Pragmatis
buah 'nyablak', di pojok warung kopi..
Salah satu sesaji/Setoran rutin yang membuat Tuhan mungkin urung untuk "menggoda" (kalo tidak boleh dikatakan mengazab) negeri yang pelaku pemerintahan terlebih sistem yang sangat jauh dari kata adil (semoga saya salah) adalah ketulusan "kekeluargaan" yang terjalin begitu mesranya. Seorang teman pak dhe saya yang seorang "pengutil"(baca : Pencopet) saja sangat mencintai keluarganya melebihi dirinya, terlepas dari entitas kebenaranya. dia tidak peduli jikalau kemungkinan suatu momen akan tertangkap kemudian di gebuki, babak belur, bahkan bisa jadi nyawanya bisa terancam atas konsekuensi logis pekerjaanya itu. demi keluarganya lebih sejahtera sambil berharap anaknya kelak tidak mau mengikuti jejaknya.
Menjadi seoarang yang "Pragmatis", itulah mungkin yang ada dalam benak teman pak dhe saya tadi. Seoarang Pragmatis adalah orang yang sudah tak mementingkan lagi "eksistensi" dirinya. Orang jenis ini benar2 orang lapangan jika dalam ilmu "keproyekan". dia tidak ambil pusing dengan harga diri dan martabat. dia bisa mengubah prinsipnya sewaktu-waktu sesuai keadaan. dia seorang petarung yang memperjuangkan nilai-nilai kebenaran yang menjadi tafsirnya. dia tak perlu malu, mendramitisir keadaan, apalagi berbohong sana-sini demi hal yang justru akan menjauhkan dengan "Kebenaran yang Sejati".
Bukan berarti Mengutil itu adalah kebaikan, melainkan sikap Pragmatis itu lah yang sungguh membuat saya kagum dengan Beliau. Bagi saya mencuri itu adalah urusan dia dengan Tuhannya, selama beliau masih baik dengan saya, berperingai santun, dan tidak mengganggu manusia lain di hadapan saya sendiri itu bukan soal, lain lagi jika saya sudah di "ainul yakin" i oleh-Nya, beliau melakukan pelanggaran ihwal hal-hal tersebut. dan lebih jauh, saya meyakin'i bahwasanya seseorang pasti punya "alasan" atas apa yang dilakukan, terlepas apapun itu.
________________________________
Seng penting ki ngene mungkin Gus,, awak e dewe jo sampe melu2 "ngatur" keadaan kui po maneh kesan'e (ngapunten) dikte Pengeran. cubo blajar nge rem nepsu, jo sok hakim i, ngrasani, ngriwuk i pas proses iku mlaku. tetep "out the box", ra sah nggumunan, kemayu, gengsi, po maneh nglakoni perkoro seng ngisin"i terus akhir"e malah dadi getun tembe burine.
Bayangan e awak e dwe mesti akeh "mbleset'e". lak ngnu carane, yo wes kono-kono lah manut karo "Mbah'e"... [ ]
Iklan ada di sini
Komentar