Sekolah Itu Bakat
Mencari
ilmu itu wajib, sekolah itu bakat . Kalimat
indah ini aku dapatkan bukan dari seorang filosof, guru, atau orang suci mana
pun, namun dari adikku sendiri. Ya, adik kandungku sendiri yang saat itu
sedang merangkai alasan karena enggan melanjutkan kuliah oleh Bapak. FYI,
bagi kami, kuliah itu sejenis juga dengan sekolah. Di tempat kami, kalau
ada kalimat “ sekolah sing duwur ” itu maksudnya adalah
melanjutkan ke perkuliahan.
“Sejujurnya
aku ini merasa tidak bakat sekolah”, tuturnya saat itu.
“Tidak seperti sampeyan ,
Mas”, katanya sambil menunjuk padaku. “Saya tidak merasa betah menekuni
buku-buku. Aku tidak suka dikejar-kejar tugas atau ditakut-takuti dengan
ujian. Aku tidak merasa nyaman dengan segala macam rutinitas dari pagi
sampai sore tanpa mempedulikan dinamika dan pasang-surut lahir-batin kita”.
“Ya, cari
saja jurusan dan model kuliah yang sesuai dengan keinginanmu”, jawabku saat
itu.
“Sama saja
Mas, kalau formatnya masih sekolah, jangan jauh-jauh dari rutinitas yang
menimpa itu?”, bantahnya.
“Sekarang
sekolah itu jenisnya macam-macam, tidak sesederhana yang kau bayangkan”, kucoba
menjelaskan.
“Para ahli
dan pelaksana pendidikan juga tidak seburuk yang kau kira. Pastilah mereka
juga sadar tentang situasi yang kau keluhkan itu. Aku tahu ada sangat
banyak jenis dan model sekolah atau kuliah. Salah satunya mungkin cocok
dengan keinginanmu?”.
“Sudahlah
Mas, rasanya memang sekolah itu bukan bakatku. Ada banyak hal lain yang
lebih produktif yang bisa saya lakukan selain dari diri saya di
sekolah. Kalau aku paksakan, takutnya hasilnya hanya hilang biaya, hilang
waktu, dan hilang tenaga. Jelasnya, saya ingin bekerja saja. Aku tahu
bahwa aku tidak boleh berhenti menambah ilmu, tetapi tidak harus dengan
sekolah?”.
“Mencari
ilmu itu wajib, namun sekolah itu bakat,” demikian pengasannya ringkas.
Aku
diam. Sesungguhnya sangat bisa kupahami apa yang ada
dipikirannya. Namun membiarkan ia berhenti sekolah juga rasanya agak
gimana .
Sebenarnya
bisa saja aku mendebatnya dengan aneka teori yang menjelaskan apa yang dimaksud
bakat, termasuk bagaimana ia terbentuk dan bisa diubah. Namun
memperdebatkan teori dalam situasi semacam ini rasanya hanya akan menambah
kerumitan masalah dan tidak produktif, karena sebenarnya aku memahami situasi
yang dirasakannya sekaligus tahu apa yang diinginkannya.
Selanjutnya,
entah dapat wangsit dari mana, aku membombardirnya dengan rangkaian petuah dan
nasihat. Muncullah gayaku yang sok kakak .
“Adikku, aku
salut terhadap pandanganmu ini. Pertama, menunjukkan pada Anda memiliki
kesadaran tentang kesadaran, di saat banyak orang lain hanya 'mengalir' dan
mengikut arus saja tanpa berpikir. Kedua, menunjukkan bahwa engkau
memiliki prinsip, tidak ingin berbeda atau ingin enakmu sendiri, namun engkau
memiliki dasar dan argumen atas keputusanmu”.
“Mencari
ilmu itu wajib, namun sekolah itu bakat, aku setuju. Tidak semua orang
memiliki bakat sekolah dengan sistem yang selama ini kita kenal. Tidak
semua orang menjalani rutinitas sekolah, hadir hampir setiap hari, kesediaan
untuk diuji, diukur secara kompetitif dan kuantitatif, juga diperlukan untuk
setia kode etik, administrasi, dan pegawainya. Bagi orang tertentu,
suasana semacam itu memang akan membuat tidak kerasan”.
“Aku sangat
memaklumi apa yang engkau keluhkan, karena sebenarnya aku juga tidak terlalu
berlebihan dengan pakem-pakem atau sistem pembakuan yang mengasumsikan kesamaan
daya dan gaya setiap manusia, termasuk dalam dunia pendidikan”.
“Sekolah
secara umum tidak terlalu telaten Mengidentifikasi dan melayani Keragaman daya
dan gaya ini. Ada tipe orang yang suka menyendiri saat belajar, ada yang
suka belajar bersama dalam keriuhan. Ada yang nyaman belajar dengan cara
dialog, ada yang lebih memilih membaca sendiri, bahkan ada pula yang lebih
paham saat mendengarkan. Ada 'tipe perpustakaan' yang passion belajarnya
terdapat dalam penelitian pustaka dan referensi, ada pula tipe 'lapangan'
yang passion belajarnya terdapat dalam terjun langsung
menjelajahi arena nyata kehidupan”.
