Negara dan Setan

"Ya Mursyid, bagaimana cara meneliti peran setan dalam pembangunan?"
"Peran syaithon dalam pembangunan" Jawab Mursyid "tuliskan tema itu dalam usulan judul skripsi, ajukan ke Dosen Pembimbing"

"Tentu di tolak, ya Mursyid, karena ilmu yang diberikan kepada kami tak memiliki kerangka teori untuk memahami realitas setan"

Mursyid tertawa, "kalau demikian pastilah yang kalian terima adalah ilmu ketululan. Dari orang Tua kalian warisi kepercayaan akan adanya setan, kemudian di Sekolah impor kalian ajari untuk menganggap bahwa setan bukanlah realitas, melainkan mitos. Perlahan-lahan kalianpun tak lagi sanggup memahami adanya setan bukanlah realitas, melainkan mitos. Perlahan-lahan kalianpun tak lagi sanggup memahami adanya setan, karena yang kalian pahami selama ini bukanlah realitas setan melainkan gambaran-gambaran wadag tentang wajah yang buruk, bertaring panjang, bermata sebesar bola"
Kami makin bingung, ya Mursyid!"

"Mulailah memahami setan seperti Engkau memahami enerji atau muatan listrik. Lebih jauh kedalam dari itu; potensi yang merasuki mental kehendak, jiwa, jauh dari lubuk. Tak bisa engkau lihat setan dengan mata yang hanya siap memandang bentuk-bentuk"

"itu kami sudah Tahu, ya Mursyid!"

Kalian tentu juga sudah tahu bahwa prinsip para setan yang utama adalah menyembunyikan eksistensinya. Setan punya tradisi meminjam bentuk - bentuk keduniaan yang disukai oleh manusia. Karena kalian tak memiliki ilmu untuk memahami setan, maka diri kalian, tak memiliki ilmu untuk memahami setan, maka diri kalian, pikiran dan ideologi kalian, harta benda dan karya-karya budaya kalian, gampang diramu untuk dijadikan topeng-topeng setan".

Juga pembangunan yang gegap gempita ini, ya Mursyid, bisa merupakan topeng setan?"
Tulis itu dalam skripsi kalian, pasti akan ditolak oleh kerangka ilmu setan"

"Ya Mursyid, bukankah akan ditolak juga kalau sekripsi kami mempersoalkan peran Tuhan dalam pembangunan?"

"Segala jenis kebodohan maupun kepandaian tak akan sanggup memahami Tuhan. Tapi setan bisa di dekati dan dijelaskan secara ilmiah, karena tingkat kemakhlukan setan lebih rendah dari manusia"

"Ya Mursyid, kalau demikian kami tak akan pernah lulus menjadi sarjana. Jika pandangan itu kami pertahankan, kami bukan sekedar ditolak, tapi juga dijadikan bahan tertawaan!"

"Tepat" jawab Mursyid, "Setan Sangat asyik menertawakan kalian. Bukankah setan juga sering menuduh, kalian merongrong pembangunan?" [ ]


Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim