Tentang Kakek
Cara kita melakukan sesuatu bergantung pada tujuan yang ingin diraih; inilah yang menjadi sejarah kita masing-masing.
-Thoreau
Tak masalah berapa lama kita bekerja, tak soal betapa sedikit kita tidur, bukan soal betapa keras kita mencoba, sangat sedikit dari kita yang mencapai hidup seperti yang kita bayangkan atau harapkan. Ada jalan lain.
Setiap hari, saya sangat
bersyukur atas tantangan kakek saya yang diberikan sejak dini kehidupan saya
yang mendasari tantangan dan janji yang saya teruskan kepada anda.
Ayah saya bekerja berjam-jam
sehari dan sering pergi ke luar kota saat saya kecil. Ayah adalah seoarang pria
yang mencintai keluarganya, tetapi pekerjaannya, termasuk mengabdi kemanusiaan
pada beberapa organisasi kesehatan dunia dan di kapal rumah sakit USS HOPE, menyedot
energinya untuk waktu yang lama. Pada sejumlah kesempatan, kedua kakek saya
menjalankan peranya dengan menghabiskan waktu ekstra dengan saya. Mereka
berbagi pandangan dan pelajaran hidup mereka yang kemudian sangat berpengaruh
pada pandangan hidup saya sendiri.
Hugh Cooper, Sr. Adalah seoarang
surveyor, pejabat, guru, dan inspektur sekolah. Di antara berbagai benda
memorabilia di mejanya, ada sebuah pigura perak yang diberikan kepadanya saat
kakek masih anak-anak pada akhir 1880-an. Terbingkai secarik kertas kuning
bertulisan tinta pulpen; “berikan yang terbaik kepada dunia dan yang terbaik
pula akan kembali kepadamu.”
Di ruang kerja sambil menanti
kakek pulang dari rumah sakit setelah serangan jantungnya yang keempat, saya
mengamati piagam itu. Saat itu, saya baru empat belas tahun.
Sesudah setiap serangan jantung
sebelumnya saat itu, belum ada operasi bypass
jantung dokter-nya dengan sungguh-sungguh selalu bilang bahwa tak ada yang bisa
dia lakukan; Kakek hanya mendapat perpanjangan waktu. Dan, setiap kali kembali
dari ujung kematian, Kakek akan memanggil dan meminta saya datang ke rumahnya
untuk berbincang tentang hidup dan apa yang paling utama. Saat-saat itu, kakek
tidak yakin akan masa depannya dan meminta saya segera menemuinya begitu kakek
kembali ke rumah. Kakek mencintai saya dan kakek punya sesuatu yang penting
yang diberitahukan kepada saya.
Saya mendengar pintu depan
terbuka dan segera nenek, terlihat khawatir, membantu sang suami berjalan,
disangga dua tongkat, menuju sofa kesayangan kakek. Duduk dengan susah payah,
kakek meminta saya mengambilkan pigura perak kecil dari mejanya dan duduk di
samping Kakek.
“Mereka bilang, aku tak akan
hidup,” ujar kakek ketika saya mendekatinya. “Aku dengar dokter-dokter itu
bicara saat mereka mencoba membuat jantungku tetap berdetak. Mereka bilang, tak
seoarang pun bisa tetap hidup. “Kakek mengedip kepada saya; matanya merah
tetapi memancarkan semangat hidup. “ Mereka salah kan, Robert? ”
Meskipun saat itu adalah bulan
Maret yang dingin, sinar matahari yang hangat memenuhi ruangan melalui jendela
saat kami duduk bersama.
“Setelah kupikir-pikir,” kata
kakek, sambil menunjuk ke bingkai perak dan memandang kalimat yang tertulis, “
selama ini kurasa aku tahu apa makna kata-kata ini. Sederhana saja. Kau
memberikan yang terbaik atau tidak. Pertama, kau pergi sekolah dan berusaha
keras untuk mendapatkan nilai yang baik...” Kakek menarik napas.
Kakek adalah anak pertama dari
tujuh bersaudara yang menamatkan SMU-nya. Kemudian, Kakek meneruskan ke
perguruan tinggi dan pada pergantian milenium masa itu, meraih gelar masternya.
“Lalu, Kakek melanjutkan, “begitu kau mendapat kerja, kau datang tepat waktu
setiap hari dan bekerja keras. Ini berarti kau memberikan yang terbaik. Dengan
demikian, hasil terbaik akan datang kembali kepadamu, dalam bentuk gaji dan
kebanggan.”
Kakek memandagku dengan
sungguh-sungguh seperti biasanya. “Selama hidup, aku telah melakukan hal yang
salah, “ katanya.
“Apa maksud Kakek?”
