Bos-bos(an)

Sebut saja Paijo (bukan nama sebenarnya). Ia adalah seorang pimpinan perusahaan. Ia dipercaya menjadi CEO (Chief Executive Officer) di salah satu perusahaan berskala nasional di kota dewata. Ia amat menguasai core business perusahaannya. Namun sayangnya banyak orang, termasuk kolega maupun bawahannya di perusahaan, tidak mempercayainya.

    Ketika Paijo ada mereka tampak ramah dan bersahabat. Namun ketika ia pergi, mereka berbicara di belakang tentang kejelekan-kejelekannya. Bagi mayoritas anak buah dan kolega di perusahaan yang ia pimpin, Paijo adalah pimpinan yang otoriter, tidak ramah, dan arogan. Saya rasa, hal semacam ini tidak saja terjadi di perusahaan saja. Kerapkali pola semacam ini banyak terjadi di berbagai organisasi dewasa ini. –kayaknya, ukmi juga mengalami ini... he he  
     Pimpinan seperti Paijo, yang tampak dicintai. tetapi sebenarnya dibenci oleh bawahan dan kolega. Seorang pimpinan yang amat cerdas dan menguasai core business organisasi, tetap tidak dapat memperoleh simpati maupun kepercayaan kolega serta anak buah. mengapa ini bisa terjadi ? menurut pangéntho-éntho (bayangan) saya, Ini terjadi karena anda tidak menguasai “bahasa” kepemimpinan.

Bahasa Kepemimpinan

 

    Paijo adalah seorang ahli --di bidang , tetapi ia bukanlah seorang pemimpin sejati. Jika ia dilukar dari statusnya sebagai CEO, dan di- prétéli gajinya yang berpuluh-puluh juta rupiah perbulanya, maka akan sulit orang yang menghargainya. Ia hanya manusia biasa yang, walaupun pernah menjadi pimpinan, tidak akan diingat sebagai pemimpin. Setelah masa jaya-nya ia akan “lenyap” ditelan waktu dan rentet peristiwa.
    Padahal esensi kepemimpinan adalah menginspirasi orang lain untuk melakukan hal-hal hebat, walaupun situasi yang ada amat tidak pasti, dan sumber daya terbatas. Untuk bisa memberikan inspirasi pada orang lain, seorang pimpinan harus bisa meraih kepercayaan dari orang-orang yang ia pimpin. tugas seorang pemimpin hanya satu, yakni mengajak orang untuk; melakukan tindakan-tindakan luar biasa di dalam dunia yang tidak pasti, dengan hanya menggunakan satu alat: yakni kata-kata.

 ada tiga bahasa kepemimpinan yang sentér terdengar dalam peradaban yunani kuno. yakni rasionalitas, otentisitas, dan empati. Dalam bahasa Yunani tiga hal itu disebut sebagai logos, ethos, dan pathos.


      Logos adalah rasionalitas yakni kemampuan manusia untuk menalar, berpikir. Dalam konteks kepemimpinan rasionalitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melihat situasi sekitar, dan menyelesaikan urusan maupun hal-hal yang telah dijanjikan. Paijo jelas memiliki kemampuan seperti ini. Yang kemudian diperlukan adalah kemampuannya untuk mengekspresikan logos ini di dalam proses komunikasi, baik dengan kolega maupun bawahannya di perusahaan. Paijo perlu lebih sering berkata seperti ini, baik ketika memimpin rapat, maupun ketika berkomunikasi sehari-hari, “Ide anda amat baik. Saya amat menghargainya. Namun kita perlu memperhatikan aspek lain dari kondisi yang ada. Maka setelah mempertimbangkan dan melakukan refleksi, keputusan saya adalah A. Bagaimana menurut anda?” Di dalam kalimat ini tercermin dua hal, yakni kemampuan untuk menerima pendapat dari orang lain, belajar dari pendapat orang lain, dan membuat keputusan berdasarkan analisis atas situasi yang ada.

     Kedua adalah otentisitas. Seorang pemimpin perlu untuk menegaskan, bahwa dirinya memiliki nilai-nilai luhur. Setiap pikiran maupun tindakannya harus dibimbing oleh nilai-nilai luhur kehidupan tersebut. Lebih dari itu seorang pemimpin harus punya cita-cita yang tinggi. Cita-cita itu disampaikan ke semua kolega maupun bawahannya dengan keyakinan yang mendalam.
    Seorang pemimpin menawarkan harapan dan arah, terutama ketika situasi serba tidak pasti. Seorang pemimpin berbicara dengan hati. Paijo, perlu untuk berkomunikasi dengan pola ini, “Sewaktu saya bekerja sebagai penjaga gudang, saya sering mengalami diskriminasi. Saya sering diperlakukan tidak adil. Uang makan saya dipotong. Cuti saya dipotong dan berbagai hal lainnya. Namun sekarang sebagai pimpinan, saya yakin, bahwa diskriminasi harus dilenyapkan dari perusahaan kita. Setiap orang harus mendapatkan hak-haknya sebagai pegawai sekaligus sebagai manusia di perusahaan ini.”
Inilah komunikasi yang datang dari hati. Apa yang datang dari hati pasti akan menyentuh hati lainnya. Lazimnya, disebut bahasa otentisitas.
      Ketiga adalah empati, atau pathos. Seorang pemimpin perlu untuk merasa peduli dengan situasi kolega maupun bawahannya. Bentuk konkretnya amat sederhana.
Sudahkah anda menyapa orang dengan ramah di hall atau lorong kantor, ketika berjumpa dengan kolega ataupun bawahan anda? Sudahkah anda mengajak kolega ataupun bawahan anda untuk minum kopi bersama, dan berbincang-bincang santai? Sudahkah anda membantu kesulitan-kesulitan yang dialami kolega atau bawahan anda, baik itu kesulitan personal maupun profesional? Sudahkah anda mendengarkan keluhan maupun harapan mereka dengan sepenuh hati?
      Inilah bahasa empati. Inilah bahasa dari rasa peduli yang amat manusiawi. Inilah “bahasa” yang digunakan oleh para pemimpin sejati. Sudahkah anda menggunakannya? Yang pasti Paijo belum menggunakannya, sehingga ia belum memiliki kepercayaan kolega maupun anak buahnya.