“Aku
sendiri, sering heran melihat fenomena dan tuntutan-tuntutan 'penyeragaman' ini
dalam banyak situasi sehari-hari. Fenomena penyeragaman ini kadang muncul
dalam bentuk aturan yang kaku atau melalui keputusan yang otoriter; yang
tidak menerima kemungkinan kejadian dan tidak menyiapkan mekanisme untuk
mewadahi keragaman, termasuk dalam dunia pendidikan”.
“Keherananku
ini sebenarnya berkait pula dengan tanggapanku terhadap teman-teman dan
sahabatmu itu, yang sering membandingkan seseorang dengan orang lain, lalu
mengunggulkan yang satu dan menjatuhkan yang lain, dengan dasar tipe ideal atau
standar baku yang ada di kepalanya”.
“Bahkan
kalau kuperhatikan, aku pun sering tanpa sadar menuntut standar yang sama
kepada semua orang”.
“Kembali ke
soal sekolah itu adikku. Aku setuju dengan keputusan dan sikap yang kau
pilih. Mungkin passion -mu dalam mencari ilmu memang
tidak melalui institusi formal yang bernama sekolah, namun dalam bentuk yang
lain. Tetapi tetap saja, jangan bosan dan berhenti menambah ilmu, karena
bukan merupakan kewajibanmu, kualitas dan keindahan yang akan didapat nantinya
akan banyak ilmu. Terserah yang kau pilih untuk menetapi jalan kewajiban
itu”.
“Selanjutnya,
engkau pun harus adil dalam menilai. Sekolah mungkin tidak sesuai untuk
sebagian orang, namun bukan berarti tidak sesuai untuk semua orang. Bagi
sebagian besar orang, sistem sekolah yang Anda keluhkan itu, justru merupakan
sistem yang cocok dan sesuai untuk pertumbuhan dan pengembangan kualitas
dirinya”.
“Maka engkau
harus selalu ingat, prinsip yang sama yang menurutmu benar-benar sesuai dengan
pengalamanmu, tidak selalu benar dan sesuai dengan kehidupan orang lain, karena
mereka pun memiliki pengalamannya sendiri. Engkau tidak boleh
menanam-paksakan prinsip-prinsip dan kebenaranmu kepada teman-temanmu atau
anak-anakmu kelak, tanpa mempertimbangkan situasi dan maqam hidup
mereka masing-masing. Tidak semua orang memiliki etos dan kualifikasi
mental Anda sendiri, karena pengalaman hidup setiap orang sama. Setiap
orang memiliki sejarah intelektual, mental, dan sosialnya sendiri-sendiri”.
“Tidak
masalah jika engkau tidak memerlukan ijazah atau gelar. Namun jangan kau
rendahkan mereka yang memang memerlukan ijazah dan gelar demi masa
tersedia. engkau tidak memahami situasi mereka”.
“Bahkan
harus aku katakan: pengalaman hidup dan dialektika dalam dunia pendidikan formal
itu, seperti apa pun bentuk-bentuknya, juga memiliki manfaat dan keuntungannya
sendiri. Langsung atau tidak, vital atau tidak, kontribusi sekolah dalam
kehidupan ini tidak dapat dianggap kosong belaka, termasuk unsur-unsur
simboliknya seperti gelar dan ijazah. Sebagai kelengkapan hidup, ijazah
dan gelar itu, dalam momen dan situasinya yang tepat, juga memiliki nilai dan
urgensinya sendiri”.
“Sebagaimana
semakin tangguh menghadapi hidup ini jika semakin banyak ilmu, demikian pula
akan semakin tangguh pula jika memiliki fasilitas dan andalan hidup yang
beragam, termasuk ijazah dan gelar”.
“Sering
kuilustrasikan, ilmu itu ibaratnya senjata, dan sebenarnya ijazah dan gelar pun
dapat diibaratkan sebagai senjata. Semuanya bermanfaat dan menyajikan
maslahat saat didayagunakan dalam situasi dan arena yang tepat”.
“Tentu saja,
kepemilikan fasilitas dan andal hidup tersebut juga mempersyaratkan kebenaran
dan kebenaran dalam proses pemerolehannya dan penggunaannya. Jika tidak,
maka lebih baik memang tidak dimiliki saja”.
“Maka
adikku, jalankanlah hidup sesuai dan kesadaranmu, sebagai manusia yang
sepenuhnya dewasa dan bertanggung jawab atas hidupnya”.
Pada
akhirnya, adikku secara istikamah memegangi prinsipnya, dihindarinya dunia
akademik-ilmiah, dan kemudian bersenang-senang dengan dunia kerja dan
bisnisnya, sampai pada level alhamdulillah.
Setiap kali ada masalah yang harus ia jawab, dengan cerdik biasanya dia berkata: “Maaf, cinta sajalah kepada yang sekolah, kebetulan sekolah saya tidak terlalu tinggi…”. kemudian ada pertanyaan: “Mengapa kok dulu tidak melanjutkan sekolah?”, sambil tersenyum ia akan menjawab; “Tidak punya bakat.”
_______________________________
Ditulis Oleh Dr. Fahruddin Faiz, M. Ag ( Pengampu Ngaji Filsafat Masjid Jenderal Sudirman)

Komentar