Senandung Semesta raya

Sebutlah ‘Sentono Arum’ itu @ll – Huda. Tempat mengaji, santri rantau dari segenap pelosok 
negeri sempalan surga, bernama nusantara raya. Berduyun-duyun, pada satu titik 
persimpangan tarbiyah cinta. di komplek, Pluralitas bumi MERDEKA. Berkumpulnya duta 
santri dari sekian banyak bahasa, dan beragam kekayaan tata nilai berkehidupan, yang berbaju kebudayaan. Lalu, UKMI adalah abdi bungsu, yang lahir dari pergulatan panjang 
tentang konsep dan terapan makna hidup bersama, nyawiji, dalam surau tersebut. Sesosok 
abdi yang dibesarkan di gelaran panggung sejarah yang riuh-rendah. Berpetualang 
menelusur ‘jatidirinya’ lewat peristiwa-peristiwa timbul-tenggelam dinamika. Jauh 
berjalan, meninggalkan sentono arumnya. Hinggap pada beragam halte bernama sistem 
kepengurusan. Menepi di sejumlah teras terminal berjuluk struktur organisasi. Diskusi di 
warung FSLDK tentang Visi-misi berdakwah, memeriahkan gelaran festival kebersamaan 
bersama Alief pondation, dan LDK-LDK rekanan kampus lain. Semuanya demi mencari jawab, 
siapa sesungguhnya UKMI, sebenarnya saya?
Begitulah, UKMI dalam perkembanganya, layaknya seorang santri, yang merantau jauh dan 
kelelahan. Merindukan surau, tempat ia dilahirkan dan digadang-gadang, tapi tak 
memehami peta bagaimana cara kembali. Jatuh bangun bersama usianya yang terus 
bertambah, dalam usahanya merétas identitas. LDK ini seperti terjerat dalam ikatan-ikatan 
kerinduan terhadap kegagahan slogan, hidup berbudi dan berprestasi menuju ridho ilahi. 
Kangen dengan aroma-aroma nilai keluhuran yang pernah terdengar oleh ta’mir al ahad
surau : para founding father pencetusnya.
Sesekali si bungsu mengenang. Mengingat kebesaran kakak-kakak pendahulunya. Pak 
Triandi, Pak Fitaqwa, Pak Badrus, Pak samsul dan beberapa yang lain. Tenggelam di 
genangan pesona kejayaan pendahulunya, sekaligus nyinyir lantas iri, namun tak mengerti 
bagaimana mengambil pelajaran dari kegemilangan pencapaian masa silam. Si bungsu, 
bernama UKMI itu duduk terdiam terpesona, tapi lupa berbuat apa-apa.
Wajah UKMI sudah tertutup berlapis-lapis debu. Perjalanan panjang membuat wajahnya 
susah dikenali. Dari masa era 90-an, 2000-an -- sampai sekarang, karpet-karpet ditoreh 
oleh barisan sang Ketua, bereksperimen dengan arah kiblat, dengan janji Visi yang belum 
tuntas ditepati.
Hari-hari ini, paras ‘anggun’ UKMI telah di lukis oleh Warta merdeka. Dengan kesenyapan 
berita, informasi tentang ‘hilang’ nya kebaradaan si santri yang luput dari pandang mata 
mereka. Kocar-kacir para penghuninya, kekrisisan akhlak oleh beberapa pengurus dan 
anggota-anggotanya, serta silang sengkarut hubungan merah-jambu antar ikhwan wa 
akhwat - nya, kenihilan berkecimpung dipentas keagamaan. absen dari pagelaran keriuhan 
Kampusnya. Di tinggal lari tunggang langgang, para pengurus departemenya, dan masih 
banyak lagi. Menatap UKMI lewat berita prasangka-prasangka penghuni Merdeka adalah 
keterpurukan. Tubuh LDK yang compang-camping, nyaris tak ada hal-hal baiknya. Apakah 
memang seperti itu?
Barangkali kita perlu meneropong sejenak. Melukar luasan pandang lebih besar. Menilik para 
abdi dan menyapanya dengan UKMI lewat persapaan asumsi yang lebih teduh nan ramah. 
Jangan-jangan ada yang terlupa dalam batin kita. Ketika berpikir tentang UKMI, yang 
terpampang adalah potret-potret para pelupa. Bukan mereka yang ‘tersadar’ dan gigih 
membangunkan shalat shubuh teman-temannya, para kepala dan anggota departemen yang 
mengeluh kekurangan anggota, tapi demi membereskan pekerjaan yang mereka ampu, 
masih tetap rajin ke surau dan membuat acara tertentu. Atau adik-adik agent of Rahmatan 
lil Alamin 2015, yang cemas akan kelimbungan dirinya, namun coba tetap sesekali menengok 
kakak-kakaknya untuk mengajak berdiskusi. – tentang hal se ‘remeh’ apapun
Mengeja UKMI berarti berani menatap keluasan itu. Lebih dalam lagi dari sekedar Struktur 
organisasi. UKMI juga berarti sekumpulan semangat yang di aliri oleh mereka yang tak pantas 
bersanding dengan Duta Kampus Merdeka – misalnya -. Dalam diri UKMI bersemayam 
kompleksitas nilai pantang menyerah dari puluhan anggotanya yang hidup di pojok universitas. Mereka tak ‘lantang-lantang’ amat menyebut LDK ini, tapi menyimpanya 
sebegai energi dalam hati. Orang-orang yang tak terjamah dan sempat men - cecap ‘manis’ 
-nya Organisasi, tapi tetap setia nyengkuyung sentono arum UKMI.
Rimba hedonis yang lebat, telah membawa fokus ke satu bidang kecil. Mengabaikan rentang
ruang-waktu yang lain, hingga pembicaraan tentang UKMI terperangkap kepada wilayah￾wilayah pentolan pengurus yang mengemuka, mengecilkan tatapan dari realitas lain yang 
ternyata juga urun rembug terhadap dinamika LDK nya. Para Pawang penjaga awareness
kesadaran atas asuhanya agent of rahmatan lil alamin. Yang menyirami sifat men- tabayyun 
-i kemaslahatan kebaikan di ruang – ruang batinya. Para Filsof kebijaksanaan dan kearifan, 
para Ilmuwan suci ‘kebenaran’ – nya, atau para kaum brahmana pawang adik-adik – nya,
bukanlah ‘hanya’ seorang penghafal, yang meneriakkan tanpa pernah melakukan. 
Sekumpulan santri Mahasiswa, yang masih menuangi kedalaman ‘spiritualitas’ dalam wadah 
‘meterialitas’ wadag – nya. Untuk sekedar, mengayuh kehidupan, demi tujuan menuju 
Tuhan.
Serupa bingkisan, Indonesia lebih merupakan keikhlasan pemberian. Sedang organisasi 
adalah entitas yang disepakati terletak sebagai pembungkus. Dia bukan representasi absolut 
atas kado itu sendiri, meskipun keduanya berada dalam satu kemasan, namun substansi
adalah tujuan pokok dari segala materi, pun dalam ‘analogi’ bingkisan itu. Kedigdayaan 
surau Sontono arum @ll – Huda, di titip, melalui energi orang-orang, bahkan tidak ‘koar￾koar’ tentang apa itu fungsi organisasi. Mereka kaum manua di masa keruntuhan Majapahit, 
yang memilih menghindar dari pusat kuasa, yang masih hidup dalam kerekatan nilai-nilai 
warisan simbah guru di surau – nya. Tinggal di paradesa keterasingan nya, dengan keakraban 
bercengkrama dan saling menjaga ‘harmoni’ hidup bersama. Golongan, yang mungkin, 
‘lepas’ begitu saja, dari pandang siapapun yang bergegap gempita dengan pesta para 
penguasa birokrat merdeka.
Ini bukan soal bagaimana memupuk optimisme atau me – reduksi pesimisme. Hanya upaya 
menata perkara agar lebih ‘proporsional menghadapinya. Bahwa organisasi ini, memang 
tengah melakoni drama kegagalan, itu sama sekali tidak salah. Namun, di sebalik itu, ada 
pancang-pancang tiang kurus sebagi ‘penyangga’. Hingga tetap bertahan sampai hari ini, 
yaitu semangat ke – UKMI – an, dari beberapa gelintir abdi, energi – ksatria Spiritual – , yang 
telah makan asam garam. Berupa kemandirian atas keberadaan – nya hanya; sebagai 
mahasiswa. Tak berharap banyak pada organisasi – nya. Bekerja dan terus bekerja, untuk 
menebar sisi kebermanfaat an diri, pada lingkungan terjangkau, berbuat sesuatu demi tata 
nilai berkehidupan, mempunyai target yang tak ‘hanya’ pada kesuksesan organisasi, lebih 
dari itu. Yakni, menjadikan UKMI mercusuar Peradaban Universitas – nya, syukur-syukur bisa 
menjadi sparing partner dari rekan ‘ruhiyah’ nya, @ll – Huda , meraih haru simpati sang 
Rabb , yang selama ini menjadi ibu dan pengasuh sejati – nya. Demi ikatan janji, pernikahan 
‘samawa’ di pelataran arsy rumah semesta raya. Lantas menjadi abdi yang bersimpuh pada 
tuan rumah, juga penjaga pintu – Nya. --- jiyan.. wés mirip { motifkotor }. Silat lidah é...
Bukan narasi atau deskripsi yang dibuat-buat. Seakan-akan mengungkit sikap-sikap ideal 
yang terkesan fatamorgana dan berada di dunia imajiner. Namun demikianlah ‘realitas’ 
yang berlangsung tapi, tak banyak di tabayyun – kan. Betapa UKMI telah gagap terhadap 
dirinya, terbata-bata melafal semangat-semangatnya. Ragu dengan kecanggihan teknologi
internal batin – nya. Lantas, minder dan mecoba menjadi bukan diri nya. Kita mendapati 
‘tanda tanya’ besar, ketika bertanya bagaimana sesungguhnya menjadi seorang abdi UKMI 
itu ? argumentasi luluh-lantak, memecah membentuk perca-perca, berkeping-kaping tanpa 
sisa. Bagai pohon rindang peradaban, yang tercerabut dari akar-akar pembentuknya. UKM-I 
yang sekarang, sedang terseok itu telah jauh dari surau tempat ia (meng) – aji. Melupakan simbah guru – the Founding Father’s – , berupa keluhuran berbudi pekerti, ujian kegigihan 
dan kebutuhan berprestasi, mantap dan lantas haqul yakin, mampu melakukan peng –
khalifah – an, kakak-kakak* tingkat dimasa terdahulu.
Bidadari tak bersayap yang ‘anggun’ bagai bumi yang ‘tergenggam’ langit. makin pudar 
hingga sebatas ‘wadag’, cantik dan berhijab saja. Olah rasa dan manajemen [ pikiran-hati ambisi ], telah di rantai borgol besi, yang ia tahu ‘persis’, namun tak berdaya untuk 
melawan. Penipuan-penipuan lewat, kedok – pembunuh kodok – juga belenggu hostage 
syndrome , ber - sliweran di depan pandang, namun keberanian menggugat luntur, 
ketidakberdayaan – kepentingan sendiri – . UKMI sedang tenggelam, dalam KEMARAHAN 
terhadap dirinya sendiri ( nurani ). tapi tak beranjak untuk mendatang’i pawang 
pembebasnya. Kebingungan identitas yang meng - gejala, keluhan tak usai, entang ragam 
persoalan dan lenguh kebimbangan : kenapa ini terjadi, kenapa itu berlaku.
Surau yang Kaya, dimiskinkan oleh mentalitas menikmati keterjajahan ‘peringai’ diri dan 
sistem ‘berfikir’, yang sudak tercemari virus sang penjajah – globalisasai, hedon, para ahli, 
dst. – . Surau yang anggun nan teduh, di ‘suram’ kan ( sendiri ) oleh keasyikan bergelap￾gelapan, tentu terlepas dari sadar-belum sadar , masing-masing akal sehat abdi – nya.
Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim