Perahu layar
Oleh : Taufik P.
Sang Camerlengo Carlo Ventresca pelayan pribadi Paus, kepala rumah tangga Kepausan, dan orang yang dianggap paling dekat dengan Sri Paus berdiri tegak menghadap kamera wartawan BBC. Ia berbicara soal kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat dan kedangkalan spiritualitas manusia modern. Menghadapi kelompok Illuminatikelompok persaudaraan kuno yang anti gereja dan beranggotakan banyak ilmuwan, seniman, bankir, presiden, dan tokoh terkenal sang Camerlengo tampak tegas, berwibawa, dan memahami sains modern. Pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok Illuminati terhadap 4 orang kardinal telah memaksa sang Camerlengoberpidato di depan umum. Dengan kerendahan hati dan kedalaman ilmu, sang Camerlengo menggunakan kelemahan sains dalam mengobati jiwa dan spiritualitas manusia. Ia melihat bahwa sains justru membawa keterpurukan manusia. Harapan satu-satunya ada pada agama dan iman.
Cerita di atas ditulis secara menarik dalam sebuah novel berjudul Malaikat dan Iblis. Dan Brown, sang penulis yang juga mengarang novel kontroversial Da Vinci Code, membuat plot dan setting yang sangat menarik soal pertentangan sains dan agama. Sekalipun keduanya bisa bertemu dalam diri tokoh novel, ilmuwan fisika sekaligus pastor bernama Leonardo Vetra, dalam dunia nyata jauh lebih banyak ditemukan pertentangan ketimbang persesuaian. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, sains berkembang dengan pesatnya, tetapi jiwa manusia tampaknya makin kering, terisolasi, dan teralienasi dalam dunia gemerlap yang dipenuhi teknologi maju. Rekayasa otak dan microchip yang menandai puncak ilmu-ilmu, pastilah masih lemah dan terseok-seok menangani masalah ketergantungan obat, bunuh diri, kelahiran tak dikehendaki, peperangan, rasialisme, dan penjajahan manusia atas manusia. Anda cermati betapa korupsi dan pencurian makin merajalela justru pada saat agama makin leluasa mengembangkan dirinya. Anda perhatikan bagaimana justru di pihak lain agama menjadi sumber konflik yang sangat hebat. Seperti halnya sang Camerlengo dalam novel di atas, kita juga bertanya; masih adakah harapan?
Saya pikir, kita tidak mesti seperti Camerlengoyang menciptakan common enemy dengan membunuh 4 orang kardinal. Cara yang paling elegan adalah memberi ruang dan waktu yang lebih luas untuk mengenal diri (secara khusus, perhatian pada motivasi dan dorongan). Problem kita, manusia, menurut Socrates, adalah mengenal diri. Kesibukan, pekerjaan yang terlampau berat, keengganan, sikap masa bodoh, dan kebodohan membuat banyak diantara kita lebih mengenal orang lain ketimbang diri sendiri.
Padahal, ini sumber malapetaka terbesar dan merupakan stresor yang paling banyak mendera manusia. Salah satu bentuk ketidaktahuan soal diri sendiri adalah motivasi hidup yang lebih banyak dipicu oleh keinginan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, memperoleh kedudukan yang setinggi-tinginya, dan mendapatkan popularitas yang tak terbatas. Motivasi-motivasi ini melukiskan sisi gelap manusia yang lebih banyak mementingkan kesenangan fisik ketimbang ketenangan jiwa. Anda perhatikan bagaimana motivasi dan dorongan menguasai telah menjadi motif yang paling dahsyat di awal abad ke-21 ini. Penjajahan di mana-mana, peperangan dan perebutan kekuasaan terjadi hampir setiap menit di depan mata manusia yang konon lebih beradab dibandingkan manusia-manusia zaman dulu.
Driven
Dua ahli dari Harvard Bussiness School, Paul Lawrence dan Nitin Nohria, setelah meneliti bagaimana disiplin ilmu merinci dan menelisik perkembangan kehidupan manusia, menemukan bahwa ada dorongan-dorongan sadar yang menyuruh manusia untuk memilih. Dalam buku Driven: How Human Nature Shapes Our Choice (2002), mereka menemukan 4 hal yang mendorong manusia melakukan sesuatu: to acquire ( dorongan untuk memperoleh sesuatu, apakah itu benda atau pengalaman, yang dapat memperbaiki status seseorang terhadap orang lain), to bond (dorongan untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan, penuh komitme, dan berlangsung dalam waktu lama), to learn ( dorongan untuk selalu dapat memahami dunia dan diri sendiri ), to defend ( dorongan untuk mempertahankan semua hal yang dimiliki; cinta, kepercayaan, dan benda-benda dari kerusakan).
