Ojo Takon Duso
Satria muda
itu betapa perkasa. Berkelebat ke sana-ke mari, menyambar-nyambar. Setiap kali
tubuhnya bergerak, seketika itu pula puluhan prajurit Kurawa bertumbangan. Para
pembesar Kurawa berkeringat dingin, antara rasa ngeri dan gelisah menyaksikan tandang
ksatria perkasa itu. Dialah Raden Gatotkaca, pangeran muda sakti mandraguna,
putra Raden Harya Wrekudara.
“Ayo para
antek Kurawa, hadapilah aku,” teriaknya dengan suara menggelegar. “Sudah habis
kesabaranku. Tanggunglah sekarang akibat dari segala kelicikan dan angakara
murka kalian. ‘Ojo takon dosa’.”
Korban pun
terus berjatuhan, para pembesar Kurawa semakin gelisah dan gentar.
Akhirnya
dengan sangat terpaksa, Adipati Karna, Raja negeri Awangga, turun ke
gelanggang. Para pembesar Kurawa merasa hanya Adipati Karna lah yang
mampu mengatasi kesaktian Gatotkaca. Adipati Karna sendiri sebenarnya enggan
untuk turun ke gelanggang; karena selain Gatotkaca adalah keponakannya sendiri,
satu-satunya senjata yang dapat menaklukkan Gatotkaca, yaitu Kunta Wijayandanu,
adalah senjata sekali pakai yang dipersiapkannya untuk mengalahkan Arjuna.
Namun Gatotkaca harus segera dihentikan; kalau tidak, peperangan akan berakhir
lebih awal dengan kekalahan di pihak Kurawa.
“Berhentilah
Gatotkaca,” teriak Adipati Karna sambil mengeluarkan senjata pusaka andalannya,
Kunta Wijayandanu. “Kalau masih sayang nyawamu, pulanglah. Jangan ikut campur
urusan kami orang dewasa.”
Gatotkaca
terhenyak menyaksikan senjata di tangan Adipati Karna. Melihat senjata sakti
itu, Gatotkaca sadar, mungkin waktu kematiannya sudah tiba. Alih-alih
menghentikan amukannya, Gatotkaca justru semakin mengganas menghabiskan
sebanyak mungkin pasukan Kurawa.
Akhirnya
Adipati Karna pun melepaskan senjatanya yang meluncur deras ke tubuh
Gatotkaca, sambil berbisik lirih: ‘Ojo takon dosa’.
***
Entah
mengapa, Frasa ‘ojo takon dosa’ yang sering aku dengar saat menonton
wayang waktu kecil ini, terasa begitu menarik. Dalam berbagai adegan wayang,
khususnya saat suasana genting dan membutuhkan penyelesaian keras, frasa ini
kerap digunakan. Secara harafiah, frasa yang berasal dari bahasa Jawa ini
berarti “Jangan tanya dosa”.
Dibalik
frasa ‘ojo takon dosa’ ini ada peringatan kepada seseorang untuk tidak
bertanya atau komplain “Apa salah dan dosaku?”. Kalau dibuat dalam kalimat
lebih lengkap, arah dari frasa ‘ojo takon dosa’ ini mungkin seperti
berikut: “Jangan tanya dosa, selama ini engkau sudah tahu kesalahan apa saja
yang kau lakukan. Inilah akibat yang harus kamu tanggung”.
Atau bisa
pula seperti ini: “Jangan tanya dosa, engkau sudah tahu mana yang baik dan mana
yang buruk, tapi yang buruk kau terjang juga. Sekarang rasakanlah
akibatnya”.
Atau mungkin
pula seperti ini: “Jangan tanya dosa, inilah kenyataan yang harus kamu hadapi.
Setuju atau tidak setuju, hadapilah kenyataan ini, jangan mengeluh.”
‘Ojo
takon dosa’ hakikatnya merupakan
tanggapan terhadap orang yang sedang atau akan menghadapi situasi buruk sebagai
akibat dari perbuatan atau kelakuannya sendiri. Frasa ini bernilai himbauan
kepada seseorang untuk menerima segala akibat yang akan atau sedang ditanggung,
sekaligus peringatan bahwa selama ini ia telah melakukan kesalahan-kesalahan
hingga layak mendapatkan balasan seperti yang dirasakan sekarang.
‘Ojo
takon dosa’ juga merupakan sindiran,
mengapa selama ini tidak muhasabah dan instropeksi, sehingga jalan yang
ditempuh salah, keputusan yang diambil keliru, atau tindakan yang dilakukan
justru merugikan diri sendiri dan orang lain. Sekarang, mau atau tidak, akibat
harus ditanggung, beragam kepahitan harus dipanen.
Ketika
pandemi Covid-19 merebak, ketika bencana alam melanda, ketika kesulitan demi
kesulitan hidup menerpa, banyak orang mengeluh, “Apa salah dan dosaku, Tuhan?”.
Keluhan semacam ini mengindikasikan dua hal: Pertama, kurangnya
kesadaran dan kemampuan untuk muhasabah, membaca kembali
lurus-bengkoknya jalan hidup yang selama ini dijalani. Kedua,
menganggap diri sudah baik dan benar sehingga tidak layak mendapatkan anugerah
kesulitan hidup dari Tuhan.
Lebih jauh
keluhan “Apa salah dan dosaku?” ini juga mengandung konotasi blaming
god, menyalahkan Tuhan tentang apa yang sedang terjadi. Samar
tersirat disitu gugatan kepada Tuhan bahwa “Aku ini sudah baik dan benar,
mengapa Tuhan masih begitu tega menghukum aku?” Padahal, apa ukuran kita sudah
pasti baik dan benar? Dan apa dasarnya kesulitan yang menimpa ini adalah
siksaan yang semata hukuman dari Tuhan dan bukan akibat perbuatan kita sendiri?
Maka jawaban
yang tepat untuk menjawab keluhan “Apa salah dan dosaku, Tuhan?” adalah ‘ojo
takon dosa’. Tidak dalam arti harafiah bahwa kita memang tidak punya dosa,
namun dalam arti “Bukankah kita sudah tahu seperti apa dan sebanyak apa
dosa-kesalahan yang telah kita lakukan?”
Allah sudah
menyatakan melalui Rasul dan kitab suci-Nya, bahwa dosa dan maksiat akan
menggelapkan hidup pelakunya sendiri. Kalau kita nekad merutinkan dosa atau
maksiat, dan kemudian hidup kita terasa gelap dan gelisah, maka ‘ojo takon
dosa’.
Allah
menganugerahkan akal budi sebagai bekal untuk kita mengelola kehidupan di muka
bumi ini. Kalau kita justru mengharamkan pemanfaatan akal-budi itu untuk
memahami ayat-ayat-Nya, baik yang tertulis maupun yang tergelar,
dan akibatnya begitu kacau-balau tata hidup kita, maka ‘ojo takon dosa’.
Selain
menakdir pandemi, Allah juga menganugerahkan pengetahuan melalui para ahli
tentang virus Covid-19 ini, lalu para ahli memberi petunjuk kepada kita tentang
bagaimana menghadapi virus ini agar tidak tertular. Kalau kita mengabaikan
petunjuk dari para ahli tersebut, kemudian terpaparlah kita oleh virus sehingga
menjadi penderita, maka ‘ojo takon dosa’.
***
Persis
seperti siang itu, ketika seorang mahasiswa menghadap kemudian mengkonfirmasi
nilai ujian yang tiga bulan lalu aku keluarkan.
“Mohon maaf
Bapak,” sapanya dengan wajah setengah memelas. “Baru sekarang saya konfirmasi.
Mengapa nilai saya semester ini di kelas Bapak tidak terlalu bagus ya. Salah
saya apa ya Pak?”
“Wah, saya
tidak hafal satu-satu nilai mahasiswa mas,” jawabku diplomatis.
“Kira-kira semester kemarin sampeyan aktif ikut di setiap
sesi kuliah kita atau tidak, kok saya jarang lihat sampeyan?”
“Mohon maaf
Pak, semester kemarin saya memang tidak pernah ikut kelas, khususnya setelah
model kuliah berubah menjadi online. Saya tidak suka kuliah jarak jauh, Pak ”
jawabnya datar, sambil menimang-nimang HP Samsung S10-nya.
“Oke, tapi
kan kita juga menyepakati, bagi yang kesulitan ikut kelas online,
diganti tugas. Apakah sampeyan sudah mengumpulkan tugas yang
dimaksud?”
“Mohon maaf,
pak. Saya lupa belum mengumpul tugas.”
“Baiklah,“
kataku kemudian. “Terus kemarin untuk ujian akhir saya juga memberikan tugas.
Apakah tugas ini juga sudah sampeyan kumpulkan.”
“Belum, pak.
Rencananya saya baru akan mengumpulkan hari ini.”
Aku pun
hanya bisa geleng-kepala. “Ooo, kalau begitu ya ‘ojo takon dosa’”

Komentar