Belajar Menghadirkan Allah

Belajar menghadirkan Allah? Mana mungkin? 
    
     Belajar Islam pun hanya ala kadarnya. Dari keluarga dan masyarakat, yang diperoleh Islam Kejawen. Di sekolah negeri hanya belajar dua jam seminggu, itupun digabung dengan pelajaran budi pekerti. Sedangkan tentang Islam, pak guru yang senyumnya mahal itu hanya menyuruh menghafal-kan rukun Islam, bacaan salat dan beberapa surat yang pendek seperti Al-Ikhlas, Al Falaq dan An-Naas. Memang sering juga saya ikut berjama’ah membaca tahlilan di kawasan pondok pesantren di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Tetapi itu lebih karena ikut – ikutan berziarah malam Jum’at di makam mbah Mutamakkin, yaitu seorang ulama ternama yang legendaris, yang hidup di masa pemerintahan Amangkurat IV dan Pakubuwono II dari Surakarta, pada paruh kedua abad ke-18 M.
Sebagai penganut Islam Kejawen di daerah pesisir utara Jawa Tengah, di samping menjalankan salat dan puasa, termasuk puasa Senin-Kamis, saya juga belajar berbagai ilmu kebatinan dan kanuragan atau kesaktian. Sementara almarhumah ibu saya dan pengasuh saya Bude Sastro, di samping mengajarkan doa-doa tertentu dari beberapa nabi, senantiasa mendorong saya untuk berlatih keras dalam tirakat atau olah diri dengan mengurangi makan dan tidur, bahkan bermeditasi di berbagai tempat. Kebiasaan saya di masa kanak-kanak dan remaja yang seperti itu sering diceritakan oleh sanak-saudara kepada istri saya, sehingga ia suka menggoda saya, “Jika tidak ke Jakarta mungkin papah menjadi Ketua Paranormal Indonesia”. Maklumlah, dari kota Pati sekarang banyak muncul tokoh-tokoh paranormal.
Alhamdulillah, sungguh Islam adalah hidayah. Pada usia 18 tahun, dalam suatu meditasi saya memperoleh pencerahan yang saya rasakan sangat istimewa sepanjang hidup saya. Saya memperoleh keyakinan yang sangat kuat bahwa segala macam ilmu kebatinan, ilmu kesaktian maupun kanuragan yang selama ini saya pelajari adalah salah, harus saya tanggalkan semuanya seketika itu juga. Sebagai gantinya, saya memperoleh pegangan berupa buhul tali yang kuat, yang tidak akan putus, yakni kasih sayang Allah yang kekuasaan-Nya tiada bandingan. Adapun bacaan rapalnya adalah salat yang sungguh-sungguh dihayati, bukan hanya sekedar jengkang-jengking lima waktu, tetapi kandungannya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan laku atau amalannya adalah menghadirkan Allah dalam setiap tarikan napas, dalam setiap bunyi detak jantung, dalam tidur, dalam berfikir, dalam berbicara, dalam memandang sesuatu, dalam bergerak, dalam mengerjakan sesuatu dan dalam apa saja. Laa illaaha illallah.
Kelihatannya sederhana dan semua menjadi selesai. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Malaikat dan setan adalah bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang logam. Setan, hawa nafsu dan pesona dunia telah ditetapkan oleh Gusti Allah Yang Maha Kuasa menjadi penggoda manusia yang tiada kenal menyerah. Surat Al Isra’a ayat 61–65 telah menegaskan betapa mereka telah memiliki mandat dan kuasa dari Gusti Allah untuk menggoda kita. Lalu, bagaimana mungkin kita dapat melawan godaan mereka itu, jika kita juga tidak memperoleh mandat dan kuasa dari Allah Swt. untuk melawan dan menolaknya? Maka janganlah heran jika kehidupan manusia bisa melengkung, belok seperti sabit, atau meliuk-meliuk, berkelak-kelok bagaikan keris yang berlekuk atau berluk. Suatu saat dituntun oleh malaikat, satu saat yang lain setan berusaha mengendalikan. Itulah sebabnya kemudian Sembilan Wali di Tanah Jawa menganjurkan membuat keris gaya Islam yang sederhana dan lurus seperti mata tombak, sebagai isyarat bahwa hidup haruslah sederhana dan mengkuti jalan yang lurus, yakni jalan dari orang-orang yang telah memperoleh nikmat dari Allah, dan bukan jalan dari orang-orang yang sesat dan dimurkai Allah. Memang ada juga yang berkilah, meskipun berluk, toh pangkal dan ujung keris Jawa tetap satu garis lurus, artinya manusia tidaklah sempurna, hidupnya berkelak-kelok penuh godaan. Yang terpenting adalah akhir hidupnya harus kembali lurus, khusnul khotimah. Tapi siapa yang bisa menjamin? Wallahualam.
Demikianlah kenyataannya. Ada orang yang ditakdir-kan hidup lurus sepanjang hayatnya. Namun sebagian besar termasuk saya, sudah terlanjur berkelak-kelok. Orang seperti saya ini mau tak mau harus senantiasa was-was namun penuh harap, senantiasa berdoa dan berusaha memperbaiki diri, agar Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Pengasih mengampuni dosa-dosa saya yang tak terhitung bagaikan buih di lautan, dan melimpahkan kasih sayang-Nya dengan anugerah khusnul khotimah. Amin.
Untuk itu saya berterima kasih serta berhutang budi yang banyak sekali kepada banyak orang mulai dari kedua orang tua, saudara dan handai tolan, para guru baik yang memberikan pengajaran dan pendidikan secara langsung maupun tidak langsung, baik melalui sikap dan perilaku buruk yang sarat hikmah maupun teladan baik dan kasih sayangnya, ataupun melalui kisah kehidupan dan buku-buku karangannya, sehingga saya mempunyai optimisme serta semangat untuk mereguk air penyejuk ampunan-Nya.
Tanpa dorongan semangat dan optimisme, mana bisa orang awam seperti saya ini belajar menghadirkan Allah, bertobat mengemis ampunan-Nya, menghiba-hiba memohon belas kasih sayang-Nya. Baru mempelajari dan menghayati tanda-tanda kekuasaan Allah melalui penciptaan alam semesta, melalui pergantian siang dan malam saja, rasanya tidak pernah tamat. Padahal betapa banyak ayat-ayat Quran yang menegaskan akan hal itu misalkan, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal (Ali Imran : 9) dan bertaqwa” (Yunus : 6). Sedangkan Nabi Ibrahim pun masih memohon bukti nyata kekuasaan Tuhan guna mempertebal serta memperkokoh keyakinannya (Al Baqarah : 260). Demikian pula Nabi Musa, bahkan memohon agar Allah menampakkan diri kepadanya (Al-A’raaf : 143).
Bersyukur juga, saya menyadari kepengecutan dan kerendahan diri saya sehingga tak pernah terbersit sedikitpun keberanian untuk seperti Nabi Ibrahim dan Musa. Sungguh, saya telah puas dengan ajaran banyak ustadz yang antara lain mentamsilkan pencarian Allah dengan suatu lukisan indah dan sang pelukisnya, atau sebuah karya seni dengan sang pencipta karya seni tersebut.
Sahabat sekaligus saudara dan menantu kanjeng Nabi Muhammad Saw, Ali bin Abi Thalib pernah ditanya oleh sahabatnya, Zi’lib Alyamaani, “Amirul Mukminin, apakah engkau pernah melihat Tuhanmu ?” Jawab beliau, “Bagaimana engkau melihatnya? Dia tidak bisa dilihat dengan pandangan mata, tetapi dijangkau oleh akal dengan hakikat keimanan”.1)
Sebuah karya seni yang merupakan benda mati saja ada penciptanya. Apalagi maha karya yang berupa makhluk hidup dan alam semesta? Pasti penciptanya jauh, jauh lebih dahsyat, jauh lebih hebat, jauh lebih kuasa dibanding manusia pencipta karya seni. Oleh karena itulah maka Al Imam Ibnu Athaillah Askandary dalam kitab Al Hikamnya yang sangat terkenal, berulangkali menganjurkan agar setiap melihat sesuatu lihatlah pula pada Sang Maha Pencipta. Jika menghadapi sesuatu ingatlah pada Sang Maha Sutradara. Jika mengerjakan sesuatu ingatlah pada Sang Maha Penentu, Sang Maha Kuasa.
Selain bukti-bukti lahiriah seperti tadi, keberadaan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, dapat juga dirasakan melalui pengalaman batin. Dengan bermeditasi atau bertafakur, kilasan – kilasan tentang adanya Sang Maha Agung, insya Allah dapat dirasakan. Demikian pula jika dengan hati yang jernih kita mau merenungkan sejenak perjalanan hidup kita. Pasti ada saja hal-hal yang terjadi di luar nalar ataupun jangkauan kekuasaan manusia. Hanya saja gangguan setan, hawa nafsu dan pesona dunia, seringkali mengabur-kan bahkan mencoba menghapus hal-hal tersebut.
Banyak kisah di berbagai belahan bumi tentang orang yang mati  untuk beberapa saat kemudian hidup kembali. Seorang pengemudi dari sahabat saya di Solo, Kanjeng Raden Haryo Tumenggung Tri Handayani, pernah mengalami kejadian tersebut, bahkan jenazahnya sudah sempat dimandikan. Kami senang sekali berbincang-bincang menanyakan kepada Simpar, nama pengemudi tadi, tentang perjalanannya selama meninggal dunia. Ternyata pada umumnya kisah mereka memiliki garis besar cerita yang sama. Mereka melihat ruhnya keluar dari jasadnya, menyaksikan sanak saudara meratapi dan merawat jenazahnya. Melihat orang ramai bertakziah, berkelana kesana-kemari dan lain-lain. Tetapi pada akhirnya ada kekuatan gaib yang menyuruhnya kembali memasuki jasadnya dan Subhanallah, hidup kembali.