Hebatnya, 4 dorongan ini terpatri secara genetik dalam otak manusia melalui tahap evolusi yang sangat panjang dari makhluk-makhluk primata. Otak manusia, terutama kulit otak dan sistem limbik, menyimpan dorongan-dorongan ini dan mengarahkan manusia untuk melakukan banyak hal dalam hidupnya. Karena terpatri dalam otak, dorongan-dorongan ini merupakan hal yang tak terpisahkan dari kehidupan kejiwaan manusia. Kabar yang paling buruk dari hasil riset 2 ahli Harvard ini adalah : kebanyakan manusia melewati ambang batas normal dari dorongan-dorongan itu. Dorongan untuk memiliki (to acquire), misalnya, telah menciptakan manusia yang tidak pernah merasa puas dalam memperoleh sesuatu. Dorongan untuk mempertahankan diri (to defend) telah membawa manusia pada prilaku kasar, seperti konflik, agresi, perang, dan pembunuhan. Dorongan untuk belajar (to learn) telah membawa manusia pada eksploitasi besar-besaran terhadapa alam semesta yang justru membawa kerusakan yang sebelumnya tak terbayangkan. Sialnya, manusia tidak cukup cerdas untuk mempelajari secara detail, dalam, dan luas soal dirinya sendiri.
Cinta, ketulusan, komitmen, persahabatan, kasih sayang, dan kebersamaan seharusnya menjadi dorongan yang utama tatkala seseorang membangun hubungan dengan orang lain. Sebaliknya, dominasi, eksploitasi diri, perbudakan terselubung, kepura-puraan, keterpaksaan, dan kemunafikan, justru membuat kehidupan bersama menjadi amburadul. Pernahkah Anda melihat kehidupan yang tidak didasari cinta? Perlahan tapi pasti, yang ada hanyalah kehancuran. Politisi yang berjuang bukan karena cinta, tetapi karena nafsu dominasi dan eksploitasi, akan lebih banyak membawa mudarat daripada manfaat. Ekonom dan agamawan yang beraktivitas hanya karena didasari oleh eksploitasi dan keterpaksaan hanya akan melahirkan masyarakat yangsakit jiwa. Kekuatan terbesar suatu komunitas lahir dari kebersamaan yang dibangun oleh cinta kasih. “ I believe that love cannot be bought, except with love,” kata Jhon Steinbeck. Jadi, persoalan kita yang utama adalah melongok dan memeriksa kembali motivasi-motivasi yang mendorong kita melakukan sesuatu.
Danah Zohar dan Ian Marshall (dulunya populer karena buku mereka, Spiritual Intelligence [2000]) menulis dalam buku Spiritual Capital (2004) tentang 16 jenis motivasi (negatif dan positif) yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Eksplorasi, kecenderungan bergaul, malu dan rasa bersalah, kekuatan dari dalam, penonjolan diri, kemarahan, keresahan, apatis, pengabdian yang lebih tinggi, dan penecerahan, adalah beberapa di antaranya. Pesan yang mau disampaikan dari banyak penelitian soal motivasi adalah agar seseorang memahami betul dinamika motivasi yang terjadi pada dirinya. Pengertian soal motif ini bernilai vital dan esensial karena motif adalah daya dorong. Anda bisa bayangkan bagaimana jika manusia tidak memiliki daya dorong akan berdiam di tempat dan menghambat perjalanan serta mengganggu lalu lintas. Tanpa daya dorong, Anda seperti mobil yang mengganggu lalu lintas banyak orang. Menurut Zohar dan Marshall, kita punya 3 modal yang memungkinkan kita memilih dan memilah motivasi: 1) modal materill (kemampuan kita untuk berfikir dan mencerna hal-hal di sekitar kita secara rasional), 2) modal sosial (kemampuan kita untuk melakukan sesuatu berdasarkan pilihan-pilihan yang kita rasakan baik), dan 3) modal spiritual (yang membuat kita merasakan makna dari setiap tindakan yang kita lakukan). Kabar yang paling baik datang dari Stephen Covey (terkenal melalui buku Seven Habits, 1993) yang menulis buku The 8th Habit (2004). Setelah menekuni ilmu pengembangan diri lebih dari 20 tahun, ia akhirnya berkesimpulan bahwa salah satu karunia terbesar bagi jiwa manusia adalah KEBEBASAN MEMILIH. Anda bisa memilih apa saja respons yang anda berikan, apa pun stimulusnya, termasuk menentukan motivasi hidup anda.
Lihatlah sebuah perahu layar. Ia bisa berputar ke arah mana saja yang ia kehendaki, ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, sekalipun angin yang bertiup hanya menuju satu arah saja. Layar perahu bagaikan diri kiat. Kita bisa memilih arah mana yang akan kita tuju, tergantung ke arah mana layar diri kita diarahkan. Kita adalah pengemudi layar kehidupan kita sendiri. [ ]
Iklan ada di sini

Komentar