Ihwal (maaf) k*ntut

afwan, keceplosan.....

Bila iibaratkan, ketululan itu layaknya k*ntut. Sesuatu yang harus benar-benar dijaga supaya terhindar dari tuduhan penebar kebusukan. Mesti waspada pula, sebab keduanya kerap datang mendesak juga tiba-tiba. Terjadi serta merta dalam waktu tak terduga. Walau bayangan tentang kenikmatan setelah mengeluarkannya begitu menggoda, tapi segeralah ingat bahwa k*ntut serta ketululan tetaplah menjadi dua hal yang sungguh memalukan bila diumbar sembarangan. Meskipun ini tak berlaku bagi mereka yang sudah memutuskan untuk hidup tanpa mempertimbangan rasa malu.
Andai di zaman ini ketululan sudah diwajarkan sekalipun, atau bahkan sengaja difestivalkan sebagai prasyarat gaya hidup, tapi cepat atau lambat, rasa sesal bakal menyerbu seiring dengan pertambahan usia. Sebagian besar orang tentu tak ingin dicecar oleh anak-cucu mereka kelak, pada suatu sore yang seharusnya indah, dengan pertanyaan “Kakek atau nenek dulu sering mempertontonkan ketululan ya?”

hempaskan ketululan pada tempatnya. Sekurang-kurangnya, keluarkan ia secara diam-diam. Jika suatu saat dunia ini sudah tak lagi menyediakan wadah untuk membuang ketululan, maka tak ada jurus cadangan, selain berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjadi tulul.

Kalau masih tetap gagal, apalah daya, silahkan menjadi tulul tapi tak perlu mengajak orang lain untuk turut serta. Paling tidak, kian berhati-hatilah untuk berkomentar atas sesuatu yang tak benar-benar dipahami.


Kecuali sampeyan memang merasa bangga, apabila sudah meng*ntuti sekian banyak orang dengan ketululan. [ ]
Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim