Kapan Nikah ?



Hei, menikah itu bukan lomba lari, yang ada definisi siapa cepat, siapa lelet larinya. Menikah itu juga bukan lomba makan kerupuk, yang menang adalah yang paling cepat ngabisin kerupuk, lantas semua orang berseru hore.
Menikah itu adalah misteri Tuhan. Jadi tidak ada istilah terlambat menikah. Pun tidak ada juga istilah pernikahan dini. Selalu yakini, jika Tuhan sudah menentukan, maka akan tiba momen terbaiknya, di waktu paling pas, tempat paling tepat. Abaikan saja orang2 yang memang cerewet mulutnya bilang “gadis tua, bujang lapuk”, atau nyinyir bilang, “kecil2 kok sudah menikah”.

–Tere Liye

Entahlah siapa yang pertama kali membudidayakan pertanyaan Basa Basi ini di Indonesia:
“Kapan nikah?”
Atau, bahasa makhluk halusnya.. eh bahasa halusnya maksudnya:
“kapan mau ngundang nih, ukhti?”
Hey.. hey.. mungkin sebelum bertanya kita lupa, yang punya jawaban atas pertanyaan tersebut adalah Allah, yang punya jadwalkan Allah.
Kemudian akan berdalih seperti ini:
“Okeh, menikah (prihal jodoh) adalah ranahnya Allah, tapi kan harus diperjuangkan.”
That’s right.. menikah adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, tapi bukan lantas menjadi pertanyaan basa basi wajib, kan? Setiap orang punya kisah tersendiri dalam perjuangannya menuju pernikahan. Kita tak pernah tahu tentang jatuh bangun perjuangannya. layaknya seseorang yang sedang berjihad di medan perang, mungkin ia pernah terhunus pedang tajam, atau mungkin pernah jatuh ke jurang dalam.
Ayolah.. berhentilah menjadi manusia basa-basi sok nanya demi untuk mengumpulkan bahan rumpi ataupun bully. Jika memang benar-benar peduli jangan hanya dijadikan pertanyaan basa-basi. Ini sudah 2016 mamen!! sudah zamannya ikut berkontribusi
“Ukhti sudah siap nikah? Saya punya teman nih, saya jodohkan gimana?” Nah gini.. baru bener!
Kalau memang nggak punya solusi. Mbok yo ra usah nanya-nanya, di doakan saja diam-diam. kan jadi pahala, malaikat ikut meng-aamiin-kan lagi.. syukur-syukur yang mendo'akan , yang ketemu jodohnya duluan.



ROMANTIS HINGGA USIA SENJA
Sharing Sedikit cerita perjalanan minggu lalu ketika saya mencoba sok sok-an nyoba kerja dan diajakin si bos pergi ke luar kota bersama suami dan anak bungsunya. ketika diperjalanan sembari nyetir si bapak bos ini tetiba bilang:
“Yan, tolong pijit ini leher saya. Kayaknya masuk angin ini.”
Saya bingung bukan kepalang, mencoba memastikan bahwa yang saya dengar itu salah. Dan ternyata benar, telinga saya sedikit swasta, mungkin saya lelah..
“Yang (sayang), tolong pijitin ini leher saya, kayaknya masuk angin ini”
Ya.. si bapak bos manggil si ibu bos dengan panggilan “sayang”.
Sekilas nampak tak ada yang spesial memang. lah, suami panggil istrinya sayang kan wajar. Tapi menurut saya ini spesial sekali, tahu kenapa? Umur mereka sudah 50th lebih, dan gaya anak muda masih melekat dalam usaha meromantiskan pasangannya.
Okeh, itu hal pertama yang membuat saya ‘wanita’ yang ngakunya sebagai ‘jomblo bahagia’ ini belajar satu hal prihal romantis yang insyaAllah diberkahi Allah.
Kedua, setiba di kota tujuan. Berhubung itu hari minggu, kita mampir sarapan pagi di CFD kota tersebut. Seandainya saat itu saya mampu terbang atau menghilang, saya akan melakukannya. Bagaimana tidak mereka sarapannya suap-suapan, kan jadi Baper anak muda, *tidak berkepri'jomblo'an* hiks..;( (beberapa saat JOJOBA berganti kepanjangan ‘jomblo-jomblo baper’).
***
Hari ini, setelah kejadian minggu lalu saya mencoba menelisik kebelakang. Dalam hal mencintai dan romantis hingga ke usia senja sebenarnya saya belajar banyak dari orang-orang tua zaman dulu, terlebih dari kedua orang tua saya sendiri.
Sedikit cerita lagi terkait romantis di usia senja ala bapak dan ibu saya.
“Awaklah ghingkat, nak bejalan saje. Udelah, maklah nunggui cucung kiah.”
(Padahal sudah rematik, maunya kerja terus. sudahlah, lebih baik jagain cucu saja). Sembari mengurut kaki istrinya.
Perhatian paling tulus yang pernah saya dengar, ungkapan rasa sayang suami ke istrinya, ungkapan romantis ayah ke ibu saya.
Tentu ungkapan itu tidak dapat dibandingkan dengan ungkapan yang hanya sekedar bualan anak muda yang sedang dimabuk asmara zaman sekarang, yang hanya sekedar bualan tak berarti:
“lagi apa? Sudah makan?”
Yang nilai tanggung jawabnya belum ada sama sekali, hanya sekedar pertanyaan sok peduli.
Dikampung saya orang-orang zaman dulu, mereka menikah dijodohkan oleh orang tua mereka “rasan tue”, banyak sekali yang sebelumnya mereka tidak saling mengenal kemudian membangun komitmen dalam pernikahan hingga ke usia senja, hingga maut sendiri yang memisahkan mereka.
Maka lucu sekali jika dizaman yang katanya sudah canggih ini berdalih harus pacaran betahun-tahun dulu agar saling mengenal sifat satu sama lain sebelum menikah, yang kemudian ketika menikah hanya seusia jagung saja. Bukankah mereka seharusnya sudah sangat paham satu sama lain, lantas mengapa masih berpisah juga?
Yang saya pahami:
Bahwa cinta tak cukup hanya dengan bualan, tapi harus dibuktikan dengan perbuatan.
Bahwa cinta tak sesempit hanya masalah nafsu. Tapi lebih dari itu, cinta adalah tanggung jawab (tanggung jawab terhadap lahir, maupun batin pasangannya).
Bahwa cinta adalah komitmen antar pasangan dengan Tuhan.
Prihal menikah Jika memang harus dimisalkan layaknya sebuah perlombaan, maka jelas bukan yang paling cepat menikah yang menjadi pemenang, tapi pernikahan yang mampu bertahan lama ‘SAMARA’ hingga ke jannah lah yang menjadi pemenangnya.
____________________________________
Silah di-persepsi-kan suka-suka
Dibilang Baper, monggo..
Dibilang Caper, monggo..
Dibilang Kode, monggo..
Dibilang Galau, nggaklah yauu.. 😉
Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim