar Rindu

Oleh : Muhammad Isrofi

Assalamualaikum
Warohmatullahi
Wabarokatuh,
Bagaimana kabarmu.,
Semoga selalu diberikan kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah Swt.
Hampir 2 tahun sudah saat ijab qabul menjadi ikhtiar kita untuk merajut hubungan bersama,
tersadar akan kewajibanku sebagai suami akan nafkah untukmu dan anak-anak kita,
ketahuilah,
Sebenarnya rinduku sudah amat teramat dalam,
selalu kudamba setiap momen untuk mencipta romantika rindu berdua dengan-mu,
bukankah pernah kusampaikan padamu,
Bahwa bila menjadi suamimu adalah perwujudan keinginanku mencapai bahtera rumah tangga impian,
Maka, mencari nafkah untukmu dan anak-anakku, adalah sebuah kewajiban yang harus kutunaikan,
untuk itu kuikhlaskan diri berdamai dengan jarak sembari berpinta pada-Nya untuk selalu memelihara cita-cinta mulia.
biarlah ini menjadi proses mendewasakan rasa, karena kutau Do'amu selalu mengiringi ikhtiarku menjemput Rizki-Nya,
Dinda, ingin kuceritakan kisah tentangku saat meminangmu dulu,
2 tahun silam,
banyak sudah perjuangan ihwal persiapanku untuk menikahimu,
Perihal memantaskan diri juga menyiapkan segala sesuatunya agar supaya pantas diriku bersanding denganmu,
saat banyak diluar sana yang gandrung akan hubungan semu,
Lalu merasa bangga bersebab memiliki pasangan meski tanpa ikatan,
kutau dirimu tak akan memberi tempat untukku diruang penantianmu bila hanya diri ini sebatas ingin berujar cinta padamu atas dasar pengenalan karakter dan pendekatan hati,
Maka kuputuskan untuk bermunajat padanya, untuk meyakinkan juga membersamaiku untuk segera mengkhitbah lalu melangsungkan walimah denganmu,
saat itu, saat-saat kumantapkan hati menemui Wali-Mu dibalik pintu coklat muda.
Mengetuknya perlahan,
Debar hati mengiringi setiap kalimat lisan,
Menyeka peluh yang nampaknya menetes tiada hentinya,
kusampaikan perihal keinginanku untuk meminangmu,
kau yang ada dibelakang ruang tamu mengantar minum dengan getar ditangan,
mencipta nada yang terdengar samar-samar di antara gelas kaca itu,
Ah, sungguh tak berani aku menghadapkan wajahku untuk sekedar melihat anggun wajahmu, tak ada yang bisa kulakukan selain kutundukkan pandang dan membisukan lisan,
Lalu Ayahmu menanyakan apakah aku baik-baik saja.
dan mempersilahkan minum untukku dengan senyum khas'nya.
Kemudian, Wali-mu melanjutkan pembicaraaan perihal angka dalam tanggal untuk prosesi sakral,
Waktu itu, aku terdiam,
bak kehilangan kata-kata,
lalu diamku terusir pernyataan berikutnya dari Wali-mu,
"Kalau begitu besok pagi datanglah bersama keluargamu, tidaklah baik menunda-nunda Niatan baik"
sepertinya hujan tidak turun waktu itu, pun tak ada kilat yang bersahutan,
tapi nampaknya, hatiku menggigil,
menyimpan tanya bahagia disetiap sudutnya,
Batinku berkata "Alhamdulillah",
Sungguh,
sang-Maha kasih membisikkan sebuah keyakinan dalam hati,
dan kini benar dirimulah pelengkap separuh agamaku itu,
Semoga dijadikan kita keluarga sakinah mawaddah, wa rahmah yang dirindu surga juga dicemburui zaman,
dan semoga nanti, dalam ikhtiar suci juga doa yang memuncak,
aku kan tetap menjadi imam dalam dua masa yang berbeda,
Bersamamu juga bersama penerus perjuanganku yang sholeh dan sholeha,
Dinda, kutulis surat ini saat fajar berada diufuk Senjanya,
lihatlah, saat matahari berada di ujung peraduannya, akan selalu ada keindahan setelahnya,
Ingin kusampaikan kalimat penutup surat ini untukmu, Dinda.
Sederhana saja, meski jarak membuatku jauh darimu,
sebenarnya ini adalah nasehat bijaksana,
Bahwa surat inipun akan sulit kau pahami bila tak ada jarak diantara kalimat-kalimatnya, tak ada tanda pemisah disetiap katanya,
Bukankah jauh dimata tak akan lebih hebat dari dekatnya do'a.
Salam terkasih dariku yang merindukanmu, Dinda.


----------------------------
‪#‎Februari‬ 2016
‪#‎MccM‬
*)kudedikasikan untuk kakakku Haryanto yang sedang berjuang nan jauh disana demi keluarga bahagianya.
Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim