Teman Sesungguhnya
Oleh : Siti Rahmayanti
menakar ihwal serpihan perca...
Senyap, pengap, sesak
Meringkuk di ujung ruang
Menggiggil, ia memangku tanya;
Kemana mereka, teman yang dengannya aku selalu mengencangkan urat-urat tawa? Menghabiskan hari menikmati gaduh musik dalam temaram malam, berpoya-poya membeli kesenangan?
Kemana mereka, temanku menghabiskan masa menikmati syurga?
Tetiba hatinya menghardik garang;
SYURGA?! YANG ADA KAU TELAH HANYUT PADA KESEMUAN BELAKA!!
©Yanti Qodri
Kotak mimpi, 04 Feb 2016
____________________________________
Salam untuk penyampai pesan ‘Surat Cinta-MU’:
Allohumma Sholli wa Sallim ‘Alaa Nabiyyinaa Muhammad
Meringkuk di ujung ruang
Menggiggil, ia memangku tanya;
Kemana mereka, teman yang dengannya aku selalu mengencangkan urat-urat tawa? Menghabiskan hari menikmati gaduh musik dalam temaram malam, berpoya-poya membeli kesenangan?
Kemana mereka, temanku menghabiskan masa menikmati syurga?
Tetiba hatinya menghardik garang;
SYURGA?! YANG ADA KAU TELAH HANYUT PADA KESEMUAN BELAKA!!
Lembap pelipis, tangan, jari jemari
Tersungkur, gemetar, ia memeluk kaki
Tanyanya semakin menjadi;
Kemana mereka, temanku mengahabiskan waktu?
Lirih nuraninya berkata;
Berdirilah, disudut ruang ini akan kau temukan ‘Cahaya’. Itulah temanmu sesungguhnya..
Tersungkur, gemetar, ia memeluk kaki
Tanyanya semakin menjadi;
Kemana mereka, temanku mengahabiskan waktu?
Lirih nuraninya berkata;
Berdirilah, disudut ruang ini akan kau temukan ‘Cahaya’. Itulah temanmu sesungguhnya..
Berdiri ia terhuyung, gelagap, mendekap tangan diatas dada
Tertatih, menelisir, meraba sudut-sudut ruang gelap gulita.
Benar ucap nuraninya, ada semburat cahaya diujung sana
Perlahan ia mendekat, memastikan asal cahaya yang ia tangkap
Tertegun logikanya;
Cahaya itu berasal hanya dari lembar-lembar usang “Surat Cinta” tanpa titimangsa
Tertatih, menelisir, meraba sudut-sudut ruang gelap gulita.
Benar ucap nuraninya, ada semburat cahaya diujung sana
Perlahan ia mendekat, memastikan asal cahaya yang ia tangkap
Tertegun logikanya;
Cahaya itu berasal hanya dari lembar-lembar usang “Surat Cinta” tanpa titimangsa
Acak, ia buka lembarnya.
Ia baca;
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”
-Al Maaidah: 15-16
Ia baca;
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”
-Al Maaidah: 15-16
Allahu Yaa Rahman, Yaa Rahim..
Bergetar hebat seluruh tubuhnya, berguncang, menangis tersedu..
“Berapa lama aku menjadi manusia melupa? tenggelam dalam gelap dunia kubuat sengaja.”
Prih batinnya meronta-ronta menyesalinya.
Bergetar hebat seluruh tubuhnya, berguncang, menangis tersedu..
“Berapa lama aku menjadi manusia melupa? tenggelam dalam gelap dunia kubuat sengaja.”
Prih batinnya meronta-ronta menyesalinya.
©Yanti Qodri
Kotak mimpi, 04 Feb 2016
____________________________________
Salam untuk penyampai pesan ‘Surat Cinta-MU’:
Allohumma Sholli wa Sallim ‘Alaa Nabiyyinaa Muhammad
Iklan ada di sini

Komentar