Lupa Guru
Tidak ada tawa pada wajahnya. Yang ada hanya muka merengut nan menyiksa jiwa. Tatapannya membuat orang terpana dan berdecak heran dan bertanya, sedang apa gerangan?. Kerapkali mencenungi Suasana suram yang diciptakannya.
Setidaknya, Itulah figur guru yang saya konangi dewasa ini. Ia tidak lagi menawarkan inspirasi. Yang ditawarkannya kepada murid seringkali hanyalah beban diri. Itu terbukti dari “dentuman” soal dan penilaian yang jauh dari sikap arif juga kebijaksanaan nurani.
Keterpaksaan
Mungkin sebenarnya Beliau-beliau sadar, bahwa ia kini telah berubah menjadi birokrat pendidikan. Jika ditanya mengapa maka mereka akan menjawab; kami di paksa keadaan. Ciri birokrat yang administratif, teknis, dan kaku lebih ditonjolkan dari ciri guru yang menginspirasi kehidupan. Mereka sadar namun, belum beranjak menjadi selain birokrat. karena keterpaksaan.
Sesosok semacam ini jamak di ilhami di negeri ini. Guru melupa peran esensialnya, dan secara simultan ke arah birokrat tak berjiwa. Ia faham dan sadar namun, keadaan cukup tangguh untuk di ajak gulat. Yang menjadi korban adalah para murid yang tidak lagi mencicip pendidikan bermakna.
Sebenarnya ada jalan lain. Selalu ada pintu terbuka, ketika satu pintu tertutup – konon kata ‘pepatah –. Yang ia butuh hanyalah sedikit keberanian dan kecerdasan. Ia perlu menginspirasi ihwal berkehidupan dan tidak boleh terjebak pada rutinitas birokrasi yang menyesakkan. Kecerdasan diperlukan untuk bersikap lentur pada birokrasi, dan tetap menjalankan peran guru yang menghidupkan. Karena tak bisa di elakkan, Di tangan para gurulah masa depan peradaban dunia ditentukan.
Minim Visi
Di sisi lain banyak pula guru yang tidak memahami esensi pendidikan. Ia menjadi guru bukan karena terpanggil, tetapi karena kebetulan atau aji mumpung yang tak direncanakan. Akibatnya mereka pun asal bekerja. Guru sejenis ini mudah sekali berubah menjadi birokrat, yang kalau secara bahasa awut-awutan, saya menyebut; (maaf) robot tanpa jiwa.
Ia belajar tentang pendidikan, tetapi belum sungguh memahami semangat di belakangnya. Ia sekedar melanjutkan pendidikan, tanpa sungguh berpikir, apakah ini panggilan hidupnya atau nafsu keterpaksaanya. Ia terjerembab dan terjebak di dalam bidang yang tak bermakna bagi hidupnya.
Jika di anggap suatu yang fundamental dan berdampak, saya nyatakan iya. Ini salah satu kelemahan pendidikan di negeri indah ini. Generasi penerus tidak diajak untuk mengenali diri, dan mengikuti panggilan hidupnya. Ia di cekok’i informasi, tanpa di beri tahu, bagimana cara memperlakukan informasi. Padahal esensi dari pendidikan adalah tentang bagaimana seorang guru, men-stimulan anak didiknya, untuk mengasah daya rasionalitas-nya, membentuk cara berfikir, juga mengajari bagaimana menjadi seorang problem solver yang andal, demi menjalani rentan ia berkehidupan. Namun, yang tampak saat ini justru sebaliknya. Akibatnya banyak orang terjebak pada bidang kehidupan yang tidak bermakna bagi dirinya. Mereka asal-asalan bekerja, dan semuanya menjadi percuma.
Namun, semuanya tak ada yang sia-sia. tidak pernah ada terlambat untuk mereka. Pintu kehidupan selalu terbuka. Jika bukan panggilan, orang bisa meninggalkan profesi pendidik, dan mencari jati dirinya. Hanya dengan begitu hidupnya menjadi penuh dan bermakna. Mungkin dengan begitu pula, ia bisa sungguh merasa bahagia.