Saya mempunyai seorang kakak perempuan, Hidayati, yang wafat pada tanggal 5 Oktober 2001. Beberapa hari sebelum wafat, beliau mengambil uang dari bank dan menyimpannya dilemari. Sebagian kecil diantaranya dipakai untuk melunasi arisan dan kewajiban kredit seprei yang mestinya belum saatnya jatuh tempo. Beberapa menit sebelum wafat, menjelang azhar, beliau duduk di kursi menghadap kiblat sambil berkata kepada sanak saudara di sekelilingnya, bahwa beliau sayup-sayup tapi makin lama makin dekat mendengar suara orang-orang tahlilan, sementara itu keringat mengucur deras dari tubuhnya. Beberapa kerabat di rumah kami tentu saja mencemooh kata-katanya, namun melihat, bahkan menyeka keringat yang mengucur deras dari tubuhnya. Ketika mereka mening-galkan kakak saya sendirian untuk mengambil air wudu, mereka kemudian melihat kakak saya tertidur di kursi tadi, yang ternyata meninggal dunia. Semoga Allah Yang Maha Agung menganugerahkan derajat kemuliaan disisi-Nya.
Seorang guru saya, ustadz Bedu Abdurahman yang mempunyai kemampuan menggabungkan metode zikir, tafakur dan meditasi sekaligus, pernah pada suatu waktu tatkala mengajari beberapa muridnya berkhalwat, sempat membimbing dan mengajak melakukan yang orang Jawa menyebutnya ngraga sukma. Melepaskan ruh dari jasad untuk beberapa saat. Ustadz sering bercanda dengan keluarganya, pura-pura membujur di musholla rumahnya sebagaimana layaknya orang meninggal. Pada suatu siang, kembali beliau melakukan hal itu, tetapi ternyata kali ini adalah sungguh-sungguh, sehingga mengejutkan sanak keluarganya. Sementara itu di sisi jasadnya, almarhum telah menyiapkan sebuah peti berisi peralatan untuk merawat jenazah. Ada kain kafan, sabun mandi dan minyak wangi. Semoga Allah Yang Maha Pengasih menjadikan kekasih-Nya serta menganugerahkan derajat kemuliaan di sisi-Nya.
Kisah-kisah tentang kematian pada umumnya, dengan gamblang menunjukkan betapa tiada berdaya kita di hadapan Sang Pencipta. Seseorang yang masih muda belia, gagah, sehat dan kaya misalkan, tatkala tengah mengulur benang layang-layang angan-angannya, membumbung tinggi bak menyundul langit, tiba-tiba dihampiri sang penjemput maut, wassalam. Mendadak putuslah segala angan-angan dan gagallah semua rencananya. Manusia boleh merencanakan, tapi Tuhan jualah yang menentukan.
Dari contoh peristiwa yang sederhana ini, saya menjadi paham jika para ustadz yang dirahmati Allah, mengajarkan empat hikmah.
Pertama, sebagai manusia janganlah panjang angan-angan. Merasa dirinya bakal panjang umur, memberi janji, hutang dan mengambil kredit barang ke kiri-kanan. Merasa masih punya banyak waktu, melepas syahwat, menunda-nunda taat dan taqwa, mengumbar hawa nafsu, mengulur-ulur tobat dan perbuatan baik.
Kedua, di luar diri manusia ada sutradara lain Yang Maha Kuasa, yang lebih berhak mengatur perjalanan hidup kita. Betapa kecil, lemah dan tak berdaya kita dibanding kekuatan Sutradara Agung Yang Maha Gaib. Maka dari itu dalam hidup janganlah sombong dan takabur, merasa paling hebat. Di atas langit ada langit yang lain, demikian bunyi peribahasa kuno.
Ketiga, semua itu mengajarkan kepada kita bila sedang merencanakan sesuatu, meski tekad sudah bulat, kemauan sudah membaja, upaya sudah habis-habisan, dan bayangan keberhasilan sudah di depan mata, tetap saja harus menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah dengan mengucapkan insya Allah. Sayang sekali, tatkala santri abangan ini sedang mulai mempelajari makna insya Allah, sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Kahfi ayat 23 dan 24, kenyataan di masyarakat justru berbeda. Dengan enak kita bisa mengumbar kalimat penyerahan diri yang sekaligus mengandung makna permohonan agar dipelihara dari kegagalan dan kerusakan itu, dipakai untuk mengisyarakatkan sesuatu penolakan halus. Cobalah perhatikan, jika anda mengundang atau meminta bantuan seseorang, maka jika anda memperoleh jawaban insya Allah, lebih bisa dipastikan itu berarti sebuah penolakan. Sementara itu walau hampir seumur hidup saya jarang absen mendengar khotbah Jumat serta sering pula mengikuti beberapa ceramah agama, belum pernah mendengar seorang ustadz pun meluruskan hal itu.
Keempat, dengan mengutip ajaran Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan gurunya,    Al-Ghazali menyimpulkan bahwa kehidupan dunia ini sesungguhnya hanya terdiri dari tiga nafas saja. Satu nafas telah lewat membawa amal perbuatan yang dikerjakan tatkala menarik nafas itu. Satu nafas sedang dijalankan, dan satu nafas lagi belum tahu apakah kita bisa melaksanakannya karena kemungkinan datangnya ajal saat sedang bernafas yang kedua tadi. Jika demikian halnya, maka hanya satu nafas saja yang kita miliki, bukan jam , bukan hari. Oleh sebab itu, orang Jawa sering bilang, kita harus senantiasa eling, tobat dan nyebut. Maknanya ialah selalu ingat kepada Allah, bertobat terus menerus, dan meski hanya di dalam hati, menyebut asma Allah dalam setiap gerak dan langkah. Inilah cara kita dalam berlatih untuk selalu menghadirkan Allah pada diri kita. Dalam berlatih “manunggaling kawula Gusti”, berlatih menyatukan diri dengan kehendak dan ketentuan-ketentuan Illahi. Berlatih dalam menyelaraskan diri dengan sifat-sifat mulia Allah.
Latihan seperti itu menurut ustadz Abah Endang dan almarhum ustadz Bedu Abdurahman, insya Allah akan dapat membuat kita senantiasa ingat dan waspada. Akan selalu membuat mata hati kita terbuka, meski badan dalam keadaan tidur lelap sekalipun. Lantaran Gusti Allah telah hadir dalam jiwa, pikiran dan diri kita, maka sebagai seorang hamba kita akan senantiasa takut, malu, segan dan hormat kepada Al Malik. Sang Maha Raja Di Raja. Ini akan membuat kita selalu hati-hati dan waspada. Membuat senantiasa patuh tidak berani semau gue, apalagi melanggar larangan-larangan-Nya. Tetapi kita juga tidak hanya sekedar takut. Karena kita mengetahui pula bahwa Ar-Rahman Ar-Rahim. Sang Kekasih Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, senantiasa mengawal kita, maka kita dapat bermanja-manja dengan-Nya. Kita berani dengan tegar mengarungi lautan kehidupan tanpa merasa takut dan tanpa perlu bergantung kepada siapapun kecuali kepada backing kita, kepada Sang Maha Kuasa yang kasih sayang-Nya kepada kita tak terbatas.
Lantaran Allah telah hadir dalam diri kita, kita pun akan kena sawab aura kemulian-Nya. Memperoleh pancaran cahaya keilahiahan-Nya. Maka jika kita membaca atau melantunkan zikir kalimat Basmallah, Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang misalnya, insya Allah kita pun akan memancarkan aura, pancaran cahaya kasih sayang kepada sesamanya. Kepada sesama ciptaan Allah, baik yang kelihatan maupun yang gaib, baik yang berupa manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, batu, gunung, sungai dan apa saja. Dan bukan sebaliknya, memancarkan hawa yang menyeramkan, hawa sial, apalagi hawa pembunuhan, Naudzubillah.
Akan tetapi apakah sesamanya, semua hamba Allah menyenangi pancaran kasih sayang kita tadi? Tentu saja tidak. Ada saja yang senantiasa tidak menyenangi hal tersebut, yaitu para jin-setan. Mereka akan selalu mengobarkan perang perlawanan baik secara langsung maupun tidak. Bahkan mereka kemungkinan besar akan menggunakan orang-orang dekat kita, saudara kita, sahabat kita menjadi antek dan budaknya dalam melawan kita.
Oleh karena itu, Sunan Kalijaga, salah seorang wali penyebar agama Islam di Jawa mengajarkan kepada kita untuk selalu sabar dan tawakal dengan senantiasa:
Memohon perlindungan kepada Allah,
Sang Maha Pencipta,
Sang pemilik gelar Maha Raja di Raja.
Yang menjadi sesembahan semua umat manusia.
Memohon perlindungan dari kejahatan dan bisikan setan yang biasa bersembunyi,
Yang membisikan kejahatan ke dalam dada manusia.
Memohon perlindungan dari kejahatan jin dan manusia. 
_________________
Beji, 14 Maret 2004 
Oleh : B. Wiwoho. Pengenmbaraan Batin Orang Jawa


Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim