Syair Lautan Jilbab
bagi yang merasa, se sosok bidadari tak bersayap...
Para Malaikat Allah tak bertelinga
Tapi mereka mendengar suara nyanyian beribu-ribu jilbab
Para malaikat Allah tak memiliki mata
Tapi mereka menyaksikan derap langkah beribu jilbab
Para malaikat Allah tak punya jantung
Tpi sanggup mereka rasakan degup kebangkitan
Jilbab yang seolah berasal dari dasar bumi
Para malaikat Allah tak memiliki bahasa dan budaya
Tapi dari galaksi mereka seakan-akan terdengar suara
Ini tidak main-main sekedar kebangkitan sepotong kain
Para Malaikat Allah seolah sedang bercakap-cakap di antara mereka
Kebudayaan jilbab itu, bersungguh-sungguhkah mereka?
O, amatlah dengan teliti
Ada yang bersungguh-sungguh, ada yang akan bersungguh-sungguh,
Ada yang tidak bisa tidak bersungguh
Sedemikian pentingkah gerakan jilbab di negeri itu?
O, sama pentingnya dengan kekecutan hati semua kaum yang tersingkir,
Sama pentingnya dengan keputus atasaan kaum gelandangan,
Sama pentingnya dengan kematian jiwa orang-orang malang yang dijadikan alas kaki sejarah
Bagaimana mungkin ada kelahiran di bawah injakan kaki dajjal?
Bagaimana mungkin muncul kebangkitan dari rantai belenggu kejahiliyahan?
O, kelahiran sejati justru dari rahim kebobrokan
Kebangkitan yang murni justru dari himpitan-himpitan
Alamkah yang melahirkan gerakan itu atau manusia?
O, alam diri manusia.
Alam tidak boleh benar-benar takluk oleh setajam apapun pedang peradaban manusia,
Alam tak diperkenankan sunguh-sungguh tunduk di bawah kelicikan tuan-tuanya
Apakah burung ababil akan menabur dari langit untuk menyerbu para gajah yang durjana?
O, burung-burung ababil melesat dari kesadaran pikiran, dari dzikir jiwa dan kepalan tangan
Para malaikat Allah yang jumlahnya tak terhitung,
Berseliweran melintas-lintas ke berjuta arah seputar bumi
Para malaikat Allah yang amat lembut, sehingga seperjuta atom tak sanggup menggambarkanya
Para malaikat Allah yang besarnya tak terkirakan oleh matematika ilmu manusia
Sehingga selurruh jagat raya ini di sangga di telapak tanganya
Tergetar, tergetar sesaat, oleh raungan sukma dari bumi
Para malaikat Allah seolah bergemeremang bersahut-sahutan di antara mereka
Apa yang istimewa dari kain yang di bungkuskan di kepala?
O, hanya ketololan yang menemukan jilbab sekedar sebagai pakaian badan
Lihatlah perlahan-lahan makin banyak manusia yang memakai jilbab,
Lihatlah kaum lelaki berjilbab, lihatlah rakyat manusia berjilbab
Lihatlah ummat-ummat berjilbab,
Lihatlah siapapun saja yang memerlukan genggaman keyakinan
Yang memerlukan cahaya pedoman, lihatlah mereka semua berjilbab
Adakah jilbab itu semacam tindakan politik,
Semacam perwujudan agama, atau pola perubahan kebudayaan?
Para malaikat Allah yang bening bagai cermin segala cermin, seolah memantulkan suara-suara :
Jilbab ini lagu sikap kami, tinta keputusan kmai,
Langkah dini perjuangan kami
Jilbab ini surat keyakinan kami, jalan panjang belajar kami, proses pencarian kami
Jilbab ini percobaan keberanian di tengah pendidikan ketakutan yang tertata dengan rapi
Jilbab ini percikan cahya dari tengah kegelapan,
Alotnya kejujuran di tengah hari-hari dusta
Jilbab ini eksperimen kelembutan untuk meladeni jam-jam brutal dari kehidupan
Jilbab ini usaha perlindungan dari sergapan-sergapan
Dunia entah macam apa, menyergap kami
Sejarah entah di tangan siapa, menjaring kami
Kekuasaan entah dari napsu apa, menyerimpung kami
Kerakusan dengan ludah berbusa-busa, mengotori wajah kami
Langkah kami terhadang, kaki kami terperosok di pagar-pagar jalan protokol peradaban ini
Buku-buku pelajaran memakan kami
Tontonan dan siaran melahap kami
Iklan dan barang-barang jualan menggiring kami
Panggung dan meja-meja birokrasi mengelabui kami
Mesin pembodoh kami sangka bangku sekolah
Ladang-ladang peternakan kami sangka rumah ibadah
Mulut kami terbungkam, mata kami nangis darah
Hidup ialah mendaki pundak orang-orang lain
Hari depan ialah menyuap, disuap, menyuap, disuap
Kalau matahari terbit, kami sarapan janji
Kalau matahari mengufuk, kami di keloni janji
Kalau pagi bangkit, kami ditidurkan
Ketika hari bertiup, kami dininabobokkan
Kaum cerdik pandai suntuk mencari permaafan atas segala kebobrokan
Kaum ulama sibuk merakit ayat-ayat keamanan
Para penyair pahlawan berkembang menjadi pengemis
Tidak ada perlidungan bagi kepala kami yang ditaburi virus-virus
Tak ada perlindungan bagi akal fikiran kami yang di panggang di atas bonsai
Tak ada perlindungan bagi hati nurani kami yang di panggang di atas tungku api congkak kekuasaaan
Tungku api kekuasaan yang halus, lembut dan kejam
Tak ada perlindungan bagi iman kami yang di cabik-cabik dengan pisau-pisau beracun
Tak ada perlindungan bagi kuda-kuda kami yang di goyahkan oleh keputusan sepihak yang di paksakan
Tak ada perlindungan bagi akidah kami yang di tempeli topeng-topeng, yang di rajam, di manipulir oleh rumusan-rumusan palsu yang memabukakn
Tak ada perlindungan bagi padanya matahari hak kehendak kami yang di ranjau
Maka inilah jilbab, inilah jilbab!
Ini furqan, pembeda antara haq dan bathil
Jarak antara baik dan buruk, benar dan salah
Kami menyarungkan keyakinan di kepala kami
Menyarungkan pilihan, keputusan, keberanian dan istiqomah, di nuarani dan jiwa raga kami
Inijilbab ilahi Rabbi, jilbab yang mengajarkan ilmu menapak dalam irama
Ilmju untuk tidak tergesa, ilmu tak melompati waktu dan batas realitas
Ilmu bernapas setarikan demi setarikan, selangkah demi selangkah, hikmah demi hikmah, rahasia demi rahasia, kemenangan demi kemenangan
Para malaikat Allah yang lembut melebihi kristal,
Para malaikat Allah yang suaranya tak bisa di dengarkan oleh segala macam telinga, berbisik-bisik di antara mereka
Wahai Anak-anak tiri peradaban! Anak-anak jadah kemajuan dan perkembangan!
Anak-anak yatim sejarah, sedang menghimpun akal sehat
Menabung hati bening, menerobos ke masa depan yang kasat mata
Lautan jilbab! Lautan jilbab! Gelombang perjuangan, luka pengembaraan, tak mungkin bisa di hentikan
Wahai! Sunyi telah mulai bicara!
Para Malaikat Allah tak bertelinga
Tapi mereka mendengar suara nyanyian beribu-ribu jilbab
Para malaikat Allah tak memiliki mata
Tapi mereka menyaksikan derap langkah beribu jilbab
Para malaikat Allah tak punya jantung
Tpi sanggup mereka rasakan degup kebangkitan
Jilbab yang seolah berasal dari dasar bumi
Para malaikat Allah tak memiliki bahasa dan budaya
Tapi dari galaksi mereka seakan-akan terdengar suara
Ini tidak main-main sekedar kebangkitan sepotong kain
Para Malaikat Allah seolah sedang bercakap-cakap di antara mereka
Kebudayaan jilbab itu, bersungguh-sungguhkah mereka?
O, amatlah dengan teliti
Ada yang bersungguh-sungguh, ada yang akan bersungguh-sungguh,
Ada yang tidak bisa tidak bersungguh
Sedemikian pentingkah gerakan jilbab di negeri itu?
O, sama pentingnya dengan kekecutan hati semua kaum yang tersingkir,
Sama pentingnya dengan keputus atasaan kaum gelandangan,
Sama pentingnya dengan kematian jiwa orang-orang malang yang dijadikan alas kaki sejarah
Bagaimana mungkin ada kelahiran di bawah injakan kaki dajjal?
Bagaimana mungkin muncul kebangkitan dari rantai belenggu kejahiliyahan?
O, kelahiran sejati justru dari rahim kebobrokan
Kebangkitan yang murni justru dari himpitan-himpitan
Alamkah yang melahirkan gerakan itu atau manusia?
O, alam diri manusia.
Alam tidak boleh benar-benar takluk oleh setajam apapun pedang peradaban manusia,
Alam tak diperkenankan sunguh-sungguh tunduk di bawah kelicikan tuan-tuanya
Apakah burung ababil akan menabur dari langit untuk menyerbu para gajah yang durjana?
O, burung-burung ababil melesat dari kesadaran pikiran, dari dzikir jiwa dan kepalan tangan
Para malaikat Allah yang jumlahnya tak terhitung,
Berseliweran melintas-lintas ke berjuta arah seputar bumi
Para malaikat Allah yang amat lembut, sehingga seperjuta atom tak sanggup menggambarkanya
Para malaikat Allah yang besarnya tak terkirakan oleh matematika ilmu manusia
Sehingga selurruh jagat raya ini di sangga di telapak tanganya
Tergetar, tergetar sesaat, oleh raungan sukma dari bumi
Para malaikat Allah seolah bergemeremang bersahut-sahutan di antara mereka
Apa yang istimewa dari kain yang di bungkuskan di kepala?
O, hanya ketololan yang menemukan jilbab sekedar sebagai pakaian badan
Lihatlah perlahan-lahan makin banyak manusia yang memakai jilbab,
Lihatlah kaum lelaki berjilbab, lihatlah rakyat manusia berjilbab
Lihatlah ummat-ummat berjilbab,
Lihatlah siapapun saja yang memerlukan genggaman keyakinan
Yang memerlukan cahaya pedoman, lihatlah mereka semua berjilbab
Adakah jilbab itu semacam tindakan politik,
Semacam perwujudan agama, atau pola perubahan kebudayaan?
Para malaikat Allah yang bening bagai cermin segala cermin, seolah memantulkan suara-suara :
Jilbab ini lagu sikap kami, tinta keputusan kmai,
Langkah dini perjuangan kami
Jilbab ini surat keyakinan kami, jalan panjang belajar kami, proses pencarian kami
Jilbab ini percobaan keberanian di tengah pendidikan ketakutan yang tertata dengan rapi
Jilbab ini percikan cahya dari tengah kegelapan,
Alotnya kejujuran di tengah hari-hari dusta
Jilbab ini eksperimen kelembutan untuk meladeni jam-jam brutal dari kehidupan
Jilbab ini usaha perlindungan dari sergapan-sergapan
Dunia entah macam apa, menyergap kami
Sejarah entah di tangan siapa, menjaring kami
Kekuasaan entah dari napsu apa, menyerimpung kami
Kerakusan dengan ludah berbusa-busa, mengotori wajah kami
Langkah kami terhadang, kaki kami terperosok di pagar-pagar jalan protokol peradaban ini
Buku-buku pelajaran memakan kami
Tontonan dan siaran melahap kami
Iklan dan barang-barang jualan menggiring kami
Panggung dan meja-meja birokrasi mengelabui kami
Mesin pembodoh kami sangka bangku sekolah
Ladang-ladang peternakan kami sangka rumah ibadah
Mulut kami terbungkam, mata kami nangis darah
Hidup ialah mendaki pundak orang-orang lain
Hari depan ialah menyuap, disuap, menyuap, disuap
Kalau matahari terbit, kami sarapan janji
Kalau matahari mengufuk, kami di keloni janji
Kalau pagi bangkit, kami ditidurkan
Ketika hari bertiup, kami dininabobokkan
Kaum cerdik pandai suntuk mencari permaafan atas segala kebobrokan
Kaum ulama sibuk merakit ayat-ayat keamanan
Para penyair pahlawan berkembang menjadi pengemis
Tidak ada perlidungan bagi kepala kami yang ditaburi virus-virus
Tak ada perlindungan bagi akal fikiran kami yang di panggang di atas bonsai
Tak ada perlindungan bagi hati nurani kami yang di panggang di atas tungku api congkak kekuasaaan
Tungku api kekuasaan yang halus, lembut dan kejam
Tak ada perlindungan bagi iman kami yang di cabik-cabik dengan pisau-pisau beracun
Tak ada perlindungan bagi kuda-kuda kami yang di goyahkan oleh keputusan sepihak yang di paksakan
Tak ada perlindungan bagi akidah kami yang di tempeli topeng-topeng, yang di rajam, di manipulir oleh rumusan-rumusan palsu yang memabukakn
Tak ada perlindungan bagi padanya matahari hak kehendak kami yang di ranjau
Maka inilah jilbab, inilah jilbab!
Ini furqan, pembeda antara haq dan bathil
Jarak antara baik dan buruk, benar dan salah
Kami menyarungkan keyakinan di kepala kami
Menyarungkan pilihan, keputusan, keberanian dan istiqomah, di nuarani dan jiwa raga kami
Inijilbab ilahi Rabbi, jilbab yang mengajarkan ilmu menapak dalam irama
Ilmju untuk tidak tergesa, ilmu tak melompati waktu dan batas realitas
Ilmu bernapas setarikan demi setarikan, selangkah demi selangkah, hikmah demi hikmah, rahasia demi rahasia, kemenangan demi kemenangan
Para malaikat Allah yang lembut melebihi kristal,
Para malaikat Allah yang suaranya tak bisa di dengarkan oleh segala macam telinga, berbisik-bisik di antara mereka
Wahai Anak-anak tiri peradaban! Anak-anak jadah kemajuan dan perkembangan!
Anak-anak yatim sejarah, sedang menghimpun akal sehat
Menabung hati bening, menerobos ke masa depan yang kasat mata
Lautan jilbab! Lautan jilbab! Gelombang perjuangan, luka pengembaraan, tak mungkin bisa di hentikan
Wahai! Sunyi telah mulai bicara!
Iklan ada di sini

Komentar