Kasta majapahit(an)
mencenungi polah tingkah manusia abu-abu, yang konon paling 'mulia' di antaranya..
Dulu ketika kerjaan majapahit dan yang lainya di bumi nusantara berkuasa, ada strata penghormatan kepada manusia lainya yang menjadikanya menjadi superior kala itu. Ada lima tingkatan yang ada, tingkatan itu di mulai , tingkat pertama adalah milik orang ‘mulia’ atau berakhlakul karimah.Setingkat di bawahnya, di isi oleh kalangan ‘intelektual’. Tingkatan yang ketiga di sandang oleh kaum yang ‘berkuasa’ atau para raja kala itu. Setelah itu, para orang ‘kuat’ atau sakti menguntit di bawahnya. dan yang terkhir adalah milki orang ‘kaya’ yang menjadi tingkatan buncit pada masa itu.
Namun di tengah kebisingan zaman seperti sekarnag ini, ternyata tingkatan yang tadi talah bergeser jauh dari ‘fitrahnya’. Sekarang tingkatan paling wahid adalah orang’ ‘kaya’ dan penguasa dunia yang sebagian buta dengan hartanya. Setingkat di bawahnya di isi oleh kaum ‘penguasa’ yang memanfaatkan kekuasaanya tuk menjadi kaya, entah itu dengan cara picik sekali pun. Orang’ yang ‘berilmu’ menguntit di bawahnya, namun parahnya dengan ilmu yang di milikinya, mereka berlomba-lomba untuk menjadi kaya entah benar atau tidak. Para Orang ‘kuat’ pun tidak mau ketinggalan, dengan kesaktianya dia berusaha menindas kaum yang lemah untuk kemudian merampas harta mereka dan menjadi kaya.
Dan Ironinya Para Kaum yang ‘berakhlakul Karimah’ menjadi yang terbawah dalam tingkatanya, dipandang sebelah mata oleh dunia yang bergerak ke arah materialism. Ini pun masih di perparah dengan tingkah polah ‘oknum’ kaum ini, yang menjual ‘akhlakul karimah’ tadi , untuk mendapatkan kekayaan jua. Jadi lengkaplah ‘derita’ dunia antah brantah ini, semakin jauh Dari ‘sunatullah’ yang bermuara pada kehancuran. Ngeri tenand...[ ]
Dan Ironinya Para Kaum yang ‘berakhlakul Karimah’ menjadi yang terbawah dalam tingkatanya, dipandang sebelah mata oleh dunia yang bergerak ke arah materialism. Ini pun masih di perparah dengan tingkah polah ‘oknum’ kaum ini, yang menjual ‘akhlakul karimah’ tadi , untuk mendapatkan kekayaan jua. Jadi lengkaplah ‘derita’ dunia antah brantah ini, semakin jauh Dari ‘sunatullah’ yang bermuara pada kehancuran. Ngeri tenand...[ ]
Iklan ada di sini

Komentar