Rejeki Rasa
mencecap manisnya puasa rasa...
Bagi saya yang di anugrahi hidup "paradoksal" seperti ini, di hadiah-i sebuah "pertemuan" adalah sesuatu yang harus di-bersyukuri sejadi-jadinya. Paradoksal yang saya maksud tadi ambil contoh, saat saya berdo'a untuk sebuah pertemuan dengan orang-orang di lingkaran kehidupan, bagi yang kemungkinan ada "kebencian" di dalamnya, saya akan berdo'a untuk tidak di pertemukan dalam bentuk bentuk dan cara apapun. Namun jika saya sangat ingin bertemu dengan seseorang sebagaiman kami sama-sama ingin bertemu, do'a saya lantas bukanlah memohon untuk di pertemukan begitu saja, melainkan saya berdo'a kepada Allah untuk orang yang saya Kasih-i tadi memperoleh yang lebih "hakiki" daripada pertemuannya dengan saya. bayangkan, betapa "gemagah" nya dan kesepian anya hidup saya ini?
Maka wajar saja bila suatu waktu ketika saya "hanya" di anugrahi pertemuan dengan rekan dan beberapa sahabat, saya langsung --G R-- bahwa saya-lah makhluk yang paling di sayang oleh Allah dengan di beri "rejeki selaksa rasa". Rasa penyejuk jiwa yang tak bisa terungkap definisinya, namun sangat nyata dan merasuk jauh di kedelaman hati. Yang efek sampingnya adalah "kebahagiaan" sejati mencul mengemuka dan bertransformasi menjadi rasa syukur yang tiada terkira kepada sang Maha Cinta.
Itu baru rasa --G R-- nya jika ibarat buah semangka, ya baru lapisan kulit terluar yang tidak bisa di makan itu. Bagaimana dengan daging buah nya yang merah merona dan sangat segar itu? Jelas ini akan merujuk pada apa yang di sebut dengan "esensi" dan konteks dari pertemuan itu sendiri. Apalagi menurut saya sendiri, ketika seseorang yang sudah mencapai tahapan dimana dia ingin sangat bertemu dengan Kekasih-Nya, maka orang itu akan sangat setuju jikalau Cinta Allah tlah bermanisfestasi menjadi pendaran gelombang Ar-Rahman dan Ar-Rahim melingkupi pertemuan yang diperjalankan oleh-Nya itu.
Pun demikian dengan Ramadhan kali ini, saya sangat bersyukur masih di anugrahi merasakan "deJavu" rejeki rasa tadi. lewat momen Berbuka ataupun Sahur bersama hingga terakhir kalinya malam tadi, gelombang Cinta-Nya begitu dahsyat. Kebersamaan, Pengabdian, Cinta kasih yang tulus sesama manusia pada akhirnya berbuah manis kebahagiaan yang tiada tara muncul dan menyapa. Seperti sedang ber-simulasi ihwal apa yang di sebut keluarga. keluarga cemara yang indah nan menyejukan yang bisa jadi ada "relevansi" salah satu hadist yang mengatakan bahwasanya 50% Agama adalah pada Keluarga (pernikahan) --Allahu a'lam--. Jelas ini adalah sebuah "alternatif" sambung rasa kebahagiaan selain dengan "keluarga" yang ada di kampung halaman, namun terkait rasa itu saya rasa tidak jauh berbeda.
Ini bisa akan sangat semakin rumit jika saya memaksa untuk mendifinisikan apa yang di sebut Rejeki Rasa tadi. Namun yang perlu antum tahu, saya sangat sulit menyampaikan jenis rasa syukur seperti apa yang "pantas" saya haturkan kepada-Nya. Sederhana saja, karena Pendaran Gelombang Cinta-Nya yang bertajali menjadi "pertemuan" di momen ramadhan ini, tlah "menyekap" hati saya tuk membisu dan merasakan selaksa rasa bahagia atas Kehadiran-Nya
Iklan ada di sini

Komentar