Piweling Simbah
di suatu hari, yang mesra. bertautlah dialog nasihat berkehidupan antara si embah dengan cucu nya...
Nggér..., cucu ku. kelak kau akan mengingat masa kecil dan kampung halamanmu, sebagai jejak gelak tawa pada pagi basah yang ngantuk, beriring suara takbir. Di surau kecil, yang senyap pada hari lain, akan kau ingat geliat itu. Orang-orang tua yang tidak direkam sejarah, setia dengan puji-pujian untuk Tuhan. Suara serak mereka, merasuk dalam telingamu dan bersemayam bertahun-tahun. Menjadi pengusik saat kau lupa, tentang arti pengabdian. Mereka itulah orang-orang yang meraih kemenangan sesungguhnya.
Nggér...cucu ku. Keyakinan mereka tak runtuh ditikam musim, tetap kokoh di arus zaman. Mereka bersetia dengan nilai-nilai yang diyakini, meski asing dan sunyi. Tapi, perlu kau tahu, kesucian martabat tetap terjaga. Kemenangan sejati itu, saat kau siap untuk tidak menjadi apapun, tidak ingin dianggap penting, saat banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi penting dengan serakah kepentingan.
Nggér... cucu ku. hidup bukan soal kalah dan menang sebagaimana ayam-ayam yang disabung. Kita memang bertanding, tapi bukan untuk merendahkan yang lain. Dalam bahasa kakek buyutmu, menang tanpo ngasorake. Sebab, yang harus kau taklukkan sepanjang usia adalah hasrat burukmu. Jadilah pawang untuk dirimu sendiri.
Nggér.., cucu ku. hidup yang riuh rendah ini, hanya bisa kau lalui dengan sempurna lewat hening, eling dan waspádá. Sebagaimana pagi ini, saat kau terjaga, lantas bersiap menyambut awal hari yang berembun.
Suatu saat, kau akan mengingat ini bersamaan:
kampung halamanmu yang jauh dan masa kecilmu yang sederhana, di hari riuh yang bersahaja...
Iklan ada di sini
Komentar