Jadilah yang Sejati
Saya memulai sekolah dengan awal yang buruk.
Pada hari pertama saya tiba, di dalam ruangan tampaklah sebuah meja dengan selembar kartu bertuliskan nama saya. Saya berjalan melintasi ruang kelas dan duduk. Rombongan siswa tampak ribut berdesak-desa
kan. Pukul delapan tepat bel berbunyi dan siswa-siswi lainya bergegas menuju bangku masing-masing. Guru saya, miss Robinson, seorang wanita berwajah bulat-montok dengan rambut abu-abu yang disanggul, menatap galak sambil menilai kami.
kan. Pukul delapan tepat bel berbunyi dan siswa-siswi lainya bergegas menuju bangku masing-masing. Guru saya, miss Robinson, seorang wanita berwajah bulat-montok dengan rambut abu-abu yang disanggul, menatap galak sambil menilai kami.
Miss Robinson menepuk tangan dan meminta perhatian, yang ternyata tidak terlalu berhasil. Dia berteriak agar anak-anak diam. Para siswa di dekat jendela tetap mengobrol. Dengan kilatan marah di mata, dia menaikkan sesuatu ke udara; sebatang tongkat kayu tebal berpinngiran logam yang telah penyok-penyok mungkin karena terlalu sering mencium bokong para pembangkang. Dia mulai memukul-mukulkan tongkat itu ke ujung mejanya.
Saat itulah saya mengira-ngira jarak ke pintu. Hal pertama yang kami lakukan adalah mempelajari peraturan. Duduk manis. Di tempat dudukmu dengan punggung lurus di kursi plastik. Dilarang bicara kecuali diajak bicara oleh guru. Dilarang mengunyah permen karet. Dilarang melempar bola. Dilarang memaki. Dilarang menjuling-julingkan mata. Dilarang pasang tampang lucu. Dilarang bersendawa. Dilarang tertawa. Dilarang bertanya kecuali selama waktu bertanya; dilarang menjawab kecuali guru. Antrelah. Jangan membuat kotor atau berguling-guling di rumput selama jam istirahat. Minta izinlah apabila hendak ke kamar mandi. Jangan terlalu heboh. Jangan bercanda. Harus tertib. Lakukan segalanya secara berurutan. Hal terpenting adalah rapor, yang dia sebut sebagai kunci untuk “hidup sukses”.
Kira-kira lima belas menit kemudian, saya tahu kelas ini bukan untuk saya. Saya membayangkan teman-teman kecil saya diluar, pada hari dibulan September yang cerah itu, sedang bermain di bundaran di ujung jalan rumah kami. Saya tahu mereka sedang bersiap-siap untuk bermain bola atau bertualang menjelajah salah satu hutan di dekat sana, mengamati kodok, berburu hantu, atau menyelamatkan anjing tersesat. Bagi pikiran kanak-kanak saya, inilah yang terasa seperti kunci untuk hidup, bukan sebuah rapor.
Saya bangkit dan melangkah manuju pintu.
“Duduk, Robert!” perintah Miss Robinson. Semua mata tertuju kepada saya. Sejenak saya ragu-ragu. Dia mengitari mejanya, tongkat kayu dalam genggamanya. Saya melompat ke pintu. Sorak-sorai anak-anak meledak di ruangan itu.
“Berhenti!” teriak Miss Robinson.
Begitu sampai di sudut lapangan bermain dan melompati pagar, saya berhadapan dengan sekelompok anggota patroli keamanan para siswa kelas lima dan enam yang kembali dari menjaga persimpangan jalan dan tengah dalam perjalanan menuju kelas.
“Hentikan dia!” pekik Miss Robinson dari pintu keluar-masuk. Sepatu saya terikat kuat dengan simpul ganda. Saya tak pernah menoleh lagi.
Jarak persis antara halaman sekolah dengan pintu samping rumah saya adalah tiga setengah blok. Teman-teman saya yang berusia empat tahun, yang ternyata memang sedang bermain bola di bundaran, bersorak ramai saat melihat saya berlari menaiki bukit curam terakhir menuju rumah, dikejar oleh seseorang berukuran dua kali tubuh saya dengan sabuk putih menyilang di dadanya dan sebuah lencana perak.
Jika Semua Orang Melakukanya, Jangan Lakukan.
Saya memulai kehidupan sekolah dengan kaki (baca: Awal) yang salah. Namun, setidaknya itu adalah kaki saya sendiri. Saya selalu ingin belajar bagaimana hidup itu dan bagaimana dunia sebenarnya berjalan. Hal-hal semacam itu tidak selalu ditekankan dalam kurikulum sekolah.
Salah satu hukum tidak tertulis yang akhirnya saya yakini adalah “Jika semua orang melakukannya, jangan lakukan.” Bertahun-tahun sudah saya belajar bahwa saat menggunakan pendekatan ini, banyak individu di segala bidang pekerjaan dalam hidup ini akan mampu membangkitkan lebih banyak yang terbaik dalam diri mereka.
Apabila kita menyembunyikan orisinalitas kita, kesejatian kita, kita akan terputus dengan sumber vitalitas dan inisiatif kita. Pembelajaran dan pencapaian terbesar tidak berasal dari pekerjaan kelompok dengan standar tertentu, tetapi dari upaya-upaya unik individu. Dalam hal ini, jiwa manusia memiliki perangkat aturan sendiri. Dalam banyak hal, jiwa manusia bersifat memberontak. Perintah untuk menjalani hidup dengan berbeda, dengan cara kita sendiri, terus terbangun sampai mendobrak permukaan. Setelah itu, terserah kita untuk tidak membiarkannya berangsur-angsur hilang.
Saat Rosa Parks menolak melakukan apa yang dilakukan semua orang pada suatu malam Desember 1955, sejarah Amerika pun berubah selamanya. Saat itu, dia sedang dalam bus,di penghujung hari kerja yang panjang. “Aku sedang duduk di kursi sdepan tempat penumpang kulit hitam,” demikian dia bercerita, “dan orang-orang kulit putih duduk di kursi tempat penumpang kulit putih. Semakin banyak penumpang kulit putih yang naik, dan itu membuat kursi di bagian kulit putih menjadi penuh sesak. Apabila itu terjadi, kami orang-orang kulit hitam diharuskan menyerahkan kursi kami kepada orang-orang kulit putih. Tapi, aku tidak bergerak. Si sopir yang kulit putih itu berkata, ‘Berikan kursinya.’ Aku tetap diam.” Keberanianya menolak menerima praktik tak berperikemanusiaan itu telah disambut sebagai momen yang menentukan dalam gerakan hak asasi manusia di Amerika.
Thomas Edoison adalah satu contoh lainya. Pada hari pertamanya bersekolah, Edison diantarkan pulang oleh guru taman kanak-kanaknya. Si guru berkata kepada orangtuanya, “Dia bodoh dan tak bisa diajari.” Edison mengenang, “Nilaiku selalu terendah di kelas. Aku merasa guru-guruku tidak melihat potensi dalam diriku dan ayahku berpikir aku bodoh.”
Nyaris tuli, dipecat dari tak terhitung banyaknya pekerjaan awal, Edison dengan sengaja maju ke arah yang berlawanan dengan cara berfikir konvensional. Hasilnya, dia memainkan peran utama dalam hal penemuan abad ke-20. Dia mewariskan kepada kita 6.000 penemuan yang mengubah dunia, tiga juta halaman catatan serta diagram, dan menerima pujian karena membangun kerja sama kelompok ilmiah.
Contoh lain lagi yang terdorong untuk melangkah berlawanan dengan apa yang dilakukan orang kebanyakan adalah “Lone Eagle”, Charles Lindbergh. Kebanyakan kita mengenal dia sebagai pilot The Spirit of St. Louis, orang pertama yang terbang solo melintasi Lautan Atlantik. Tak banyak di antara kita yang tahu bahwa sebagai seorang peneliti di Rockefeller Institute, dia membuat takjub dunia kedokteran dengan menemukan mesin pemisah darah serta hati dan paru-paru buatan. Alat-alat penyelamat hidup ini berkembang dari keinginan kuatnya untuk melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain. Saat tak ada orang lain yang mau menerbangkan persediaan serum radang paru-paru dari Wisconsin ke Qubec untuk menyelamatkan nyawa salah seorang kawan terdekatnya, dia sendiri yang melakukannya.
Saat dewan keluarga Cooper mengadakan rapat untuk membahas masalah kebolosan saya, saya diperingatkan keras bahwa membaca, menulis, dan aritmatika adalah kecakapan-kecakapan yang penting,dan bahwa seorang bocah lima tahun tidak dapat membuat peraturan. Namun, dari kedipan mata Kakek, saya bisa mengetahui bahwa tak seorang pun beranggapan saya sepenuhnya bersalah. Juga dari ketegasan wajah ibu bahwa pengurus sekolah akan terdorong untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih ramah bagi anak baru. Saya diharuskan memanfaatkan waktu saya sebaik-baiknya di sekolah.
Oleh karena saya terus-menerus mengajukan pertanyaan dan menunjukkan bahwa saya mau bekerja keras pada hal-hal yang penting,kelihatanya banyak di antara guru saya bahkan Miss Robinson yang mulai mengesampingkan egonya untuk memperlakukan saya sebagai seorang individu ketimbang hanya sebagai salah satu siswa-siswi tahun itu.
Saat duduk di kelas lima dan enam, saya menjadi anggota patroli keamanan. Saya membantu melindungi anak-anak lainya dari orang asing dan serudukan mobil, tetapi saya tidak pernah menguber-uber siapa saja yang berlari pulang. Kalau bisa, saya berbicara denganmereka atau berlari di samping mereka, jiwa yang bebas ternyata bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Tanpa kebebasan jiwa,tak seorang pun menonjol dalam kumpulan orang banyak.
Ditulis oleh Robert K. Cooper
Iklan ada di sini

Komentar