Pengaruh Hegemoni
Manusia hidup dalam lingkaran hegemoni. Hegemoni membuat orang dikuasai, tanpa ia merasa tertindas, atau dikuasai. Hegemoni membuat suatu perintah menjadi wajar, dan tidak dipersepsi sebagai keterpaksaan diri. Hegemoni masuk ke dalam cara berpikir seseorang, sampai ia tidak sadarkan diri, bahkan ketika melakukan apa yang melanggar nurani.
Di negeri para pejuang kehidupan ini, hegemoni cara berpikir instrumental sangatlah perkasa dan digdaya. Cara berpikir instrumental mencegah orang bersikap kritis, dan hanya terjebak pada permukaan teknis semata. Manusia se’antero bumi melakukannya, tetapi ia tidak sadar akan perbuatannya. Inilah kekuatan hegemoni yang menghipnotis jiwa.
Yang diperlukan untuk menantang hegemoni adalah cara berpikir kritis. Dengan kemampuan ini orang diajak untuk mempertanyakan cara berpikirnya sendiri secara sistematis. Ia diajak untuk mengolah dirinya sendiri, sehingga bisa keluar dari hegemoni, dan melakukan segala sesuatu dengan kesadaran diri yang utuh. Minimal cara berpikir kritis membuat orang sadar, bahwa dirinya hidup dalam hegemoni, sehingga bisa mengambil jarak darinya, walaupun tidak secara menyeluruh.
Konformitas
Mungkin, Jika para pahlawan tanpa tanda jasa ( red: guru) ditanya, mengapa ia memilih menjadi birokrat? kebanyakan akan menjawab, karena hamper mayoritas guru melakukannya. Itulah ciri khas sikap konformis. Orang terjebak melakukan sesuatu, karena semua orang melakukannya. Ia tidak lagi berpikir, karena dikepung oleh mentalitas massa.
Kita bisa menemukan banyak orang semacam itu di beberapa petak wilayah di nusantara. Ia bekerja dan tenggelam dalam rutinitas, tanpa dasar yang kokoh, kecuali sekedar ikut-ikutan semata. Kita menjadi latah dan kemudian tenggelam dalam keadaan. Korupsi dan segala bentuk kejahatan lainnya banyak lahir dari sikap konformis, yang begitu saja luput dari system berpikir kita.
Konformitas tanpa dasar adalah gejala yang amat berbahaya. Tidak perlu orang jahat untuk melakukan kejahatan besar, cukup orang yang tidak berpikir, dan bermental konformis sejati. Sikap adaptif memang baik, namun tanpa sikap kritis dan reflektif, sikap adaptif akan berubah menjadi sikap konformis yang menjilat pada kekuataan massa semata. Tidak heran orang bisa berubah sekejap mata menjadi penyiksa, ketika ia berada di kepungan para penyiksa.
Guru adalah pelita hati negeri yang di eja para penyair, sebagai sempalan Surga. Ia mercusuar peradaban, di tengah kegelapan arus pekat hedonism zaman. Tak jarang, ia bak ‘kompas’, sebagi petunujuk, ketika kita semua tersesat di perjalanan. Mereka membawa terang bagi anak-anak masa depan negeri dan Peradaban. Peran yang amat mulia dan manusiawi ini, jangan sampai melenyap. Atas dedikasi beliau guru akan peran sejatinya.
Mohon maaf, atas keburukan peringai dan kenékatan saya dalam bertutur. Salam ta’dzim dari saya, bagimu para guru se-antero jagad raya. Saya bukan dosen, Ilmuwan, Filsof apalagi birokat. Tidak punya kredibilitas se-zarrah pun untuk menilai apa-apa yang di lakukan guru dewasa ini. Kalau toh saya tadi nekat bertutur seperti itu, hanya ada satu alasan. Dan alasan itu adalah karena Cinta. Iya, hanya itu tók, bukan yang lain. – heleh.. bilang aja, takut kalau-kalau sampai ílmu nya ndak barokah, kalau sampai melukai hati para guru.. he he. [ ]
Iklan ada di sini

Komentar