“ Di rumah sakit, aku memikirkan
orang-orang sangat luar biasa yang kukenal. Mereka adalah orang-orang yang
terus maju saat orang lain menyerah; orang-orang yang menemukan cara saat yang
lainya menganggap hal itu tidak bisa dikerjakan. Mereka tidak hanya menetap di
satu pekerjaan atau bekerja keras. Mereka meraih sesuatu yang lebih dalam dan
menemukan sesuatu yang lebih. Mereka membuat sebuah perbedaan yang lebih baik.
Aku tak percaya mereka memahami kata-kata ini” Kakek memegang bingkai itu
sehingga kami berdua bisa melihat piagam tersebut “seperti aku memahaminya
selama ini.”
“Aku ingat orangtuaku dan orang
dewasa lain di kampung halamanku berkata, Belajar dan bekerja keraslah, tapi
jangan biarkan mimpimu semakin tinggi. Jika kamu membiarkanya, kamu hanya akan
kecewa. Belajarlah menyesuaikan diri dan mengikuti arus ‘, kata mereka, itulah
yang dilakukan para orang sukses. Aku jadi sangat ahli dalam menyesuaikan diri
dan mengikuti arus.” Suara Kakek melemah.
“Robert, kau akan mendengar hal
yang sama dari orang-orang di sekitarmu. Maksud mereka baik, tapi itu salah.
Bagaimana seandainya aku tidak menerima hal itu? Bagaimana jika setiap hari
kupertanyakan definisi terbaik yang sebelumnya kuyakini? Apa yang akan terjadi
jika lebih kudengar nuraniku alih-alih kata orang-orang itu? Tentunya aku akan terus
mencari semakin dalam dan memberikan pada dunia lebih dari yang terbaik selama
ini tersembunyi dalam diriku.”
“Dan jika aku melakukan hal itu,”
ujar Kakek, “ hal yang lebih baik dari yang terbaik akan kembali kepadaku, dan
kepada keluarga ini, dan kepadamu, Robert. Namun, itu tak terjadi,” tambahnya,
“karena aku tidak melakukanya.”
“Nah, inilah tantanganku
kepadamu, hidupkanlah kata-kata ini.” Kakek menyerahkan bingkai itu kepada
saya. Pigura itu tak dilapisi kaca; jari saya menelusuri kata-kata itu dan
merasakan kertasnya yang rapuh. “Tapi, Kek, “saya menyahut, bukanya ingin
mengecewakan Kakek, melainkan tidak yakin bagaimana memenuhi permintaanya,
“mungkin saat aku lebih dewasa...”
“Usia tidak berhubungan dengan
hal ini. Setiap hari kau bisa lebih mempelajari sesuatu tentang dirimu dan
semua potensi yang tersembunyi dalam dirimu. Setiap hari kau bisa memilih
menjadi dirimu yang lebih baik daripada sebelumnya. Kuminta kau mulai
melakukanya sekarang juga.”
“Tapi bagaimana? “
“Dengan melihat ke dalam dirimu
sendiri. Dengan menguji kemungkinan-kemungkinan baru. Dengan mencari apa yang
terpenting bagimu, Robert. Sedikit orang yang melakukan hal itu untuk kita
semua. Malahan, kita menahan napas. Kita memalingkan muka. Kita hanya mengikuti
atau terseret arus. Kita mempertahankan yang sudah ada. Kita berkata, ‘Ini
sudah cukup. Kuharap, saat kau bangun suatu pagi kau tidak berkata, ‘Selama ini
kujalani hidup yang salah dan kini sudah terlambat untuk memperbaikinya. “
Pada usia semuda itu, saya bisa
melihat penyebab kepedihan penyesalan Kakek, dan bahkan saya bisa mengenali
bahwa pemberian Kakek adalah kejujuran kata-kata yang ingin Kakek sampaikan
kepada saya.
“Robert, kita semua hampir tidak
menggunakan potensi kita yang ada. Sekarang, tergantung pada dirimu untuk
menjadi orang yang paling ingin tahu dan
teruslah bertanya pada dirimu sendiri, Apakah yang terbaik pada diriku?
Teruslah temukan jawaban itu setiap hari untuk diberikan kepada dunia. Jika kau
melakukan hal itu, aku percaya bahwa hal yang jauh lebih baik daripada yang
terbaik yang pernah kubayangkan dan dalam banyak cara lebih daripada sekedar
uang akan kembali kepadamu.”
Dan, begitulah. Di samping perjuangan
dan kesalahan yang saya buat sepanjang hidup, saya mendapatkan bahwa ada banyak
kesempatan bagi kita semua yang tak terbatas oleh pikiran dan kesan kita. Hal
yang kakek saya sadari saat sudah terlambat, yang belum beliau lakukan, beliau
tantangkan kepada saya untuk melakukanya.
90% Potensi yang tersembunyi
Kecerdasan dan semangat manusia
adalah kreasi terhebat yang kita kenal, tetapi sebagian besar dari kita
menggunakan kepandaian atau kekuatan kita itu baru dalam persentase yang sangat
kecil. Ibaratnya, pada waktu lahir kita masing-masing diberi sebuah pesawat
jet. Pesawat tersebut bisa terbang pesawat ini dibuat untuk terbang tetapi kita
tidak bisa melihatnya; kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita punya. Jadi,
yang kita semua lakukan adalah mengelap sayapnya atau memanaskan mesinya setiap
pagi hanya untuk efek suaranya, lalu menutup pintu hangar seharian.
Begitu menerima tantangan Kakek,
saya hanya sedikit menyadari bahwa hal itu akan membentuk tak hanya hidup
pribadi saya, tetapi juga jalan profesional saya bertahun-tahun kemudian
setelah kematian kakek. Tantangannya telah mengalihkan saya ke kehidupan
pembelajaran dan kepemimpinan secara independen dari perspektif yang berbeda,
bagaikan orang awam mencari segala kemungkinan manusiawi yang tersembunyi. Hal
ini mendorong saya untuk melakukan perjalanan jauh dan juga mengamati dunia
lebih dekat di mana pun saya berada, mempertanyakan aneka pertanyaan yang tak
biasa tentang bagaimana setiap orang-orang melakukan hal-hal istimewa: para
penemu, orangtua, anak-anak, guru, pemimpin
bisnis, pemikir, dan para pelaku kehidupan ini. Dari waktu ke waktu,
saya menyaksikan mereka melakukan hal-hal yang tak mungkin, melawan semua
keganjilan. Tindakan mereka, besar ataupun kecil, telah mengubah saya, merentang
cara berfikir saya, dan lebih membangunkan hati dan semangat saya selamanya.
Saya bukanlah orang yang sama seperti dahulu.
Kakek saya percaya pada pepatah,
“Kita menggunakan hanya 10% potensi yang kita miliki selama hidup.” Lalu,
bagaimana dengan selebihnya, tanya kakek. Itulah sebabnya kakek memberikan
kesempatan kepada saya untuk menemukan apa yang kami sebut “ 90% potensi yang
tersembunyi atau potensi-raksasa yang tertidur”. Kakek pun takjub saat
mengetahui bahwa beberapa tahun sebelumnya, para bijak bestari mengubah
pendapat: penelitian menunjukkan bahwa kita menggunakan bukanya sepersepuluh, melainkan seperseribu kemampuan kita.
Setiap kali kakek mendapati saya
dalam pencapaian sedikit di atas batas, perjuangan dengan kebiasaan, atau
penghabisan banyak waktu atau usaha mencoba menghasilkan sedikit manfaat,
beliau akan berkata, “Bagaimana dengan potensi raksasa yang tertidur, Robert?”
Inilah cara Kakek mendorong saya untuk mengubah cara pandang saya, melihat
lebih dalam, dan berhasrat mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang
tersembunyi.
Saya yakin bahwa terobosan yang
paling menggairahkan pada abad ini akan datang tidak hanya dari kemajuan
teknologi, tetapi juga dari realisasi lebih dalam tentang makna bagi sebagian
besar manusia dan kehidupan. Banyak pilihan yang secara dramatis bisa mengubah
hidup kita adalah hal kecil dan mudah diraih, tetapi hanya sedikit orang yang
bisa mengenali atau mengetahui bagaimana menerapkan hal itu.
Wiliam James, seoarang perintis
dalam filosofi dan psikologis mengatakan, “Semua kehidupan adalah sebuah massa
pilihan kecil praktis, emosional, dan intelektual yang diorganisasi secara
sistematis untuk kejayaan atau kegagalan kita.” Saat ditanya apakah
pilihan-pilihan ini bisa diubah, dia menjawab, “Ya, sekali setiap waktu. Namun,
jangan lupa bahwa bukan hanya mimpi besar kita yang membentuk kenyataan ... Pilihan
kecil dengan sangat menarik menunjang kita atas takdir kita.”
Selama berabad-abad, ada anggapan
bahwa terdapat batas yang besar atas kemampuan manusia. Kini, tuan rumah penemuan
ilmiah menemukan hal itu salah, tetapi cara pikir terbatas masih bertahan
menutup kita dari berbagai kemungkinan hebat kita dan meninggalkan kita dengan
perasaan yang dibombardir stres, perubahan, dan ketidakpastian. Tak soal
sekeras apapun kita bekerja, tak masalah sebanyak apa pun kita memberi, kita
masih belum mendapatkan apa yang kita harapkan.
Ada cara lain.
Garis batas berikutya bukan hanya
di depan anda, batas tersebut ada dalam diri Anda. Anda memiliki
potensi-raksasa yang tertidur dan takdir mengisyaratkan untuk bangun. Begitulah
kita semua. Tak seorang pun bisa membangunkanya di tempat Anda.
Tak ada hasrat yang ditemukan berperan kecil dalam memuaskan sebuah jiwa yang kurang daripada hasrat yang bisa membuatmu hidup.
-Nelson Mandela

Komentar