Meneropong Nusantara


      Di negeri ini kita mengalami krisis kepemimpinan. Sudah, ngaku saja. Banyak pemimpin di berbagai level tidak mampu melihat situasi, menganalisis, dan melakukan hal-hal yang penting untuk memperbaiki situasi. Mereka memiliki rasionalitas namun tak digunakan untuk memahami situasi yang ada. Inilah salah satu alasan, mengapa bangsa kita mengalami krisis di berbagai dimensi, mulai dari korupsi, konflik sosial, sampai terorisme.
   Di sisi lain orang-orang yang menggunakan rasionalitasnya secara tepat ternyata tidak mampu berkomunikasi secara baik. Akibatnya ia tidak dikenali, tidak dipercaya, dan sulit untuk memimpin secara baik. Rasionalitas, dalam bentuk kemampuan memahami situasi dan bertindak secara tepat, di dalam kepemimpinan perlu untuk disampaikan dengan “bahasa” yang tepat, sehingga bisa dipahami, dan kemudian menumbuhkan kepercayaan.
    Juga di negeri ini banyak pemimpin di berbagai level kepemimpinan tidak memiliki nilai-nilai luhur di dalam pikiran maupun tindakannya. Mereka berpikir dan bertindak untuk memenuhi kepentingan sendiri, ataupun golongan ( partai, keluarga, atau yang lain?–saya juga tidak tahu ). Mereka juga tidak punya cita-cita tinggi untuk kepentingan pihak-pihak yang dipimpinnya. Karena kepemimpinan yang ada kacau, maka seluruh jajaran birokrasi dan praktek sehari-hari pun juga kacau.

Banyak pimpinan berbicara teknis, bukan dari atau dengan  hati. Tanpa komunikasi antar hati, kepercayaan tidak akan tumbuh. Tak heran banyak orang sudah merasa tidak peduli dengan pelbagai krisis yang terjadi di nusantara. Mereka mengurung diri dalam kepentingan pribadi, dan berputar tanpa arah di dalamnya.


     Dan yang terakhir yang cukup jelas terlihat, banyak pemimpin negeri ini tidak peduli dengan pihak-pihak yang ia pimpin. Mereka sibuk memperkaya diri ataupun kelompoknya. Mereka melihat diri sebagai penguasa yang lebih tinggi, maka harus dilayani dan dipuja puji. Tak heran kebijakan maupun keputusan yang mencerminkan kerakusan serta ketululan, dan seringkali miskin kepedulian pihak yang dipimpinya.
     Pola komunikasi mereka mencerminkan kedangkalan berpikir dan me-refleksi diri. Rasa tidak peduli terlihat bukan hanya dari setiap kata yang keluar, tetapi juga dari mimik muka yang tampil ke depan. Rasa peduli adalah seni yang hilang (the lost art) di dalam praktek kepemimpinan di nusantara. Yang tinggal tersisa adalah arogansi dan kedangkalan semata.
Kepemimpinan memiliki ‘bahasa’ yang khas. Yang pertama adalah bahasa rasionalitas yang dikomunikasikan dengan keyakinan penuh ke publik. Yang kedua adalah bahasa otentisitasyang dipenuhi dengan nilai-nilai kehidupan serta cita-cita yang tinggi untuk kebaikan bersama, yang kemudian juga dikomunikasikan dengan penuh keyakinan ke publik. Dan yang ketiga adalah bahasa empati yang berisi rasa peduli setulus hati dan manusiawi kepada setiap orang. Rasa peduli yang ditunjukan dalam kegiatan sehari-hari.
    ‘Bahasakepemimpinan inilah yang kita perlukan sebagai pemberharu peradaban berkemimpinan. Rasionalitas, otentisitas, dan empati haruslah menjadi dasar setiap pemimpin, untuk berpijak dan menggerakkan penuh keyakinan setiap organisasi ataupun kelompok yang di pimpinnya. Sebagai seorang CEO perusahaan, Paijo perlu menerapkan “bahasa” kepemimpinan ini di dalam kerjanya. Dengan begitu ia akan diingat sebagai seorang pemimpin sejati, sekaligus guru yang perlu menjadi acuan. walaupun waktu dan rentet peristiwa akan selalu mengikis ingatan, para pelupa…..ngónó ló Jo, paijo.. ancén é sampéan iki, jos tenand.. [ ]
Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim